Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis penyuka film dan musik tinggal di Semarang
Mandiri Sahabat Difabel dan Malam yang Mengubah Bioskop Menjadi Ruang Pelukan Sosial
Di sebuah malam yang basah oleh cahaya lampu kota, lorong-lorong DP Mall Semarang dipenuhi langkah-langkah kecil yang terdengar riang. Beberapa anak menggenggam tangan relawan. Sebagian lain memandang poster film dengan mata berbinar. Aroma popcorn bercampur tawa, percakapan pendek, dan sesekali rasa gugup yang samar.
Di lantai bioskop Cinema XXI itu, Senin malam (25/5/2026), orang-orang berkumpul bukan semata untuk menonton film. Mereka datang untuk saling menemukan.
Program “Mandiri Sahabat Difabel” malam itu menjelma lebih dari sekadar agenda sosial perusahaan. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan: tempat tangan-tangan yang berbeda saling merangkul tanpa syarat.
Anak-anak dari Yayasan Al Kahfi Semarang dan Yayasan Rumah Difabel Semarang duduk berdampingan dengan pegawai bank, relawan, influencer, hingga para tamu undangan. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak. Hanya ada kursi-kursi gelap bioskop yang perlahan dipenuhi kehangatan manusia.
Di depan layar yang belum menyala, dua pembawa acara membuka malam dengan suara cerah. Mereka berbicara tentang harapan, tentang perjuangan, dan tentang keyakinan bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan yang sama untuk bertumbuh.
“Film ini bukan hanya tontonan,” kata mereka, “tetapi cerita tentang kekuatan untuk tetap melangkah dalam keadaan apa pun.”
Kalimat itu melayang pelan di ruang teater. Lalu diam-diam menetap di hati banyak orang.
Mungkin sebab semua yang hadir malam itu tahu: hidup tak selalu ramah bagi mereka yang berbeda.
Di tengah dunia yang sering tergesa menilai kekurangan orang lain, malam itu justru menghadirkan jeda. Sebuah jeda yang memungkinkan orang-orang saling memandang sebagai manusia—bukan label.
Regional CEO Bank Mandiri Region 7 Jawa 2, Iwan Tri Irmawan, berdiri di depan layar bioskop dengan nada bicara sederhana. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.
Ia menyebut kebersamaan sebagai rezeki.
“Kalau kita bisa berkumpul bersama seperti malam ini, itu rezeki,” ujarnya. “Kita saling berbagi, saling mengisi.”
Barangkali memang sesederhana itu makna kemanusiaan: hadir dan menemani.
Program ini merupakan bagian dari rangkaian ulang tahun ke-28 Bank Mandiri melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Tetapi malam itu, angka-angka korporasi terasa jauh. Yang dekat justru mata anak-anak yang tak berhenti memandangi layar dengan antusias.
Film yang diputar berjudul Semua Akan Baik-Baik Saja. Sebuah kisah tentang kehilangan, keluarga, dan perjuangan bertahan hidup setelah duka.
Tokoh utamanya, Langit, harus hidup dengan luka setelah kepergian saudaranya, Mentari. Ia kemudian menjadi pengganti orang tua bagi tiga keponakannya: Malika, Shaffa, dan Alim.
Di antara seluruh karakter, sosok Alim paling lama tinggal di ingatan malam itu.
Alim adalah anak berkebutuhan khusus. Dalam cerita film, ia bukan hanya karakter pelengkap, melainkan cermin tentang bagaimana masyarakat kerap gagal memahami mereka yang berbeda. Tatapan sinis, diskriminasi, dan kesepian menjadi bagian hidup yang harus dihadapi.
Tetapi film itu juga memperlihatkan sesuatu yang lebih penting: bahwa kasih sayang dapat menjadi rumah paling aman bagi siapa pun.
Beberapa kali ruang bioskop menjadi sunyi. Bukan karena penonton kehilangan perhatian, melainkan karena banyak yang sedang menahan haru. Ada yang diam-diam menyeka mata. Ada yang menggenggam tangan temannya lebih erat.
Di barisan tengah, seorang anak tertawa kecil saat adegan lucu muncul. Di sudut lain, seorang ibu relawan menatap layar sambil berkaca-kaca.
Barangkali karena mereka melihat diri mereka sendiri di sana.
Karena hidup, pada akhirnya, adalah perjuangan untuk diterima.
Dan malam itu, bioskop menjadi tempat di mana penerimaan terasa nyata.
Di luar gedung, Semarang tetap sibuk dengan lalu lintas dan bunyi klakson yang tak pernah benar-benar tidur. Namun di dalam ruang gelap itu, waktu seperti melambat. Orang-orang diberi kesempatan untuk percaya bahwa dunia masih mungkin menjadi tempat yang lebih lembut.
Bahwa langkah kecil—mengajak menonton bersama, berbagi kursi, berbagi tawa, berbagi perhatian—dapat tumbuh menjadi harapan besar.
Ketika film usai dan lampu bioskop kembali menyala, para penonton berdiri perlahan. Sebagian masih membicarakan adegan favorit mereka. Sebagian lain sibuk berfoto bersama.
Tetapi ada sesuatu yang tertinggal lebih lama dari sekadar cerita film.
Sebuah perasaan bahwa malam itu, mereka tidak sedang menonton kisah di layar.
Mereka sedang merayakan keberanian untuk saling menguatkan. (*)




