JAKARTA — Nama Prof. Satyanegara kembali mendapat pengakuan atas dedikasi panjangnya di dunia kedokteran Indonesia. Dokter ahli bedah saraf senior itu dinilai memenuhi kriteria sebagai narasumber pilihan dalam proyek dokumentasi sejarah tahunan “Successful People in Indonesia” yang disusun Britishpedia.
Namun, sebelum wawancara dimulai di ruang kerjanya di Tzu Chi Hospital kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Prof. Satyanegara justru mengajukan pertanyaan kepada tim editor Britishpedia.
“Koq bisa mau bikin feature mengenai saya?” tanya Prof. Satyanegara kepada editor Britishpedia.
Pertanyaan itu dijawab dengan penjelasan mengenai tiga kriteria utama pemilihan narasumber, yakni kontribusi bagi masyarakat luas, dampak terhadap publik, serta komitmen dan konsistensi dalam bidang yang digeluti.
Editor Britishpedia, Elvira Savitri, mengatakan pihaknya telah melakukan riset mendalam sebelum menentukan sosok yang akan diangkat dalam dokumentasi tahunan tersebut.
“Kami melihat kontribusi Prof sangat besar, terutama dalam dunia kedokteran dan bedah saraf. Selain itu, komitmen beliau bukan hanya dua atau tiga tahun, tetapi hampir enam dekade,” ujar Elvira.
Britishpedia sendiri merupakan proyek dokumentasi tokoh-tokoh inspiratif Indonesia yang telah berjalan sejak 2013. Melalui buku tahunan “Successful People in Indonesia”, lembaga tersebut berupaya merekam perjalanan hidup para tokoh yang dianggap memberi pengaruh besar bagi masyarakat.
Menurut Elvira, proses pemilihan narasumber dilakukan secara selektif dan bersifat invitation only. Dokumentasi tersebut diposisikan sebagai warisan sejarah yang dapat dibaca lintas generasi.
“Kami ingin mengukir sejarah melalui orang-orang yang selama ini memberikan kontribusi luar biasa. Buku ini menjadi bentuk legacy karena informasi yang terdokumentasi memiliki validasi yang jelas,” katanya.
Britishpedia menyebut distribusi buku dilakukan melalui jaringan perwakilan di sembilan negara dan diberikan sebagai hibah kepada perpustakaan nasional, perpustakaan daerah, hingga universitas.
Dalam sesi wawancara itu, Prof. Satyanegara sempat bertanya apakah dirinya menjadi narasumber paling senior dalam proyek tersebut. Elvira kemudian menyebut nama Mirtha Kartohadiprodjo, pendiri Femina Group, yang sebelumnya juga diwawancarai Britishpedia.
Meski demikian, Britishpedia menilai Prof. Satyanegara memiliki karakter tersendiri karena hingga kini masih aktif memberikan pelayanan kesehatan di berbagai rumah sakit.
Dalam wawancara tersebut, Prof. Satyanegara juga membagikan kisah perjalanan hidupnya yang sarat tekanan sekaligus keteguhan. Sosok yang lahir dengan nama Tionghoa Oei Kim Seng itu mengenang momen saat berangkat ke Jepang untuk belajar kedokteran pada 1958.
“Ayah saya bilang, ‘Nak, kalau kamu tidak berhasil, pertemuan ini adalah pertemuan yang terakhir.’ Saya merasa sangat tertekan, tetapi sekaligus termotivasi,” kenangnya.
Kalimat itu, menurutnya, menjadi cambuk yang membentuk disiplin dan daya juang selama menempuh pendidikan di Jepang.
Empat belas tahun kemudian, tepatnya pada 18 September 1972, ia kembali ke Indonesia dengan semangat pengabdian yang kuat. Kepulangannya terjadi setelah dirinya dipanggil Presiden ke-2 RI Soeharto untuk membantu memajukan dunia kesehatan nasional, khususnya bidang bedah saraf.
“Dengan kibaran Merah Putih di belakang tubuh ketika saya menginjakkan kaki di bandara, saya sangat bangga menjadi Indonesia,” ujarnya.
Perjalanan hidup Prof. Satyanegara sebelumnya juga telah dituangkan dalam sejumlah buku biografi, antara lain “Ayat-ayat Filosofi Satyanegara” dan “Senyum Samurai Satyanegara”. Buku-buku tersebut merekam perjalanan hidupnya mulai dari masa kecil, pendidikan di Jepang, hingga pengabdiannya membangun dunia bedah saraf Indonesia.
Sebagai diaspora Indonesia keturunan Tionghoa yang dipercaya negara untuk mengemban amanah strategis di bidang kesehatan, Prof. Satyanegara menjadi salah satu saksi hidup perjalanan panjang pembangunan medis nasional. Sosoknya bukan hanya dikenal sebagai dokter bedah saraf, melainkan juga figur yang menjembatani profesionalisme, nasionalisme, dan ketekunan lintas generasi. (Christian Saputro/SL)




