Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pengamat Seni Budaya tinggal di Semarang
Data Buku :
Judul: Toponimi Sumatra Bagian Selatan Berdasarkan Peta Kurun Waktu 1920–1940-an
Penulis: Anshori Djausal & Iwan Nurdaya-Djafar
Penerbit: Pustaka LaBRAK bekerja sama dengan Akademi Lampung, Bandar Lampung
Cetakan: I, Desember 2024
Tebal: xviii + 330 halaman
Ukuran: 14 x 23 cm
ISBN: 978-623-5315-20-1
Ada cara lain membaca sejarah selain melalui prasasti, arsip kolonial, atau monumen batu: membaca peta. Dan ada cara yang lebih sunyi lagi—membaca nama-nama yang tertera di atasnya. Buku Toponimi Sumatra Bagian Selatan Berdasarkan Peta Kurun Waktu 1920–1940-an karya Anshori Djausal dan Iwan Nurdaya-Djafar mengajak kita memasuki lorong waktu itu—lorong yang dipenuhi ribuan nama tempat, yang tak sekadar menunjuk lokasi, melainkan menyimpan jejak ingatan kolektif.
Diterbitkan oleh Pustaka LaBRAK bekerja sama dengan Akademi Lampung, buku setebal 330 halaman ini pada mulanya tampak sebagai kerja dokumentasi ilmiah. Namun semakin dibaca, ia menjelma menjadi semacam elegi bagi nama-nama yang terancam hilang.
Peta sebagai Manuskrip Kebudayaan
Bertolak dari peta-peta periode 1920–1940-an—termasuk atlas klasik Atlas der Nederlandsche bezittingen in Oost-Indië karya Stemfoort—para penulis menghimpun tidak kurang dari 3.560 toponimi: umbul, kampung, bukit, gunung, sungai, perkebunan, dan bandar di wilayah Sumatra bagian selatan.
Di tangan Anshori Djausal, penelitian yang dimulai sejak 1995 itu terasa seperti kerja arkeologi bahasa. Ia mengolah data dengan pendekatan deskriptif, bahkan memanfaatkan perangkat lunak awal seperti DBASE III dan CLIPPER 5.1—detail yang kini terasa nostalgik, namun menunjukkan kesungguhan akademik di masa ketika teknologi belum semudah hari ini. Peta tidak lagi dibaca sebagai gambar statis, melainkan sebagai manuskrip kebudayaan.
Mengapa sebuah tempat dinamai Banyu Urip? Mengapa ada Bumi Agung, Bandar Agung, atau Banjar Ratu? Mengapa di Bengkulu dan Sumatra Selatan sungai disebut “Air” atau “Sungai”, sementara ketika memasuki Lampung ia berubah menjadi “Wai”?
Di sanalah kita melihat bahwa bahasa adalah cermin orientasi lokal—cara masyarakat membaca alam, membangun identitas, dan menegaskan ruang hidupnya.
Dari Statistik Menuju Tafsir
Bagian I buku ini menghadirkan kerangka ilmiah: pola persamaan nama tempat, penamaan yang berkaitan dengan budaya (nama harapan, gelar, keamanan, bilangan), hingga penamaan yang lahir dari alam sekitar—pohon, binatang, tanda alam.
Namun kekuatan emosional buku ini menguat pada Bagian II dan III yang diperkaya oleh Iwan Nurdaya-Djafar. Di sana, data bergerak menjadi tafsir.
Nama-nama tempat diurai maknanya, ditelusuri akar budayanya, bahkan dihubungkan dengan jejak peradaban Sriwijaya.
Toponimi tidak lagi diperlakukan sebagai daftar administratif, melainkan sebagai arsip kebudayaan yang hidup. Sebuah kampung bukan sekadar titik koordinat, tetapi ruang memori. Ketika nama berubah, sering kali ada sejarah yang terhapus secara perlahan.
Buku ini, dengan demikian, tidak hanya menjawab “di mana”, tetapi juga “mengapa”.
Lanskap yang Berdenyut
Ilustrasi dan dokumentasi visual—perkebunan lada 1910-an, jalur kereta api Panjang–Tanjungkarang 1914, Pasar Bambu Kuning 1894—menghadirkan lanskap yang berdenyut. Kita melihat bagaimana ruang berubah: dari kebun dan sawah menjadi kota; dari jalur sungai menjadi rel besi; dari pelabuhan sunyi menjadi simpul perdagangan.
Nama-nama tempat itu menyimpan getaran sejarahnya. Sebelum tsunami 1883 dikenang dunia sebagai tragedi global, Selat Sunda telah lama menjadi jalur interaksi budaya. Sebelum modernitas membentangkan beton, sungai-sungai dan “wai” menjadi nadi peradaban.
Membaca buku ini serupa menelusuri sungai lama yang mungkin kini telah bergeser arah. Kita diajak menunduk, mendengar gema bahasa yang nyaris arkais, dan menyadari bahwa identitas wilayah dibangun dari akumulasi makna.
Kerja Kebudayaan yang Mendesak
Di tengah derasnya pembangunan dan perubahan tata ruang, studi toponimi seperti ini menjadi kerja kebudayaan yang mendesak. Ia bukan nostalgia, melainkan fondasi. Pembangunan tanpa kesadaran historis berisiko melahirkan ruang yang tercerabut dari akarnya.
Menariknya, buku ini juga membuka kemungkinan praktis: basis data toponimi yang dapat dikembangkan menjadi sistem informasi wilayah interaktif. Artinya, penelitian ini tidak berhenti sebagai monograf akademik, tetapi dapat menjadi alat pendidikan, perencanaan kebudayaan, bahkan advokasi pelestarian cagar budaya.
Namun lebih dari segala metodologi dan lampiran, pesan paling sunyi dari buku ini adalah: setiap nama adalah doa. Setiap sebutan adalah jejak peradaban.
Menjaga yang Tersisa
Di saat banyak kota berlomba mengganti nama demi citra modern, buku ini mengingatkan kita pada kebijaksanaan untuk menjaga yang tersisa. Nama bukan sekadar label. Ia adalah simpul pengalaman, memori kolektif, dan pandangan hidup.
Pada akhirnya, Toponimi Sumatra Bagian Selatan bukan hanya buku tentang nama tempat. Ia adalah pengingat bahwa tanah memiliki ingatan, dan bahasa adalah cara manusia merawatnya.
Dan selama nama-nama itu masih disebut—meski pelan, meski hampir terlupa—sejarah belum benar-benar hilang. (“)




