Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Sebuah patung lazimnya mengajarkan kesunyian. Ia diam. Tegak. Membiarkan mata bekerja keras menangkap lekukan, tekstur, dan proporsi, sementara telinga beristirahat dalam hening. Selama berabad-abad, patung dipahami sebagai seni yang mengabadikan bentuk—merekam tubuh, memori, atau gagasan ke dalam material yang keras: batu, perunggu, atau kayu. Material yang nyaris tak berubah, abadi dalam ketiadaan suara.
Namun di Jogja Gallery, pada pameran Mini Monumenta: Cemekel yang digelar oleh Asosiasi Pematung Indonesia, Iwan Hasto mengajukan kemungkinan lain yang mengguncang kebiasaan indra kita.
Patung ternyata dapat mendengar.
Patung bahkan dapat menjawab.
Karyanya yang berjudul Sedemikian Rupa, Sedemikian Suara tidak meminta penonton untuk berhenti pada pengalaman visual semata. Ia mengajak tubuh bergerak mendekat, melampaui batas aman “jangan disentuh”, lalu membiarkan kehadiran manusia menjadi bagian integral dari proses penciptaan itu sendiri.
Ukurannya kecil, hanya 25 × 20 × 25 sentimeter. Nyaris seukuran telapak tangan yang direntangkan. Terbuat dari benda-benda siap pakai (ready-made) yang dipadukan dengan perangkat elektronik sederhana dan sistem mekanika terprogram. Tidak ada kemewahan material marmer atau kilau logam mulia yang biasa melekat pada seni patung klasik. Yang hadir justru benda-benda akrab dari sudut ruang kerja atau meja eksperimen: kabel, sensor, potongan besi, dan komponen mekanis yang tampak apa adanya.
Tetapi justru di situlah kejutan bermula. Di balik kesederhanaan visual yang nyaris biasa itu, tersimpan sebuah mekanisme responsif yang hidup.
Ketika seseorang mendekat, sensor membaca keberadaan tubuh tersebut. Mekanisme halus bergerak. Lalu, suara lahir.
Bukan suara yang kebetulan muncul dari rekaman acak. Melainkan suara yang dipanggil secara spesifik oleh kehadiran manusia. Pada saat itu, batas antara penonton dan karya lenyap perlahan. Yang semula hanya hubungan satu arah antara subjek (penonton) dan objek (patung) berubah menjadi percakapan dua arah. Patung tidak lagi menjadi sesuatu yang “selesai” ketika seniman meletakkan alat kerjanya terakhir kali. Ia baru benar-benar hidup, baru benar-benar utuh, ketika seseorang hadir untuk mengaktifkannya.
Iwan Hasto tampaknya sedang menggeser paradigma cara kita memahami seni patung. Selama ini, patung identik dengan massa, volume, dan bentuk yang dapat disentuh secara fisik. Dalam karya ini, suara menjadi bagian dari material itu sendiri. Bunyi tidak lagi menjadi pelengkap atau efek samping, melainkan tubuh kedua dari patung tersebut. Yang terlihat dan yang terdengar saling melengkapi, saling menerjemahkan, dan saling memberi makna yang lebih dalam.
Rupa berubah menjadi suara.
Suara kembali membentuk rupa di dalam imajinasi pendengar.
Keduanya bergerak dalam satu tarikan napas yang sama.
Pilihan menggunakan ready-made juga memperlihatkan keberanian artistik Iwan Hasto. Ia tidak sedang mencari keindahan melalui material yang mahal atau teknik pahat yang rumit dan virtuosik. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa benda-benda biasa menyimpan kemungkinan estetik yang luar biasa ketika ditempatkan dalam relasi baru dengan manusia dan teknologi. Benda mati diberi nyawa melalui interaksi.
Yang menarik, teknologi dalam karya ini tidak tampil sebagai simbol kemajuan, kecanggihan, atau dominasi mesin atas manusia. Sensor dan perangkat elektronik justru bekerja nyaris tanpa disadari, menyatu dengan estetika karya. Teknologi menjadi bahasa yang sunyi, memungkinkan karya merespons manusia secara alamiah dan intuitif. Tidak ada kesan demonstratif atau pamer fitur. Yang terasa justru kelembutan sebuah perjumpaan, seperti jabat tangan tak kasat mata antara benda dan penghuni ruang.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi interaksi digital yang dingin dan berjarak, karya ini mengingatkan bahwa teknologi tidak selalu menciptakan alienasi. Ia juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dengan pengalaman estetik yang lebih intim, lebih personal, dan lebih manusiawi.
Judul Sedemikian Rupa, Sedemikian Suara menyimpan lapisan makna yang menarik. Seolah Iwan Hasto hendak mengatakan bahwa setiap bentuk memiliki gema. Bahwa setiap rupa membawa potensi untuk berbicara, jika saja ada yang mau mendengarkan. Dan setiap suara selalu membutuhkan seseorang yang bersedia hadir untuk mendengarkannya, agar ia tidak hilang sia-sia di udara.
Maka, karya ini sesungguhnya bukan tentang mesin. Bukan pula tentang sensor atau sirkuit elektronik. Apalagi sekadar eksperimen teknis belaka. Ia adalah renungan mendalam mengenai hubungan. Hubungan antara benda dan manusia. Antara ruang kosong dan tubuh yang mengisinya. Antara diam yang mencekam dan bunyi yang menenangkan. Antara kehadiran fisik dan makna spiritual.
Di dalam pameran bertajuk Mini Monumenta: Cemekel, yang mengajak para pematung memikirkan kembali gagasan tentang monumen dalam skala kecil dan intim, karya Iwan Hasto menawarkan tafsir yang segar dan relevan. Monumen tidak harus menjulang tinggi ke langit untuk dikenang. Ia tidak harus terbuat dari batu granit yang kokoh. Ia dapat hadir dalam ukuran yang nyaris seukuran genggaman tangan, tetapi mampu meninggalkan gema panjang di dalam kesadaran penikmatnya.
Barangkali itulah sebabnya karya ini terasa begitu relevan dengan zaman kita. Di era ketika manusia semakin terbiasa menyentuh layar kaca dingin daripada menyentuh pengalaman nyata, Iwan Hasto justru mengajak kita melakukan tindakan paling sederhana namun paling radikal: mendekat.
Karena hanya dengan kedekatan, sensor bekerja.
Hanya dengan kehadiran, suara lahir.
Dan hanya melalui perjumpaan yang tulus, sebuah patung akhirnya menemukan napasnya, bernapas bersama kita, dan bercerita tentang siapa kita sebenarnya.
Profil Singkat: Iwan Hasto
Iwan Hasto adalah pematung Indonesia yang dikenal melalui karya-karya inovatif yang menggabungkan benda siap pakai (ready-made), mekanisme sederhana, elemen suara, dan interaksi langsung dengan penonton. Dalam praktik artistiknya, ia memandang patung bukan semata-mata sebagai objek statis yang diam, melainkan sebagai medium yang hidup dan dinamis ketika berhadapan dengan ruang, gerak, dan kehadiran manusia.
Melalui pendekatan yang peka terhadap material sehari-hari, Iwan Hasto kerap menghadirkan karya yang mengundang partisipasi aktif penonton. Sensor, bunyi, dan unsur teknologi menjadi bagian integral dari bahasa visualnya, memperluas pengertian tradisional tentang patung sebagai pengalaman yang tidak hanya dilihat, tetapi juga didengar, dirasakan, dan dialami secara kinestetik.
Karya-karyanya menunjukkan perhatian mendalam pada hubungan dialektis antara rupa dan suara, antara benda mati dan tubuh hidup, serta antara teknologi dan pengalaman manusiawi. Dengan cara itu, Iwan Hasto terus mengeksplorasi kemungkinan baru seni patung di tengah perubahan zaman yang cepat, tanpa melepaskan kedekatan karya dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Melalui eksplorasi tersebut, Iwan Hasto menegaskan bahwa patung tidak harus monumental dalam ukuran fisik untuk bermakna besar. Dalam tangannya, patung menjadi ruang pertemuan yang sederhana namun hidup, tempat benda-benda biasa memperoleh suara, dan penonton menjadi bagian tak terpisahkan dari karya itu sendiri. (*)




