Rabu dini hari, 18 Februari 2026, pukul 01.05 WIB, ruang-ruang sunyi di RS Mitra Husada Pringsewu menjadi saksi ketika Humaidi Abas mengembuskan napas terakhirnya. Kabar itu menyebar pelan, seperti bisik yang tak ingin benar-benar dipercaya. Teater Lampung kehilangan salah satu denyut nadinya. Dunia film kehilangan wajah yang membumi. Kawan-kawan kehilangan tawa yang selalu lebih dulu pecah sebelum percakapan dimulai.
Ia dikenal dengan banyak sapaan: Tamong, Bang Memed, Bang Memet. Namun di balik semua nama itu, ia tetaplah Humaidi Abas—seorang aktor yang menjadikan panggung sebagai rumah dan seni sebagai jalan hidup.
Jenazahnya dimakamkan di TPU Balai Kambang, Kedondong, Pesawaran. Tanah yang memeluknya adalah tanah yang sama yang sering ia bawa dalam setiap lakon: tanah kampung halaman, tanah tradisi, tanah yang mengajarkannya menjadi manusia yang hangat dan apa adanya.
Perjalanannya di dunia seni tidak dimulai dari gemerlap layar lebar, melainkan dari panggung teater yang sederhana. Ia pernah bermain di Teater Jaman bersama almarhum Jalu Mampang, dan di Teater Satu bersama Iswadi Pratama. Di sanalah ia ditempa: menghafal dialog di ruang latihan yang pengap, menunggu giliran tampil dengan jantung berdebar, dan belajar bahwa akting bukan sekadar berbicara, tetapi mendengar dengan jiwa.
Di atas panggung, Bang Memed tidak pernah setengah-setengah. Ia menyelami peran dengan ketekunan, menghadirkan karakter dengan kejujuran yang jarang dibuat-buat. Tatapan matanya mampu menyampaikan kegelisahan tanpa banyak kata. Geraknya sederhana, tetapi sarat makna. Ia tidak bermain untuk tepuk tangan; ia bermain untuk kebenaran cerita.
Langkahnya kemudian meluas ke layar film. Pegiat film sekaligus founder Rumah Produksi Genia Visinema, Rizqon Agustia Fahsa, mengenang bagaimana Bang Memed terlibat dalam sejumlah film garapannya, di antaranya Ayudia dan Jalan Pulangnya, 212: The Power of Love, Sukmailang, Hayya, Hikayat Pendekar Khakot, Jomblo Fi Sabilillah, Rindu Arini, hingga Patok Tenda Raimuna. Dalam setiap film itu, ia hadir bukan sebagai bintang yang mencari sorot lampu, melainkan sebagai aktor yang memperkuat jiwa cerita.
Ia supel, mudah bergaul, dan humoris. Di sela latihan atau syuting, ia kerap menjadi pencair suasana. Tawa lepasnya menghangatkan ruang, bahkan ketika lelah mulai terasa. Namun di balik canda itu, ia menyimpan keseriusan pada seni. Kritiknya tajam, tetapi selalu jujur dan membangun. Ia percaya teater adalah ruang pembentukan jiwa, tempat manusia belajar memahami luka dan harapan sesamanya.
Julukan Tamong melekat bukan sekadar sebagai nama panggung, tetapi sebagai identitas yang ia rawat dengan bangga. Dalam setiap peran, ada semangat kampung halaman yang ia bawa, ada napas tradisi yang tak pernah ia lepaskan. Ia tidak sekadar memerankan karakter—ia menghidupkannya, memberinya darah dan detak.
Kepergiannya menyisakan lengang yang tak mudah diisi. Panggung tetap berdiri. Kamera tetap merekam. Tirai tetap terbuka. Namun ada satu energi yang kini berpindah ke ruang kenangan. Bagi rekan-rekannya, Bang Memed bukan hanya aktor, melainkan sahabat seperjalanan—orang yang percaya bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan.
Sabtu, 21 Februari 2026, di Basecamp Komunitas Film Indie Pesawaran, Kampung Sawah, Desa Kedondong, doa-doa akan dipanjatkan dalam tausiyah, buka bersama, tarawih, dan pemutaran karya. Karya-karya itu akan kembali diputar, wajahnya kembali muncul di layar, suaranya kembali terdengar. Seolah ia hanya sedang menunggu giliran tampil berikutnya.
Barangkali benar, bagi seniman sejati, panggung tidak pernah benar-benar gelap. Ia hanya berpindah cahaya. Dan Bang Memed telah melangkah ke cahaya yang lain, meninggalkan jejak yang tak akan lekang oleh waktu.
Selamat jalan, Bang Memed. Tepuk tangan itu mungkin tak lagi terdengar di telingamu, tetapi ia akan terus bergema di hati kami—lama, bahkan ketika tirai telah lama tertutup.
Christian Heru Cahyo Saputro, Pemerhati Seni Budaya tinggal di Semarang.




