SEMARANG — Pagi belum sepenuhnya beranjak siang ketika sapaan “Bonjour!” bergema di Aula Alliance Française Semarang, Jalan Dr. Wahidin No. 54, Candisari, Jumat (10/7/2026). Sesaat kemudian, tubuh-tubuh muda mulai bergerak perlahan. Jemari menari, langkah mengalun, sementara irama Jawa mengisi ruang yang sama dengan bunyi-bunyi bahasa Prancis. Dua kebudayaan yang lahir dari benua berbeda bertemu dalam satu panggung bernama “Java Broadway: Menari Ala Musikal & Belajar Bahasa Prancis.”
Kolaborasi antara Alliance Française Semarang dan Sanggar Sekar Rinonce Salatiga itu bukan sekadar lokakarya tari ataupun kelas bahasa. Ia menjelma ruang perjumpaan, tempat seni berbicara melampaui batas negara, bahasa, bahkan sejarah.
Selama tiga jam, peserta diajak memasuki dunia yang memadukan keanggunan tari Jawa dengan energi teater musikal. Eldo, Creative Director Sanggar Sekar Rinonce, membimbing setiap gerak agar tidak hanya indah dipandang, tetapi juga bercerita. Di sela-sela latihan, Intan Pratiwi, mentor bahasa Prancis dari Alliance Française Semarang, mengajak peserta mengenal kosakata dan ungkapan dasar dalam bahasa Prancis melalui metode yang ringan dan interaktif.
Di ruangan itu, bonjour tidak lagi terasa asing. Ia hadir berdampingan dengan lenggak tangan, lirikan mata, dan langkah halus tari Jawa. Bahasa dan gerak menemukan irama yang sama.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, mengatakan seni dan bahasa merupakan dua medium paling ampuh untuk membangun jembatan antarmanusia.
“Alliance Française sejak awal hadir sebagai ruang perjumpaan budaya. Kami percaya bahwa bahasa dan seni mampu membangun saling pengertian, mempererat persahabatan, serta membuka wawasan lintas budaya,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Menurutnya, pengemasan tari Jawa dalam format musikal menjadi bukti bahwa tradisi tidak pernah berhenti berkembang. Nilai-nilai budaya tetap terjaga, namun tampil dalam wajah baru yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Kami berharap peserta tidak hanya belajar gerak tari atau mengenal beberapa kosakata bahasa Prancis, tetapi juga merasakan bahwa seni adalah bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai latar belakang,” katanya.
Harapan itu sejalan dengan perjalanan Sanggar Sekar Rinonce, yang sejak didirikan pada 2002 oleh Amrih Gunarto, S.Sn., M.Pd., konsisten merawat tari tradisional melalui pendekatan kreatif. Sanggar asal Salatiga tersebut dikenal menghadirkan pertunjukan yang memadukan tari, teater, musik, dan narasi sejarah menjadi sebuah pengalaman artistik yang utuh.
Jejak kreativitas itu baru saja terlihat pada pementasan drama musikal kolosal “Salatiga: Het Mooiste Stadje” di Radjawali SCC pada 26 Juni 2026. Pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa seni tradisi tidak harus tinggal di ruang nostalgia. Ia dapat tumbuh menjadi bahasa pertunjukan kontemporer yang komunikatif, tanpa kehilangan akar budayanya.
Semangat yang sama terasa dalam Java Broadway. Tari Jawa yang berpijak pada harmoni wiraga, wirama, dan wirasa dipadukan dengan dinamika musikal modern. Tradisi tidak dipertentangkan dengan modernitas, melainkan diajak berdialog.
Di tengah dunia yang semakin cair oleh arus globalisasi, kolaborasi seperti ini menjadi pengingat bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung di meja perundingan. Ia juga hidup di ruang-ruang seni, ketika gerak tubuh, nada, dan bahasa saling menyapa dengan penuh penghormatan.
Ketika lokakarya berakhir, para peserta memang membawa pulang beberapa kosakata baru dalam bahasa Prancis dan pengalaman menari yang berbeda. Namun lebih dari itu, mereka membawa pulang kesadaran bahwa kebudayaan tidak pernah mengenal sekat.
Sebab, ketika lenggak tari Jawa bertemu sapaan “Bonjour”, yang sesungguhnya sedang lahir adalah bahasa persahabatan—bahasa yang dipahami oleh siapa pun, di mana pun, melalui kekuatan seni yang universal. (Christian Saputro)




