Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
SELAT SUNDA — Di antara kabut tebal yang menyelimuti perairan, tersimpan kisah tentang sebuah gunung yang konon pernah mengguncang dunia. Namanya nyaris hilang dari ingatan zaman, terlupakan di balik kemasyhuran saudaranya, Krakatau. Namun, jejaknya masih hidup, terukir dalam legenda, naskah kuno, dan lapisan-lapisan bumi yang diam-diam menyimpan rahasia.
Pada suatu pagi yang tenang, ombak berayun pelan di antara Jawa dan Sumatera. Kapal-kapal nelayan melintas seperti biasa, membelah permukaan air yang tampak damai. Burung-burung laut berputar di atas kepala, seolah tak menyadari bahwa bentangan laut yang hari ini memisahkan dua pulau besar Nusantara itu, dulunya adalah daratan yang utuh.
Di balik ketenangan tersebut, tersimpan cerita tua yang nyaris tenggelam oleh waktu: kisah Gunung Batuwara.

Naskah Kuno dan Murka Alam
Cerita tentang Batuwara mengalir dari Pustaka Raja Parwa, sebuah naskah kuno berbahasa Jawa Kuno. Naskah itu mengisahkan peristiwa dahsyat yang terjadi pada abad ke-5 Masehi.
Dikisahkan, pada tahun 416 M, terdengar suara gemuruh menggelegar dari arah sebuah gunung bernama Batuwara. Bumi berguncang hebat. Langit berubah gelap gulita. Kilatan petir menyambar tanpa henti, menghapus batas antara siang dan malam.
“Gunung itu terbelah dan tenggelam ke dalam bumi.”
Begitulah kurang lebih gambaran yang tersirat dalam kisah kuno tersebut. Bagi masyarakat masa lalu, peristiwa itu merupakan murka alam yang sulit dijelaskan, sebuah hukuman dari langit yang menakutkan. Tetapi bagi generasi sekarang, kisah tersebut menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih besar dan rasional: benarkah pernah terjadi letusan gunung raksasa yang mampu mengubah wajah geografis Nusantara?
Pertanyaan itu mengantarkan para peneliti memasuki wilayah abu-abu yang mempertemukan mitologi dan sains.
Tirai Debu Global
Berabad-abad setelah kisah itu dituliskan, para ilmuwan menemukan jejak aneh dalam catatan sejarah dunia. Pada tahun 535 hingga 536 Masehi, berbagai peradaban mencatat fenomena yang tidak biasa. Matahari tampak redup selama berbulan-bulan. Musim berubah kacau balau. Panen gagal di banyak tempat. Suhu bumi turun drastis.
Catatan Dinasti Cina menyebutkan turunnya salju pada musim panas—sebuah anomali yang mengerikan. Sejarawan Bizantium, John dari Ephesus, menulis tentang matahari yang bersinar lemah, seperti bulan pucat yang tak mampu mengusir dingin. Dunia seakan diselimuti tirai debu raksasa.
Para ilmuwan modern menyebut periode ini sebagai salah satu anomali iklim terbesar dalam sejarah manusia. Lalu muncul pertanyaan berikutnya: dari mana asal debu vulkanik yang mampu menggelapkan langit seluruh dunia?
Sebagian peneliti menduga jawabannya berada di kawasan Nusantara. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) termasuk lembaga yang pernah mengkaji kemungkinan keterkaitan letusan purba di kawasan Selat Sunda dengan peristiwa iklim global tersebut. Jika dugaan itu benar, maka ledakan Batuwara bukan sekadar bencana regional. Ia adalah peristiwa geologis kolosal yang dampaknya menjangkau Cina, Timur Tengah, hingga Eropa, memengaruhi peradaban manusia lintas benua.
Bayangan itu terasa menggetarkan. Dari sebuah gunung yang kini nyaris terlupakan, dampaknya mungkin pernah merenggut nyawa dan mengubah nasib jutaan orang di belahan bumi lain.
Perdebatan di Dasar Laut
Namun, kisah Batuwara belum menemukan kata akhir. Di kalangan ilmuwan, identitas gunung ini masih menjadi bahan perdebatan sengit.
Sebagian peneliti meyakini Batuwara adalah nama kuno bagi “Krakatau Purba”. Dalam pandangan ini, Batuwara dan Krakatau merupakan satu tubuh gunung yang sama sebelum kehancuran besar menghancurkan sebagian besar strukturnya. Letusan dahsyat itu meruntuhkan kaldera, menciptakan ruang kosong yang kemudian diisi oleh laut.
Tetapi ada pula pandangan lain. Sejumlah ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) berpendapat bahwa Batuwara dan Krakatau mungkin merupakan dua struktur geologi yang berbeda. Keduanya berada sangat dekat, saling bertetangga, tetapi tidak identik. Mungkin Batuwara adalah gunung tetangga yang runtuh terlebih dahulu, meninggalkan rekahan yang kelak menjadi cikal bakal aktivitas vulkanik Krakatau.
Perdebatan itu memperlihatkan betapa bumi menyimpan banyak rahasia yang belum sepenuhnya terpecahkan. Lapisan batuan bisa dibaca seperti halaman buku sejarah. Endapan abu vulkanik dapat menjadi petunjuk waktu. Namun, tidak semua kisah masa lalu meninggalkan jejak yang lengkap. Kadang-kadang, sejarah bumi berbicara dalam bahasa yang terputus-putus, dan manusia hanya mampu menafsirkan serpihan-serpihannya.
Luka Bumi yang Menjadi Selat
Meski demikian, satu hal hampir pasti: kawasan Selat Sunda pernah mengalami bencana vulkanik yang luar biasa besar. Ledakan dahsyat itu diyakini memicu tsunami raksasa. Sebagian daratan ambles. Sebagian lainnya terbelah. Laut memasuki ruang yang sebelumnya merupakan daratan padat.
Dari peristiwa geologis yang berlangsung dalam hitungan jam atau hari itulah, bentang alam Nusantara berubah untuk selamanya. Selat Sunda lahir dari luka bumi. Air laut mengisi retakan raksasa yang memisahkan Jawa dan Sumatera. Dan sejarah kepulauan Indonesia memasuki babak baru, di mana laut bukan lagi penghalang, melainkan penghubung.
Kisah itu ternyata tidak berakhir bersama tenggelamnya gunung purba tersebut. Alam selalu memiliki cara untuk memulai kembali, bahkan di atas reruntuhan kehancuran.
Pada akhir Desember 1927, para pelaut melihat sesuatu yang tidak biasa di tengah kaldera bekas Krakatau. Asap putih muncul dari permukaan laut. Letupan-letupan kecil terdengar dari bawah air. Bumi yang selama ratusan tahun tertidur perlahan bergerak kembali.
Dari kedalaman laut, sebuah gunung baru lahir. Ia kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau. Seperti seorang anak yang tumbuh dari rahim ibunya yang terluka, gunung muda itu terus meninggi tahun demi tahun. Ia menjadi pengingat abadi bahwa siklus kehancuran dan penciptaan merupakan bagian dari denyut kehidupan bumi. Gunung tua boleh runtuh, tetapi api di dalam perut bumi tidak pernah benar-benar padam.
Di Antara Fakta dan Mitos
Hari ini, ketika wisatawan memandang Selat Sunda dari tepi pantai Anyer atau dari geladak kapal penyeberangan, yang terlihat hanyalah hamparan air biru dan siluet gunung di kejauhan. Pemandangan itu indah, menenangkan, dan seolah statis.
Namun, jauh di bawah permukaan laut itu, tersimpan jejak salah satu peristiwa geologis paling dahsyat yang pernah terjadi di Nusantara. Mungkin Gunung Batuwara memang hanya legenda, sebuah metafora kuno untuk menjelaskan ketakutan manusia akan alam. Atau mungkin pula ia adalah kenyataan historis yang belum sepenuhnya berhasil diungkap oleh ilmu pengetahuan karena terkubur terlalu dalam.
Tetapi seperti banyak kisah besar dalam sejarah manusia, daya tarik Batuwara justru terletak pada ruang di antara keduanya—antara fakta dan mitos, antara batuan keras dan cerita lunak. Di sanalah Batuwara terus hidup.
Ia bukan hanya sebagai gunung yang hilang. Ia adalah ingatan kolektif tentang betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam. Sebuah pengingat bahwa suatu ketika, alam pernah membelah daratan, menggelapkan langit dunia, dan mengubah peta bumi untuk selamanya. Dan kita, yang tinggal di atas puing-puing sejarah itu, hanya bisa menunduk hormat, sambil terus menelusuri jejak-jejaknya yang samar. (*)




