SEMARANG — Suasana penuh warna dan antusiasme mewarnai markas Alliance Française Semarang di Jalan Dokter Wahidin 54, Kaliwiru, Semarang, saat digelar Workshop Belajar Seni Mural bagi anak-anak difabel. Kegiatan yang diikuti ; Rizky Amalia ,Atun , Willy ,Nike , Venan,Yuni ,Sheva dan Roni ini menghadirkan perupa Giovanni Susanto sebagai pengajar dan merupakan bagian dari rangkaian pameran seni rupa bertajuk : “Liberté d’inclusion” kolaborasi bersama Roemah D.
Workshop tersebut turut dihadiri Direktur Alliance Française Semarang, Dra Kiki Martaty, serta Founder Roemah D, Dra Noviana Dibyantari. Kehadiran keduanya menegaskan komitmen bersama dalam menghadirkan ruang seni yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Dalam sesi praktik, Giovanni membimbing peserta secara bertahap, mulai dari persiapan dinding, pembuatan sketsa, hingga teknik pewarnaan. Dengan pendekatan komunikatif dan penuh kesabaran, ia mengajak anak-anak memahami bahwa mural tidak harus rumit.
“Melukis mural tidak harus sempurna. Yang penting berani mencoba dan menikmati prosesnya,” ujar Giovanni di sela kegiatan.
Peserta diajak memastikan permukaan dinding bersih agar cat menempel sempurna, lalu menyusun desain sederhana seperti motif dedaunan dan bentuk geometris. Sketsa dibuat menggunakan kapur agar mudah diperbaiki sebelum masuk tahap pengecatan.
Anak-anak menggunakan cat akrilik berbahan dasar air yang relatif aman dan mudah diaplikasikan. Giovanni memperkenalkan teknik block-in untuk mengisi warna dasar dan teknik stippling guna menciptakan efek tekstur. Setiap peserta bebas memilih warna sesuai imajinasi, menciptakan karya yang unik dan personal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pameran seni rupa yang sebelumnya dibuka secara resmi oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone. Momentum tersebut memperkuat pesan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menjembatani perbedaan dan mendorong inklusi sosial.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra Kiki Martaty, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Roemah D bertujuan membuka akses seni seluas-luasnya bagi semua kalangan. Sementara itu, Dra Noviana Dibyantari menekankan pentingnya ruang ekspresi kreatif bagi anak-anak difabel sebagai bagian dari proses tumbuh dan percaya diri.
Melalui workshop ini, mural tidak sekadar menjadi elemen estetika dinding, tetapi juga media pemberdayaan. Warna-warna yang tergores di dinding markas Roemah D Semarang menjadi simbol keberanian, kreativitas, dan semangat kesetaraan dalam berkarya.
(Christian Saputro)




