JAKARTA, 12 April 2026 — Pameran seni rupa kontemporer Indonesian Women Artists #4: ON THE MAP — Towards New Futures di Galeri Nasional Indonesia memasuki fase puncak dengan kehadiran karya instalasi dan performativitas tanah dari perupa perempuan Endang Lestari. Melalui seri bertajuk Geophagia Memoria (2026), Endang menghadirkan pengalaman artistik yang memadukan material, tubuh, dan spiritualitas dalam satu lanskap reflektif.
Pameran yang diselenggarakan oleh Yayasan Cemara Enam bekerja sama dengan Museum dan Cagar Budaya ini berlangsung di Gedung A dan terbuka untuk publik hingga 30 Juni 2026. Kurasi ditangani oleh Carla Bianpoen, Nyoman Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi.
Dalam karya Geophagia Memoria, Endang mengeksplorasi relasi antara tubuh manusia dan tanah sebagai ruang ingatan.
Ia menggunakan material terakota, serbuk tanah di atas kanvas, plywood, logam galvanis, hingga medium video untuk membangun abstraksi berlapis. Konsep ‘memakan tanah’ (geophagia) dipadukan dengan ‘ingatan’ (memoria), menghadirkan tafsir baru atas hubungan manusia dengan bumi.
Latar belakang Endang yang lahir di Aceh dari keluarga Jawa turut membentuk lanskap simbolik dalam karyanya. Bentang alam Sumatra dan Jawa berkelindan dalam visual yang menghadirkan narasi identitas, migrasi, dan persilangan budaya.
Salah satu daya tarik utama karya ini adalah elemen performativitas yang ditampilkan saat pembukaan pameran dan direkam dalam video. Endang mengangkat kembali ritual Peusijuek, sebuah praktik sakral masyarakat Aceh sebagai simbol pendinginan dan penyembuhan. Dalam performans tersebut, ia berinteraksi langsung dengan air, dedaunan, dan tanah, menghadirkan ruang pamer sebagai situs spiritual.
“Performativitas tanah bukan sekadar teatrikal, tetapi ritus untuk mengembalikan material kepada kebijaksanaan alam,” ujar Endang.
Secara konseptual, karya ini juga menyinggung sejarah panjang eksploitasi sumber daya alam, migrasi paksa, hingga kekerasan ekologis. Melalui tekstur retak terakota, fosil laut, dan motif botani, Endang membangun arsip visual yang merekam jejak luka bumi sekaligus harapan pemulihan.
Ia menegaskan bahwa bumi bukan objek pasif, melainkan subjek yang menyimpan ingatan. “Bumi mengingat apa yang sering dilupakan manusia. Melalui karya ini, saya mencoba berdialog dengan luka itu,” katanya.
Kehadiran Endang Lestari dalam IWA #4 menegaskan posisinya sebagai salah satu perupa perempuan yang konsisten mengolah material tanah sebagai medium refleksi sosial, historis, dan ekologis. Bersama 12 perupa lintas generasi, pameran ini menawarkan pembacaan alternatif atas sejarah seni rupa Indonesia sekaligus menandai transisi menuju format Biennale Perempuan.
Publik dan pencinta seni diundang untuk menyaksikan langsung instalasi dan performativitas Geophagia Memoria di Galeri Nasional Indonesia hingga akhir Juni mendatang. (Christian Saputro)




