Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pemerhati Sejarah
Pada suatu masa ketika peta dunia belum sepenuhnya digambar, ketika lautan masih dibaca lewat bintang dan angin, dan ketika suara ombak adalah bahasa bersama umat manusia, Nusantara telah lebih dulu menguasai rahasia samudra. Dari galangan-galangan kayu di pesisir Jawa, lahirlah sebuah mahakarya peradaban: Djong Jawa—kapal raksasa yang bukan sekadar alat angkut, melainkan penanda zaman, simbol kejayaan, dan bukti bahwa teknologi tinggi tak selalu lahir dari besi dan mesin, tetapi dari pengetahuan, tradisi, dan keberanian membaca alam.
Djong Jawa—atau Jung Jawa dalam catatan asing—adalah puncak peradaban teknologi perkapalan Nusantara Indonesia. Ia mencapai masa keemasannya antara abad ke-14 hingga ke-16, pada era Majapahit hingga Kesultanan Demak, ketika Jawa bukan sekadar pulau, melainkan simpul penting jaringan perdagangan dunia. Pada masa itu, laut bukan batas, melainkan jalan raya. Dan Djong Jawa adalah penguasanya.
Raksasa Laut dari Selatan
Catatan Portugis Tome Pires, seorang apoteker sekaligus pengamat tajam dunia Timur, menyebut Jung Jawa sebagai kapal yang membuat armada Eropa tampak kecil dan rapuh. Djong Jawa rata-rata berbobot 400 hingga 500 ton, namun dalam kondisi tertentu dapat mencapai 1.000 bahkan 2.000 ton. Bandingkan dengan Flor de la Mar, kapal kebanggaan Portugis, yang dalam perbandingan sezamannya terlihat seperti perahu pengantar.
Namun ukuran bukan sekadar soal besar. Ukuran adalah pernyataan politik dan teknologi. Djong Jawa dirancang untuk mengarungi laut lepas, menantang gelombang Samudra Hindia, membawa muatan lintas benua, dan—jika diperlukan—menghadapi pertempuran laut. Ia adalah kota terapung, benteng kayu yang bergerak mengikuti angin musim.
Kayu Jati dan Kecerdasan Konstruksi
Keunggulan Djong Jawa terletak pada pilihan material dan teknik pembuatannya. Sementara kapal-kapal Cina banyak menggunakan kayu lunak, Djong Jawa dibangun dari kayu jati—kayu keras tropis yang tahan air, rayap, dan usia. Lebih dari itu, lambung kapal dibuat berlapis-lapis, dalam beberapa catatan mencapai empat lapisan kayu tebal. Konstruksi ini membuat Djong Jawa bukan hanya kuat, tetapi nyaris kebal terhadap tembakan meriam awal Eropa.
Teknik sambungan yang digunakan pun unik. Banyak bagian kapal dirakit tanpa paku besi, melainkan dengan pasak kayu dan ikatan tradisional, memungkinkan fleksibilitas ketika diterpa gelombang besar. Di sinilah teknologi Nusantara menunjukkan kecanggihannya: bukan melawan alam, melainkan bekerja bersamanya.
Layar Tanja dan Ilmu Membaca Langit
Djong Jawa mengandalkan layar tanja, layar segi empat khas Nusantara yang efisien menangkap angin dari berbagai arah. Dengan empat tiang layar atau lebih, kapal ini mampu menyesuaikan diri dengan angin musim barat dan timur—angin yang telah menjadi kalender pelaut Nusantara selama berabad-abad.
Navigasi dilakukan bukan dengan peta kertas, melainkan dengan pengetahuan kosmologis: membaca rasi bintang, arah angin, arus laut, dan kompas magnetik yang telah dikenal pelaut Jawa. Laut bukan ruang kosong, tetapi teks yang bisa dibaca—dan Djong Jawa adalah hasil pembacaan itu.
Dari Pasar hingga Medan Tempur
Fungsi Djong Jawa bersifat multifungsi. Ia adalah kapal dagang yang membawa beras, kayu gaharu, sutra, rempah, hingga senjata ke berbagai penjuru Asia Tenggara dan Samudra Hindia. Namun dalam konteks politik yang bergejolak, Djong Jawa juga berubah menjadi kapal perang yang disegani.
Pada masa Majapahit dan Demak, kekuatan laut adalah fondasi kekuasaan. Armada Djong menjadi alat diplomasi sekaligus intimidasi. Ia mengamankan jalur dagang, mengawal wilayah, dan menegaskan bahwa Jawa adalah kekuatan maritim, bukan kerajaan pedalaman semata.
Kematian Sebuah Teknologi
Namun sejarah tidak selalu ramah pada kejayaan. Memasuki abad ke-17, kekuatan maritim Nusantara mulai melemah. Runtuhnya Demak, konflik internal kerajaan-kerajaan Jawa, serta intervensi VOC menggerus ekosistem maritim yang telah berabad-abad tumbuh.
Puncaknya terjadi pada 1677, ketika VOC memberlakukan pembatasan dan pelarangan perdagangan kapal-kapal besar pribumi. Galangan ditutup, pelaut dipaksa beralih profesi, dan teknologi Djong perlahan kehilangan ruang hidupnya. Peradaban laut digiring menuju darat, dan raksasa samudra itu pun tenggelam—bukan oleh badai, melainkan oleh politik kolonial.
Warisan yang Tak Pernah Benar-Benar Tenggelam
Hari ini, Djong Jawa mungkin tak lagi berlayar di lautan. Namun ia hidup dalam ingatan kolektif, relief, naskah kuno, dan penelitian sejarah maritim. Ia menjadi penanda bahwa jauh sebelum Eropa menguasai samudra, Nusantara telah memiliki teknologi tinggi, visi global, dan keberanian mengarungi dunia.
Djong Jawa adalah bukti bahwa peradaban Indonesia dibangun dari laut—dari kayu jati yang dipahat dengan pengetahuan, dari layar yang menari bersama angin, dan dari manusia-manusia yang percaya bahwa samudra bukan akhir, melainkan awal.
Sebagaimana ditulis Bambang SBY XI dalam Legenda Krakatau, Djong Jawa bukan sekadar kapal. Ia adalah simbol. Sebuah ingatan tentang masa ketika Nusantara berdiri sejajar dengan dunia—dengan layar terkembang, haluan menghadap cakrawala, dan keyakinan bahwa laut adalah takdir.
Dan mungkin, dengan mengingat Djong Jawa, kita sedang belajar kembali bagaimana menjadi bangsa bahari—bukan sekadar di peta, tetapi di jiwa. (*)




