Semarang — Sejarah pers di Kota Semarang kembali dihidupkan melalui kegiatan Heritage Walking Tour: Jejak Sejarah Pers di Pecinan Semarang, yang akan digelar pada Senin, 9 Februari 2026, pukul 09.00–12.00 WIB. Kegiatan ini terbuka untuk umum, gratis, namun dengan jumlah peserta terbatas.
Tur edukatif ini digelar sekaligus untuk memperingati Hari Pers Nasional yang jatuh setiap 9 Februari. “Momentum ini kami pilih untuk mengingat kembali peran pers sebagai bagian penting dari sejarah sosial dan politik di Semarang,” imbuh Yvonne Sibuea, pemandu tur sekaligus peneliti sejarah pers lokal.
Heritage Walking Tour ini menjadi agenda perdana Jelajah Sejarah Semarang #1, sebuah program penelusuran sejarah kota yang digagas Widya Khoirunnisa bersama komunitas Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang. Titik kumpul ditetapkan di Rumah PoHan, Jalan Kepodang No. 64, kawasan Pecinan Semarang.
Dalam tur ini, Yvonne Sibuea akan mengajak peserta menyusuri sembilan titik bersejarah yang pernah menjadi lokasi kantor surat kabar dan penerbitan penting di Semarang, antara lain Sorot, Sinar (Soda), Nan Sing, Warna Warta, Soeara Semarang, Makmoer, dan Pesat. Lokasi-lokasi tersebut tersebar di kawasan Pecinan Semarang hingga Jalan Sidorejo.
Menurut Yvonne, kegiatan ini berbasis riset yang ia lakukan bersama Rumah PoHan dan EIN Institute. “Pecinan Semarang bukan hanya ruang perdagangan, tetapi juga ruang penting lahirnya pers modern yang dikelola secara mandiri oleh warga Tionghoa,” ujarnya.
Mayoritas perusahaan pers yang disinggahi dalam tur ini dikelola oleh warga Tionghoa Semarang, khususnya komunitas Peranakan. Di tengah situasi sosial-politik pra-kemerdekaan, media massa menjadi sarana strategis penyebaran gagasan, informasi, dan kebutuhan komunitas, sekaligus alat perlawanan terhadap kolonialisme.
Selain membahas institusi media, tur ini juga mengangkat kisah tokoh-tokoh pers nasional yang memiliki jejak di Semarang, seperti Sayuti Melik dan S.K. Trimurti, yang diketahui pernah membangun perusahaan surat kabar di kota ini. Peserta juga diajak mengenal peran Kwa Wan Hong, pebisnis dan pegiat pers yang berjasa dalam perkembangan media massa lokal Semarang.
Penggagas kegiatan, Widya Khoirunnisa, menyebut tur ini sebagai upaya mendekatkan sejarah kepada publik dengan cara yang lebih partisipatif. “Kami ingin sejarah pers tidak hanya dibaca di buku, tetapi dialami langsung melalui ruang-ruang kota,” katanya.
Heritage Walking Tour ini merupakan hasil kolaborasi Rumah PoHan dengan sejumlah komunitas, antara lain Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang, EIN Institute, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kranggan, serta Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang.
Pendaftaran peserta dapat dilakukan secara daring melalui tautan yang disediakan panitia atau dengan menghubungi narahubung Widya. Panitia mengimbau masyarakat untuk segera mendaftar mengingat kuota peserta terbatas. (Christian Saputro)




