Jika Anda berdiri di tepi pantai utara Jawa atau menatap hamparan biru Selat Karimata dari ketinggian, apa yang Anda lihat hanyalah lautan. Air yang tenang, dangkal, dan membentang luas. Namun, 20.000 tahun lalu, mata Anda tidak akan melihat air. Anda akan melihat daratan. Hutan. Sungai-sungai raksasa. Dan mungkin, siluet samar seorang Homo erectus yang sedang berjalan kaki melintasi apa yang kini kita sebut sebagai laut.
Ini adalah kisah Sundaland. Atau dalam bahasa geologi: Paparan Sunda. Sebuah benua raksasa yang hilang, tenggelam perlahan oleh naiknya air laut, namun warisannya masih hidup di setiap helai rambut orangutan, di setiap gading badak, dan dalam DNA kita sendiri.
Ketika Asia dan Nusantara Menyatu
Bayangkan sebuah peta Asia Tenggara. Sekarang, hapus garis-garis batas negara. Hilangkan Laut Jawa, Selat Malaka, dan Selat Karimata. Apa yang tersisa? Sebuah daratan masif seluas 1,8 juta kilometer persegi. Luasnya hampir setara dengan gabungan wilayah Indonesia bagian barat saat ini, namun menyatu tanpa sekat air.
Inilah Sundaland.
Pada puncak Zaman Es terakhir, antara 110.000 hingga 12.000 tahun yang lalu, suhu bumi jauh lebih dingin. Es kutub menebal, mengunci triliunan ton air dalam bentuk padatan. Akibatnya, permukaan laut global turun drastis—hingga 130 meter di bawah posisi sekarang. Dasar laut yang kini tertutup air menjadi daratan kering yang tandus namun subur. Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan bahkan Palawan di Filipina, semuanya terhubung menjadi satu kesatuan daratan yang utuh dengan benua Asia.
Tidak ada perahu yang dibutuhkan untuk berpindah dari Jakarta ke Singapura, atau dari Pontianak ke Kuala Lumpur. Semuanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Kondisi iklim saat itu berbeda dari hutan hujan tropis lembap yang kita kenal sekarang. Sundaland purba cenderung lebih kering. Vegetasinya bukan hutan lebat yang gelap, melainkan sabana terbuka, padang rumput, dan hutan musim. Di tengah kekeringan itu, kehidupan justru meledak. Jaringan sungai purba mengalir deras, membelah daratan seperti urat nadi raksasa. Sistem lembah Paleo-Lupar di Kalimantan dan aliran-aliran purba di Jawa menjadi sumber kehidupan utama.
Jalur Tol Manusia Purba
Selama dekade, teori dominan menyatakan bahwa manusia purba bermigrasi menyusuri garis pantai (coastal migration). Mereka dianggap menghindari pedalaman yang keras. Namun, riset mutakhir dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membongkar asumsi itu.
Data seismik dan pemetaan geologi bawah laut mengungkapkan fakta mengejutkan: Sundaland dipenuhi oleh jaringan sungai purba yang kompleks. Sungai-sungai ini bukan sekadar aliran air; mereka adalah “jalur tol” ekologis.
Homo erectus, nenek moyang kita yang tiba di Jawa sekitar 1,5 juta tahun lalu, tidak berkeliaran tanpa arah. Mereka mengikuti aliran sungai. Di tepian sungai, mereka menemukan air minum, tanaman pangan, dan hewan buruan. Jejak hunian gua di Kalimantan dan temuan fosil Homo erectus berusia 140.000 tahun di dasar laut Selat Madura membuktikan bahwa wilayah ini dulunya padat aktivitas. Manusia purba hidup, berburu, dan berkembang biak di dataran yang kini telah menjadi dasar laut.
Mereka adalah penjelajah pertama yang memanfaatkan koridor darat ini sebelum gelombang berikutnya, Homo sapiens (manusia modern), tiba ribuan tahun kemudian. Migrasi ini membentuk keragaman genetik dan budaya awal di Nusantara, sebuah fondasi yang tak terlihat namun kokoh.
Dunia Megafauna dan Garis Wallace
Sundaland bukan hanya milik manusia. Ia adalah surga bagi megafauna—hewan-hewan berukuran raksasa khas Zaman Es. Gajah purba (Stegodon dan Elephas), banteng raksasa, kerbau purba, dan harimau berkeliaran bebas dari ujung Sumatera hingga Kalimantan.
Flora dan fauna di wilayah ini bercorak Asiatis kuat. Orangutan berbulu merah, Badak Sumatera dan Jawa yang bercula, Bekantan si monyet berhidung panjang, serta Lutung Berekor Babi Mentawai yang langka, semua adalah pewaris langsung ekosistem Sundaland. Di dunia tumbuhan, hutan Dipterokarp menjulang tinggi menjadi kanopi raksasa, sementara bunga parasit Rafflesia arnoldii dan Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum) berevolusi di bawah naungan pepohonan purba tersebut.
Namun, Sundaland memiliki batas timur yang tegas: Garis Wallace. Garis khayal yang memisahkan fauna tipe Asia di barat dengan fauna tipe Australasia di timur. Di sebelah timur garis ini, di zona transisi Wallacea, Anda tidak akan menemukan harimau atau badak. Sebaliknya, kuskus dan burung cendrawawa mulai muncul. Garis ini adalah saksi bisu bahwa meski Sundaland menyatu dengan Asia, ia tetap terpisah secara biologis dari Australia karena kedalaman laut di selat-selat timur yang tidak pernah kering sepenuhnya.
Tragedi Perlahan: Ketika Air Kembali
Sekitar 12.000 tahun lalu, Zaman Es berakhir. Suhu bumi mulai menghangat. Es di kutub utara dan selatan mencair dalam volume masif. Permukaan laut naik kembali, setinggi 120 meter, menelan dataran rendah Sundaland secara perlahan namun pasti.
Proses ini tidak terjadi dalam semalam. Ia berlangsung selama ribuan tahun. Generasi demi generasi manusia purba mungkin menyaksikan garis pantai mundur ke daratan. Hutan-hutan tempat mereka berburu perlahan tergenang. Lembah-lembah sungai berubah menjadi selat. Daratan yang luas pecah menjadi pulau-pulau terpisah: Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan ratusan pulau kecil lainnya.
Laut Jawa dan Selat Karimata lahir dari reruntuhan benua ini. Apa yang dulu adalah padang rumput kering kini menjadi perairan dangkal yang kaya ikan. Apa yang dulu adalah jalur migrasi kaki kini menjadi rute pelayaran kapal.
Warisan di Dasar Laut
Kini, Sundaland tidak lagi tampak di permukaan. Ia mirip dengan Zealandia di Pasifik atau Greater Adria di Eropa—benua-benua lain yang tenggelam. Namun, Sundaland berbeda. Ia tidak benar-benar hilang. Ia berubah wujud.
Sejarah evolusi manusia di Nusantara tersimpan di bawah lumpur dasar laut. Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di Selat Madura adalah bukti fisik bahwa leluhur kita pernah menguasai daratan ini. Pemetaan modern terus merekonstruksi lembah-lembah sungai purba yang terendam, memberikan petunjuk baru tentang bagaimana nenek moyang kita bertahan hidup.
Sundaland mengajarkan kita tentang kerentanan dan ketahanan. Ia mengingatkan bahwa geografi bukanlah takdir yang statis. Daratan bisa menjadi laut, dan laut menyimpan rahasia daratan. Bagi kita, warga Nusantara modern, Sundaland adalah akar biologis dan geografis kita. Kita adalah anak-anak dari benua yang hilang, yang mewarisi tanahnya dalam bentuk kepulauan, dan mewarisi semangat jelajahnya dalam darah.
Saat Anda menyeberangi Laut Jawa hari ini, ingatlah: Anda tidak sedang melintasi kekosongan. Anda sedang melayang di atas sejarah. Di kedalaman 40 atau 50 meter di bawah lunas kapal, terdapat jejak langkah kaki pertama yang menyatukan Asia dengan Nusantara. Jejak yang tenggelam, namun tak pernah dilupakan oleh alam. (, Christian Saputro)




