Home Contemplore 2.0, Buku Harian Rudi Murdock Tentang Rumah

Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro, penonton pameran, tukang tulis, tinggal di Tembalang.

Semarang – Seniman multi talenta Rudi Murddock menggelar pameran tunggalnya bertajuk : “Home Contemplore 2.0 “ di TAN Artspace, Artspace ,Semarang, Jawa Tengah. Pameran tunggal ketiga Rudi Murdock ini yang dikuratori Ahmad Khaerudin @adinhysteria dibuka Mona Palma, Minggu (28/11) akan berlangsung hingga 12 Desember 2021.

Mona yang juga dikenal sebagai perupa mengatakan, Rudi Murdock merupakan sosok seniman yang multi talenta. Rudi tak hanya mengeluti dunia seni rupa, tetapi juga berkiprah di blantika seni musik, usaha clothing juga pintar membuat aneka wine dan hingga meracik meracik sambel. “Pokoknya Rudi merupakan sosok yang iinspiratif. Bahkan selama pandemi mulai mengakrabi dunia pertanian dengan bertani porang yang lagi trend,” imbuh Mona Palma.

Hal senada juga diungkapakan, Ketua Semarang Sketchwalk (SSW) Ratna Sawitiri, yang menginisiasi dan menjadikan Rudi Murdock sebagai bintang tamu dalam gelaran pameran” Arisan The Series” yang ke-13 ini. “Harapannya pameran Rudi Murdock ini bisa menginspirasi kawan-kawan SSW dan juga mewarna iseri pameran ini dan melahirkan karya rupa yang beragam. Kita bisa banyak belajar dari Rudi Murdock yang bisa terus kreatif berkarya di tengah kesibukan lainnya ,” ujar Ratna.

Kesit musisi sahabat Murdock, dalam pengantarnya mengaku bisa punya arah yang jelas dalam bermusik. “Pada awalnya saya bermusik hanya untuk senang-senang. Tetapi begitu kenal Rudi beberapa tahun lalu dan berdialog akhirnya saya baru disadarkan musik tak hanya untuk senang-senang, tetapi bisa menjadi media penyampaian gagasan. Sejak saat itulah saya musik yang saya mainkan bermuatan misi yang ingin saya sampaikan pada audien,” ujar dari Kesit @yagimgrind. Orang betawi bilang, Rudy Murdock memang kagak ada matinye. Terus bergeliat menjalani kiprah seninya.

Buku Harian Murdock

Perupa Rudy Murdock dalam gelaran pameran “HOME Contemplore 2.0 “ menaja 11 karya besar dan kecil tak hanya berupa lukisan tetapi juga berupa instalasi. Rudi mengatakan, pameran tunggalnya yang pertama dan kedua mengusung tentang pembunuhan berantai. Sedang pada babak pameran berikutnya mengusung tajuk : “HOME Contemplore 2.0 “ ini yang diakuinya merupakan dari seri CONTEMPLORE karyanya. Karya-karya Rudi merupakan hasil kontemplasi dari mengeksplore baik gagasan maupun lingkungannya.

Chris Dharmawan owner Semarang Gallery mengatakan, Rudy berhasil merespon barang-barang bekas disekitarnya yang dianggap orang tak berguna menjadi karya seni yang menginpirasi. “Ini bisa dijadikan sebuah karya yang bisa dipajang di ruang publik,” ujar Chris Dharmawan sambil menunjuk sebuah karya yang terbuat dari plat baja bekas.

Konon gagasan Rudy mengeksplore rumah dalam karyanya tidak hanya karena strategi artistik tetapi juga siasatnya menghadapi himpitan kebutuhan hidup yang nyata digerus pandemi Covid -19.

Barang-barang bekas yang terbengkalai lama, dieksplore lalu coba dihidupkan kembali diberi sentuhan dan diberi makna baru yang kemudian diusung menjadi sebuah karya seni yang ditawarkan ke apresian. Bisa dilihat dari tiga bingkai kaca jendela bekas yang diusungnya dibiarkan terlihat ada retakan dan berdebu.

Dalam “HOME Contemplore 2.0 “ ini Rudy berkisah dari berupa refleksi dari aksi-aksi kontemplatif tentang berbagai hal yang terkait dengan perjalanan hidup pribadi. Karya-karya Rudi dalam pameran ini hasil dirinya laku kontemplatifnya ketika merespon di sekitar rumah tunggalnya.

Rumah bagi Rudi di mana dia bisa menemukan rasa cinta itu berada. Penaka pepatah mancanegara “Home Sweet Home” , rumah adalah sebuah surga kecil tempat segala kehidupan bermula, ketulusan, gairah dan harapan-harapan tentang hidup yang digayuh hingga kita kembali pada Sang Maha.

“Pameran ini merupakan catatan-catatan perenungan saya tentang rumah tempat saya tinggal bersama keluarga. Semacam buku harian yang saya wujudkan dalam bentuk karya seni dan media yang digunakan juga dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang ada termasuk bekas jendela rumah yang rontoh ketika tanah lokasi rumah saya bergerak-retak,” terang Rudy.

Goresan-goresan bergaya naif mewarnai karya-karya yang rupa yang disodorkan Rudy dalam gelar karyanya kali ini. Tampang Rudy yang gahar bahkan berkesan liar, tetapi juga merupakan sosok manusia biasa yang punya kecemasan, rapuh dan religiusitas.

Simak saja pada lukisan bertajuk : “ For Nothing”, Rudi mengatakan, punya pesan moral kalau kita di dunia ini bukan apa-apa. “Kita ini ibarat butiran debu. Buka apa-apa di hadapanNya,” ujar Rudi.

Kemudian dalam karya serinya; “Winidow 1”, “Window 2” dan “Window 3”, Rudy mengusung tiga buah bingkai jendela. Masing-masing jendela yang dionggokkan di atas kemasan berbentuk drum masing-masing punya 9 bingkai kaca yang diisi lukisan-lukisan dari media kertas. “Saya memanfaatkan barang bekas yang ada termasuk jendela rumah yang rontok karena tanah retak. Sedangkan lukisan dari kertas gambar yang sudah lama sekali tak saya pergunakan.Saya juga menggunakan kardus bekas untuk membingkainya,” terang Rudi.

Berikut dalam lukisan yang berukuran besar bertajuk : “Kau dan Aku, You and Me” yang menjadi center of interest. Kalau melihat judul lukisan ini berkesan main-main, tetapi sebaliknya punya makna yang sangat dalam sebuah penekanan manunggalnya rasa kasih sayang Rudy terhadap keluarganya, bisa juga kepada sang Pencipta.

Pada seri karya “Home As Love 1”, “Home As Love 2”, “Home As Love 3”, “Home As Love 4”, dan “Home As Love 5”, lebih menggambarkan kecintaan Rudi Murdock terhadap rumah dan keluarganya. Empat buah kotak yang dijadikan bingkai dan juga tempat memajang karyanya berupa seni kriya mengingatkan kita kepada ruang dapur dengankitchen set-nya. .Apalagi pada karyanya “Home As Love 5” berupa wastafel rusak yang dijadikan media lukisannya. Pada seri ini menjadi sebuah karya seni instalasi yang menarik. Rudi mengaku, dapur merupakan raung favorit tempat keluarganya berkumpul.

Pada karya “Home As Love 1”, ada sebuah memo berupa tulisan” saya berterima kasih”. Rudi mengatakan, kalau dirinya sangat berterima kasih kepada istri dan anak-anaknya yang mau menerima dia apa adanya. “Saya berhutang pada anak-anak . Karena bukan mereka yang menginginkan lahir, tetapi saya yang menginginkan mereka,” ujar Rudi.

Lukisan berikutnya bertajuk : “When June Met July”, entah makna apa yang tersirat dalam karya tersebut. Bisa jadi ungkapan rasa syukurnya, bisa melalui hari-hari dibulan juni dan menapaki kehidupan di bulan Juli.

Dari gelaran pameran “HOME Contemplore 2.0 “, Rudy ingin sutu saat nanti, ingatan-ingatan yang diabadikandalam binggai karya ini, akan menjadi sebuah kenangan. Sebuah monumen agar kelak generasi mendatang bisa menziarahi dan memahami tentang makna rumah. Ketika bisa jadi sedang tersesat dalam dalam mencari jalan pulang. (CHCS).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here