SEMARANG – Memasuki hari ketiga pelaksanaan La Fête du Court Métrage – Edisi Indonesia, isu kesetaraan gender mengemuka dalam rangkaian diskusi yang digelar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, Kamis (2/4/2026). Aktivis Kolektif Hysteria dan pemerhati gender, Anita Dewi, menegaskan bahwa film memiliki peran strategis dalam membongkar konstruksi sosial yang selama ini membatasi peran laki-laki dan perempuan.
Dalam sesi diskusi usai pemutaran program Asteria: Feminine, Masculine, Anita Dewi menyebut bahwa representasi gender dalam film tidak sekadar soal siapa yang tampil di layar, tetapi juga bagaimana narasi dibangun serta sudut pandang yang dihadirkan kepada penonton.
“Film bisa menjadi ruang refleksi sekaligus kritik. Ia mampu mempertanyakan norma yang kita anggap wajar, termasuk tentang maskulinitas dan femininitas,” ujarnya di hadapan ratusan peserta yang memadati ruang diskusi.
Menurut Anita, film-film dalam program tersebut memperlihatkan spektrum pengalaman manusia yang lebih luas, sekaligus menantang stereotip yang kerap dilekatkan pada identitas gender. Ia mencontohkan bagaimana karakter laki-laki tidak selalu harus digambarkan kuat dan tanpa emosi, sebagaimana terlihat dalam film Big Boys Don’t Cry.
Lebih jauh, ia menilai bahwa tekanan sosial terhadap peran gender sering kali tidak disadari, namun berdampak besar terhadap cara individu mengekspresikan diri. Karena itu, ruang diskusi seperti yang dihadirkan dalam festival ini dinilai penting untuk membuka kesadaran publik.
“Ketika film dan diskusi berjalan beriringan, kita tidak hanya menonton, tetapi juga diajak berpikir dan merasakan. Di situlah perubahan bisa mulai terjadi,” tambahnya.
Festival yang diinisiasi oleh Ambassade de France en Indonésie dan Alliance Française Indonésie ini memang menghadirkan tema-tema sosial yang relevan, termasuk gender, identitas, dan relasi kuasa. Kehadiran Anita Dewi dalam diskusi hari ketiga tersebut memperkaya perspektif penonton, sekaligus menegaskan bahwa sinema bukan sekadar medium hiburan, melainkan juga alat advokasi untuk mendorong kesetaraan dan keadilan sosial.
Apresiasi untuk Para Kolaborator
Pada pamungkas acara, Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan screening film selama tiga hari berturut-turut.
“Terima kasih kepada para kolaborator Sineroom, Hysteria, Eling, dan Pemerintah Kota Semarang yang telah bersama-sama menyukseskan kegiatan ini,” ujar Kiki Martaty dalam sambutannya, Kamis (2/4/2026) malam.
Kiki juga mengucapkan terima kasih kepada para penonton yang selama tiga hari ikut berpartisipasi menonton dan berdiskusi dengan antusiasme tinggi. Menurutnya, kehadiran ratusan warga Semarang di Gedung Oudetrap membuktikan bahwa apresiasi terhadap sinema pendek di kota ini sangat besar.
“Ke depan masih banyak agenda pemutaran film yang akan digelar Alliance Française Semarang. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan ruang dialog kreatif melalui medium film,” pungkasnya.
Dengan suksesnya gelaran tahun ini, festival La Fête du Court Métrage – Edisi Indonesia resmi ditutup pada 2 April 2026. Kolaborasi lintas negara ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mempertegas peran film sebagai medium refleksi sosial dan jembatan diplomasi budaya antara Prancis dan Indonesia.
Kehadiran festival di Kota Lama menjadi bukti bahwa ruang-ruang sejarah dapat terus hidup melalui dialog kreatif yang melintasi batas geografis dan kultural. Para penyelenggara berharap momentum ini dapat terus berlanjut, menjadikan Semarang sebagai simpul penting dalam peta perfilman pendek dunia. (Christian Saputro)




