Dikerjakan Akhir Tahun, Proyek Normalisasi di Aceh Timur Terancam Gagal

Sumaterapost.co – Aceh Timur | Sekitar 29 Milyar anggaran untuk Proyek normalisasi alur yang sedang dikerjakan di berapa titik lokasi di seputaran Kecamatan Idi Rayeuk tidak di ketahui pihak DPRK Aceh Timur dan pengerjaannya dilakukan pada akhir Tahun 2021 hingga menuai tanda tanya besar di kalangan masyarakat Aceh Timur,
Jum’at 26 November 2021.

Informasi yang dihimpun media ini, proyek normalisasi alur dengan anggaran Rp 29 milyar sumber APBK Perubahan tahun 2021, selain ditender pada akhir tahun, perencanaan proyek tersebut juga dinilai tidak terlalu urgent, dibanding beberapa Kecamatan lain nya seperti Pante Bidari, Simpang Ulim, Indra Makmu dan beberapa daerah lainnya yang sering mengalami bencana banjir saat tingginya curah hujan.

Zukikfli warga Pante Rambong Kecamatan Pante Bidari sangat menyesalkan adanya proyek normalisasi dengan anggaran 29 milyar dan semua di tempatkan di Kecamatan Idi Rayeuk, apakah Pante Bidari yang setiap tahun banjir tidak penting dilakukan penanggulangan banjir, ujarnya.

“Bupati Aceh Timur jangan menganaktirikan, Kecamatan lain, karena Aceh Timur bukan hanya Idi Rayeuk,” kata Zulkifli yang akrab disapa Aneuk syuhada.

Baca Juga :  Sekda Kota Langsa Buka Acara Rindu Baitullah

Seorang aktivis sosial Aceh Timur lain nya Azhary menyebutkan proyek normalisasi 29 milyar sepertinya, proyek normalisasi tersebut sarat kepentingan pihak tertentu dan terkesan dipaksakan. “Kita menduga proyek tersebut sarat kepentingan kelompok tertentu dan hanya untuk mencari keuntungan semata,” ungkapnya.

“Kita sudah melakukan konfirmasi dengan PPTK, 4 paket normalisasi dengan anggaran fantastis, semuanya ditempatkan khusus di seputaran Idi Rayeuk, ini sangat mencederai rasa keadilan bagi kecamatan lain nya yang lebih parah mengalami banjir.

Kenapa untuk membangun jembatan yang rusak di terjang banjir tahun lalu tidak ada anggaran, tapi untuk proyek normalisasi dengan anggaran capai 29 milyar ada anggaran, ini sangat janggal dan diduga kuat sarat permainan, ungkap Azhary.

Ironisnya, beberapa anggota DPRK Aceh Timur saat mintai tanggapannya oleh awak media tentang proyek normalisasi tersebut, tidak mengetahui secara pasti kalau proyek empuk tersebut dianggarkan melalui APBK Perubahan tahun 2021. Mereka hanya berpikir kalau proyek normalisasi alur itu berasal dari APB Aceh.

“Yang kami ketahui proyek normalisasi itu dari APBA bukan dari APBK,” kata salah satu anggota DPRK Aceh Timur yang minta namanya tidak dituliskan awak media.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRK Atim Fraksi Nasdem Turut Berpatisipasi Pada Open Turnamen Bola Kaki Pemuda Dama Tutong Cup Ke-2

Ketika seorang reka media menunjukkan data yang telah ditender dan nama perusahaan pemenang di web LPSE, bahwa sumber anggaran berasal dari APBK Aceh Timur sempat membuat anggota dewan tersebut kaget. “Apa benar itu dari APBK Aceh Timur, kok kami tidak tau,” ujar nya.

Berdasarkan investigasi beberapa awak media ke lokasi. pada Kamis (25/11) proyek normalisasi alur yang berada di Titi Baro Kecamatan Idi Rayeuk, tampak pengerjaan normalisasi alur dan tebing hanya sebagian di keruk kiri kanan alur dan ada juga hanya sebagian lagi di keruk pada satu sisi alur.

Selain itu tampak pembersihan alur dilakukan asal-asalan, kondisi alur juga masih semak belukar, meskipun sudah di normalisasikan.

Fachrizal selaku PPTK Proyek Normalisasi alur di ruang kerjanya saat dikonfirmasi awak media mengatakan, pekerjaan proyek normalisasi itu sedang dikebut, mengingat waktu kontrak hanya 60 hari, terhitung mulai tanggal 29 Oktober 2021.

“Kita sudah mengingatkan kontraktor supaya cepat dikerjakan, mengingat waktu hanya 2 bulan, apalagi banyak kendala dilapangan seperti permasalahan lahan masyarakat dan lain nya,” kata Fachrizal.

Baca Juga :  Bupati Aceh Utara Panen Perdana Sawit Program PSR •4.975 Ha Butuh Peremajaan

Fakhrizal menjelaskan, proyek Normalisasi Alur tersebut bukan hanya pembersihan tebing, tapi ada pengecoran beberapa titik yang menjadi rawan longsor.

Ketika dimintai tanggapan nya, apakah akan selesai tepat waktu pekerjaan tersebut. Fakhrizal juga tidak yakin proyek tersebut akan selesai tepat waktu.
“Iya sih Bang, gak mungkin pun terselesaikan, karena belum ada yang di cor sama sekali, tapi kita perintahkan rekanan untuk bisa segera menyelesaikan, Tuturnya.

Sementara Kepala Bidang PU Pengairan Aceh Timur Jamaluddin saat dihubungi mengatakan, terkait proses perencanaan itu dilakukan oleh perusahaan konsultan perencanaan yang menang tender, mengenai kenapa semua terpusat di kawasan Idi Rayeuk, dirinya pun tidak mengetahui. “Kami hanya menjalankan tugas, secara teknis apa yang sudah ada dalam DIPA,” ujarnya.

Jamaluddin juga menjelaskan bahwa proyek tersebut merupakan sumber APBK P tahun 2021 lanjutan dari proyek normalisasi tahun 2019 yang tertunda. “Karena kepepet waktu, sehingga tahun 2019 dan tahun 2020 dibatalkan, dan tahun ini baru ditender pada bulan oktober lalu. Anggaran sebesar 29 milyar di pecah menjadi 4 paket,” pungkasnya. (Raz)