Investasi Bodong Dibongkar, Polisi Bekuk Otak Pelaku Seorang Guru Madrasah

Bogor – Investasi bodong kembali mengemuka. Sat Reskrim Polres Bogor berhasil membongkar pelaku penipuan, penggelapan dengan cara menghimpunan dana, tak dilengkapi perizinan bermodus Investasi.

Pelaku janjikan nasabah keuntungan 40 persen, alih-alih program tabungan, Arisan hingga sembako di Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.

Satreskrim mengamankan seorang tersangka berinisial IR (32), merupakan seorang guru Madrasah yang mengajar di Kecamatan Sukmajaya.

Kapolres Bogor AKBP Harun mengatakan, tersangka IR dalam menjalankan aksinya dengan cara menghimpun dana dari orang terdekat tersangka (keluarga dan tetangga), mengajak menanam modal dalam bentuk uang pada bulan Oktober 2019.

Modus mengumpukan dana besaran rata-ratanya sebesar 2 juta hingga 5 juta rupiah dan dikumpulkan dan di simpan tersangka IR.

Uang yang terkumpul dari nasabah kemudian nasabah disuruh mengisi saldo Aplikasi Trading Binomo. Para nasabah yang menanamkan modalnya di janjikan keuntungan sebesar 40% setiap bulan.

“Awal bisnis investasi berjalan lancar dan keuntungan pun diberikan kepada para nasabah,” kata Kapolres Bogor AKBP Harun dalam rilis yang diterima Jumat (24/9/2021)

Baca Juga :  Dua Kapolsek dan Dua Kasat Diganti, Susatyo: Semoga Jadi Ladang Ibadah

Karena merasa ada keuntungan, membuat nasabah atau Investor semakin percaya untuk menanam modal Investasi saham semakin banyak. Tersangka IR merekrut beberapa orang untuk dijadikan karyawan. Pada bulan Juli tersangka IR sering mengalami kekalahan di trading saham aplikasi Binomo.

“Tersangka tetap menghimpun dana dari para investornya, uang yang terkumpul, digunakan untuk membayar keuntungan/ profit yang di janjikan kepada nasabah,” katanya.

Pada awal Juli 2020 tersangka IR mendirikan Koperasi Konsumen Bhakti Kirana Mandiri dan melakukan perubahan teknis, pemberian keuntungan yang tadinya di berikan setiap awal bulan mejadi 3 (tiga) bulan sekali dan merubah tanda bukti investasi para nasabah.

Seiring berjalannya waktu kata Kapolres tersangka IR, tidak dapat lagi merealisasikan keuntungan para investornya. Begitu juga modal investasi tidak pernah dikembalikan.

Akibatnya, para nasabah merasa dikelabui oleh tersangka dan dana yang dijanjikan keuntungan 40 % tak dapat diwujudkan, modal pun tidak dapat dikembalikan korban hingga melaporkan ke Polres Bogor.

Baca Juga :  Pemkot Bogor Kerjasama Dengan UNDP, Lokakarya Tata Kelola Pemerintahan

Tersangka sempat melarikan diri dan diamankan Tim Resmob dikontrakan tersangka di Kampung Paseh, Desa Padasuka, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.

Berdasarkan data rekapan yang didapat dari Saksi Wahyudi, korban Bisnis investasi tersebut mencapai 837 orang dengan nilai tabungan/ investasi sebesar Rp.15.841.908.134,00 (Lima belas milyar delapan ratus empat puluh satu juta sembilan ratus delapan ribu seratus tiga puluh empat rupiah).

Ditambahkan, seorang nasabah EEM melalui program Arisan dan sembako yang telah menyetor pada tersangka sebesar Rp.7.588.361.000,00 (tujuh milyar lima ratus delapan puluh delapan juta tiga ratus enam puluh satu ribu rupiah) juga bermasalah.

“Total dana yang masuk pada tersangka sekitar Rp.23.430.269.134,00 (dua puluh tiga miliar empat ratus tiga puluh juta dua ratus enam puluh sembilan ribu seratus tiga puluh empat rupiah)”, kata Kapolres.

Baca Juga :  Jangan Lupakan Darma Bhakti dan Andil Besar Polri Tangani Covid-19

Penyidik mengamankan sejumlah barang bukti berupa tiga lembar kwitansi, satu berkas akta pendirian koperasi Bhakti Kirana mandiri, satu lembar surat Keputusan Menkumham RI tentang pengesahan pendirian badan hukum Koperasi Konsumen Bhakti Kirana Mandiri.

Polisi juga mengamankan satu lembar surat keterangan surat domisili usaha, delapan buah buku tabungan dari beberapa bank, dua unit sepeda motor beserta BPKB dan STNK, delapan buah kartu ATM dari beberapa Bank, satu) buah laptop dan surat-surat tanah terkait 12 obyek bidang tanah seluas kurang lebih 31.162 M2.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 378 KUHP dan atau 372 KUHP dan pasal 46 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan serta Pasal 65 ayat (1) KUHP dengan ancaman minimal 4 tahun penjara maksimal 20 tahun penjara serta denda sekurang-kurangnya 10 miliar rupiah dan paling banyak 200 miliar rupiah.(Den)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here