Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis penyuka tradisi dan spiritualitas bermukim di Semarang
Pagi di lereng Gunung Ungaran belum sepenuhnya terbangun ketika tawa anak-anak mulai memecah embun. Udara Bandungan yang sejuk menyusup di antara pepohonan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan muda. Di Desa Wisata Kreatif Perdamaian Srumbung Gunung, Poncoruso, Bawen, puluhan anak dari Kota Semarang berkumpul—datang dengan nama, latar belakang, dan keyakinan yang berbeda, namun membawa rasa ingin tahu yang sama: belajar menjadi manusia yang lebih memahami sesamanya.
Minggu itu, 11 Januari 2026, mereka mengikuti Anak Semarang Damai (SEMAI) #5, sebuah ruang belajar kebhinekaan yang pelan-pelan menanggalkan sekat-sekat identitas. Anak-anak berusia 10 hingga 13 tahun itu berasal dari beragam agama dan kepercayaan—Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga penghayat kepercayaan. Perbedaan yang kerap menjadi alasan untuk menjauh, di tempat ini justru menjadi pintu untuk saling mendekat.
SEMAI bukan sekadar kegiatan kunjungan atau wisata edukasi. Ia adalah perjumpaan. Digagas oleh EIN Institute, Ikatan Karya Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR), dan Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), program ini menyasar usia-usia ketika pertanyaan tentang “siapa aku” dan “siapa yang lain” mulai tumbuh diam-diam di benak anak-anak.
“Tidak ada anak yang lahir membawa prasangka,” kata Ellen Nugroho, Direktur Eksekutif EIN Institute, di sela kegiatan. “Prasangka itu dipelajari. Dan karena dipelajari, ia bisa dilepaskan.” Kalimat itu melayang ringan, namun mengendap lama—seperti doa yang tak diucapkan keras-keras.
Hari itu, anak-anak diajak menyelami Sapta Darma, ajaran kerohanian yang lahir pada 1952 dan telah diakui negara sebagai bagian dari kekayaan spiritual Nusantara. Di tengah masyarakat yang masih kerap salah paham terhadap penghayat kepercayaan, perjumpaan ini menjadi semacam jendela: kecil, namun memberi cahaya.
Melalui storytelling, sejarah Sapta Darma dituturkan bukan sebagai hafalan, melainkan kisah. Anak-anak lalu menyusun linimasa kelahirannya dengan tangan mereka sendiri—menempel, mengurutkan, berdiskusi. Delapan pos pembelajaran mengajak mereka mengenal Wewarah Pitu dan Sesanti, nilai-nilai yang berbicara tentang kejujuran, kesabaran, pengendalian diri, dan budi pekerti luhur. Nilai-nilai yang sederhana, namun kerap terasa mahal dalam kehidupan sehari-hari.
“Belajar tentang Sapta Darma berarti belajar menghargai cara orang Indonesia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Setyawan Budy, Koordinator Pelita. Bagi anak-anak, kalimat itu mungkin belum sepenuhnya menjadi konsep. Namun dalam pengalaman—berjalan bersama, mendengar bersama, tertawa bersama—maknanya tumbuh perlahan.
Menjelang siang, mereka menaiki odong-odong menuju Sanggar Candi Busana Blater, tempat ibadah penghayat Sapta Darma. Di sana, anak-anak menyimak penjelasan tentang simbol-simbol dan tata cara ibadah, tentang sujud yang dilakukan dengan hening dan penuh kesadaran. Tak ada penghakiman, tak ada keharusan untuk menyetujui. Yang ada hanyalah penghormatan.
“Meski jalan spiritual kita berbeda, nilai luhurnya sama,” kata Dwi Setiyani Utami, Ketua Perempuan Penghayat Indonesia (Puan Hayati) Jawa Tengah, yang menjadi tuan rumah kegiatan ini. “Mengajarkan kebajikan dan kemanusiaan.”
Bagi Debora Abigail (10), hari itu berarti teman-teman baru dari agama yang berbeda. Sementara Nareshwara Kenzie Kaharsayan (11) pulang dengan satu kesadaran kecil namun penting: cara beribadah boleh berbeda, tetapi nilai kebaikannya serupa. Barangkali, di situlah pendidikan paling hakiki bekerja—tanpa papan tulis, tanpa ujian.
SEMAI telah berjalan sejak 2018, berpindah dari klenteng ke pura, dari vihara ke gereja, dari satu komunitas religius ke komunitas lainnya. Seperti menanam benih, hasilnya tak selalu tampak segera. Namun di lereng Ungaran pagi itu, benih-benih itu ditanam dengan penuh harap.
Ketika matahari mulai condong dan anak-anak bersiap pulang, Bandungan kembali hening. Tetapi sesuatu telah berubah—di dalam ingatan mereka. Bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk takut, melainkan undangan untuk mengenal. Dan perdamaian, ternyata, bisa disemai sejak usia dini.Kegiatan yang bersifat gratis ini didukung berbagai pihak anta lain:; Bank Indonesia, Marimas Jumbo dan jejaring Anak Semarang Damai.(*)




