Puisi Christian Heru Cahyo Saputro
Aku mengingat hari pertama itu—
sebuah ruang sederhana,
dengan mimpi yang bahkan belum punya nama.
Tak ada gemuruh,
tak ada sorak,
hanya langkah kecil
dan keyakinan yang sering diuji diam-diam.
Di sudut kota yang bergerak cepat,
aku memilih berjalan pelan—
bersama mereka
yang sering dipaksa tertinggal oleh dunia.
Namaku Noviana.
Dan ini bukan sekadar cerita,
ini perjalanan panjang
yang kadang terasa seperti menenun luka menjadi cahaya.
Dua belas tahun—
bukan angka yang singkat
untuk menampung harapan
yang berkali-kali nyaris patah.
Aku menyebutnya rumah:
Roemah D.
Bukan bangunan,
bukan sekadar program,
tetapi ruang untuk percaya
bahwa manusia tidak diukur dari tubuhnya,
melainkan dari martabatnya.
Di sini,
aku belajar mendengar tanpa menghakimi,
melihat tanpa mengasihani,
dan mencintai tanpa syarat.
Ada hari-hari yang ringan,
ketika tawa sahabat difabel
mengalir seperti air jernih—
menghapus letih yang tak sempat kuucapkan.
Namun lebih sering,
ada hari-hari yang berat.
Hari ketika proposal ditolak,
ketika pintu-pintu tertutup rapat,
ketika dunia berkata:
“Ini bukan prioritas.”
Hari ketika kami harus menjelaskan berulang kali
bahwa inklusi bukan belas kasihan,
melainkan hak.
Hari ketika aku pulang
dengan tubuh lelah
dan hati yang bertanya,
“Apakah ini akan cukup?”
Aku pernah menangis diam-diam.
Di ruang kosong,
di sela kegiatan,
di antara senyum yang harus tetap kujaga.
Bukan karena aku lemah,
tetapi karena perjuangan ini
tidak selalu memberi jawaban.
Bagaimana menjelaskan pada dunia
bahwa mereka bukan beban?
Bahwa kursi roda bukan batas?
Bahwa keterbatasan bukan alasan
untuk menyingkirkan seseorang dari mimpi?
Namun setiap kali hampir menyerah,
aku melihat mereka—
sahabat-sahabatku,
yang bangkit dengan cara yang tak pernah diajarkan buku.
Mereka yang tertawa
meski dunia sering tak adil.
Mereka yang berani bermimpi
meski ruangnya sempit.
Mereka yang mengajarkanku arti kuat
tanpa perlu berkata-kata.
Dan aku tahu,
aku tidak boleh berhenti.
Dua belas tahun ini
adalah cerita tentang jatuh dan bangkit,
tentang ditolak dan diterima,
tentang lelah yang berubah menjadi tekad.
Kami berjalan bersama—
bukan untuk dikasihani,
tetapi untuk diakui.
Kami tidak meminta lebih,
kami hanya ingin setara.
Setara untuk belajar,
setara untuk bekerja,
setara untuk bermimpi,
setara untuk dihormati sebagai manusia.
Kota ini,
yang sibuk dengan gedung dan ambisi,
perlahan mulai belajar mendengar.
Sedikit demi sedikit,
pintu itu terbuka.
Bukan karena keajaiban,
tetapi karena keberanian
yang terus diulang setiap hari.
Aku masih di sini.
Masih berjalan,
masih percaya,
meski jalannya tak selalu terang.
Karena aku tahu,
dunia inklusi bukan tujuan akhir—
ia adalah perjalanan panjang
yang harus terus dijaga nyalanya.
Dan jika suatu hari nanti
langkahku harus melambat,
aku ingin melihat mereka berdiri—
dengan kepala tegak,
dengan suara yang didengar,
dengan martabat yang tak lagi diragukan.
Hari itu,
aku akan tahu,
bahwa dua belas tahun ini
tidak sia-sia.
Sebab kami bukan sekadar bertahan—
kami sedang mengubah cara dunia memandang.
Dan di setiap langkah kecil itu,
aku menemukan arti hidup yang sesungguhnya:
menjadi jembatan,
bagi mereka
untuk sampai pada kesetaraan.
Semarang 14 April 2026




