Gagoek Hardiman Gelar Karya Lukisan Cat Air

Saat bunga tulip, magnolia dan kirsch ( di Jepang disebut Sakura) berkembang di Stuttgart 2 Mei 1992. Berdasarkan Foto Kenangan mbah Gagoek Hardiman 30 tahun lalu saat studi di German.)

Semarang – Perupa Semarng Gagoek Hardiman bakal menaja lukisan cat air karyanya di Waroeng Kopi Alam, . Jl Singosari Timur no 8. Semarang. Gelar pameran yang didukung Semarang Sketchwalk, Kolcai Semarang, dan Waroeng Kopi Alam ini akan dibuka oleh Sekretaris Jendral Kolcai Nasional Ratna Sawitiri, Sabtu 7 Mei 2022 Pukul 00.10 WIB ini akan berlangsung sebulan penh dari 7 Mei – & Juni 2022.

Dalam helat pameran tunggalnya yang ke -2 ini mengusung tajuk : “Gelar Gambar Karya Cat Air Biasa” ini pelukis yang cum guru besar Fakultas Teknik Universitas Diponegoro , Semarang ini, bakal meggelar 20 karya lukisan cat air. Sedangkan pameran tunggal pertamanya sekaligus jadi Mentot yang digelar Wopancobertajuk : Exhibition & Water Colouring Workshop 0g Gagoek Hardiman di Tandhok Artspace, Semarang, 20 Januari 2019 lalu.

Profesor Gagoek Hardiman yang dalam dunia seni akrab disapa Mbah Gagoek alias Mbah G ini akan menyuguhkan 11 karya terbarunya yang digarapnya dalam bulan April – Mei 2022 dan 9 karya lama yang bertitimangsa tahun 2021 – 2022. Karya-karya yang digelar dalam ajang pameran ini merupakan koleksi pribadi Mbah G, jadi hanya bisa dinikmati, tetapi tidak untuk dijual.

Mbah G pelukis low profil dan rendah hati ini mengatakan pameran tunggalnya yang ke -2 ini mengusung tajuk: “Gelar Gambar Karya Cat Air Biasa” karena menurut dia teknik cat airnya “ala kadarnya”.

“Bukan karya pelukis profesional , tetapi karena gemar menggambar sejak kecil. Memanfaatkan anugerah Allah, senyampang mata masih bisa jelas memandang. Otak masih bisa mencerna obyek.Jati tangan masih bisa berkoordinasi dgn mata dan otak untuk menyapukan cat air diatas kertas,” papar Mbah G.

Bagi Mbah G yang kini berusia 69 tahun, menggambar merupakan kegiatan yang paling disenangi meski hasilnya menurutnya begitu begitu saja. Dengan menggambar bisa mendapat banyak teman sehobi. Terkadang juga bisa menyenangkan orang lain dengan membagikan karyanya. “Isaku iki elek yo ben sing penting dengan menggambar hati senang, gembira dan membuat sisa hidup ini jadi sangat berarti,” ujar Mbah G mengudar prinsipnya berkarya.

Mbah G menambahkan tujuannya berpameran juga ingin ikut meramaikan jagad seni rupa di Kota Semarang. Pameran juga merupakan sebentuk tanggungjawab dan barometer bagi seniman dalam berkarya. “Bagi saya pribadi pameran ini juga merupakan uji nyali. Artinya, berani menampilkan karya di depan audien, tak hanya disimpan dilaci saja. Dan harapannya tentu mendapat respon mendapat kritikan dan saran dari karya-karya yang disajikan. ” imbuh Mbah G.

Pengamat Seni Rupa Aryo Sunaryo dalam pengantar pameran mengatakan, Mbah G dalam gelar karya-karyanya menyebutnya “karya cat airbiasa”. Dengan ungkapan ini rupanya yang dimaksudkan tekniknyawajar-wajar saja, jauh dari upaya eksplorasi mediumnya atau melalui subyek yang aneh-aneh. “Subyek karyanya dikerjakan secara realistis yang mudah dipahami oleh khalayak. Bagi Mbah G gambar atau lukisan sebagai sarana komunikasi sebagai “transfer of feeling” – meminjam istilah Tolstoy –, daripada ekspresi bebas liar pemuas batin pembuatnya saja atau yang dengan tujuan lain,” ujar Aryo Sunaryo.

Menurut Aryo Sunaryo apa yang dipikirkandan dirasakan serta yang menarik perhatiannya diungkapkan tanpa prasangka sebagaimana adanya, dan diharapkan orang lainkejangkitan perasaan yang sama.

“Kalaulah orang punya penafsiran dan kemudian merasakan hal yang berbeda dengan apa yang diungkapkan perupanya, tak mengapa. Bukankah setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda?. Semoga semangat berkaryanya menginspirasi banyak orang, “ pungkas Aryo Sunaryo. (Heru Saputro)