Wonolopo – Di sudut barat Kota Semarang, tepatnya di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, waktu seolah berjalan dengan ritme yang berbeda. Di sini, di Kampung Ranting Pelangi, udara tidak hanya membawa aroma tanah basah dan pupuk organik, tetapi juga gema gamelan yang menyatu dengan kicau burung. Pada Minggu (5/7/2026), kampung ini menjadi pusat gravitasi budaya saat puncak Festival “Sobo Roworejo 5: Nalika Semono” digelar. Sebuah perayaan yang bukan sekadar tontonan, melainkan pernyataan tegas bahwa tradisi tidak akan mati jika akarnya terus disirami oleh tangan-tangan muda.
Festival yang telah memasuki tahun kelima ini bukanlah pesta pora sesaat. Ia adalah hasil kolaborasi erat antara warga lokal dan Kolektif Hysteria, sebuah ruang bersama yang berupaya membangun guyub rukun antargenerasi. Tema “Nalika Semono” (Dulu Begitu) bukan ajakan untuk terjebak dalam nostalgia masa lalu, melainkan upaya menerjemahkan nilai-nilai luhur—pelestarian alam, kohesi sosial, dan kearifan lokal—ke dalam bahasa yang dimengerti zaman sekarang.
Bukti nyata dari regenerasi itu terlihat sejak detik-detik pembukaan. Tidak ada penyambutan formal yang kaku. Tamu disambut oleh derap kaki kecil dan gerakan lincah sekelompok anak perempuan desa. Mereka membawakan Tari Emprit, sebuah koreografi sederhana namun penuh makna yang mengisahkan kehidupan agraris Wonolopo: bagaimana para petani dengan sabar mengusir burung emprit yang hendak menyambar bibit padi di sawah.
Di antara penari cilik itu, ada Dea (11). Wajahnya berseri, matanya berbinar setiap kali ia melangkah mengikuti irama kendang. Bagi Dea, menari bukan sekadar hafalan gerak, melainkan permainan yang serius.
“Sudah mulai belajar dari tahun lalu, tapi buat pentas ini latihan lagi dua minggu yang lalu,” ujarnya polos, sambil menyesuaikan selendang yang tersampir di bahunya. Kalimat singkat itu menyimpan bobot besar: komitmen. Dalam dunia di mana anak-anak lebih akrab dengan layar gawai daripada halaman rumah, Dea dan kawan-kawannya memilih menghabiskan sore mereka untuk memahami ritme tubuh dan cerita leluhur melalui tari.
Bagi Sumitri, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Kopdarwis) Kampung Ranting Pelangi, kehadiran Dea dan sebayaannya adalah napas bagi keberlanjutan kampung. Ia menyadari betul bahwa tanpa tunas muda, pohon tradisi akan kering dan rapuh.
“Ya, dalam melestarikan perlu melibatkan beberapa generasi, mulai dari balita. Itu penting. Kami tanpa anak muda, apalah kita,” ucap Sumitri dengan nada rendah namun tegas. Pernyataan itu adalah pengakuan kerentanan sekaligus harapan. Ia tahu bahwa pengetahuan lokal tentang benih, musim, dan ritual tidak bisa hanya disimpan di kepala orang tua; ia harus ditransfer melalui pengalaman langsung, melalui tawa, dan melalui panggung.
Energi pemuda semakin memuncak saat acara menuju puncak. Panggung diambil alih oleh kelompok Tronggo Cipta Budaya (TCB) dengan atraksi Kuda Lumping. Bukan Kuda Lumping yang mistis dan menakutkan, melainkan yang energik, berwarna, dan penuh vitalitas. Para penarinya adalah pemuda dan pemudi asli Wonolopo, mereka yang mungkin siang harinya bekerja sebagai buruh atau pelajar, namun malamnya berubah menjadi ksatria kuda lumping.
Maulana, aktor penggerak seni Kuda Lumping TCB, melihat fenomena ini sebagai kebutuhan identitas. Bagi kaum muda Wonolopo, kesenian ini adalah wadah untuk mengekspresikan diri sekaligus merawat akar.
“Untuk pemain Kuda Lumping sendiri dari pemuda dan pemudi kampung ini yang memiliki ketertarikan terhadap budaya. Jadi kami menjadi wadah untuk mengembangkan budaya bersama,” jelasnya. Di sini, budaya bukan beban warisan yang berat, melainkan ruang bermain yang memberdayakan. Melalui TCB, mereka menemukan komunitas, kepercayaan diri, dan rasa memiliki terhadap tanah tempat mereka berdiri.
Namun, jalan pelestarian di era digital tidaklah mulus. Tantangan terbesar bukan lagi pada minimnya minat, melainkan pada bagaimana suara kampung ini bisa menembus batas-batas geografis dan algoritma media sosial. Mulyono, Ketua Kampung Tematik Ranting Pelangi, menyadari bahwa inovasi komunikasi adalah kunci. Tradisi harus “dijual” dengan kemasan yang menarik tanpa kehilangan esensinya.
“Kalau kami, pendekatannya sederhana. Ya, kami membuat gunungan yang akan dikirab memakai berbagai barang yang diminati oleh berbagai generasi. Contohnya ada tambahan boneka dan mainan di gunungan itu, gak harus palawija saja,” ujar Mulyono sambil tersenyum.
Strategi itu jenius dalam kesederhanaannya. Dengan memasukkan boneka dan mainan ke dalam gunungan kirab—yang secara tradisional hanya berisi hasil bumi—Mulyono menjembatani kesenjangan simbolik. Anak-anak tertarik karena melihat mainan mereka dihormati dalam prosesi adat; orang tua senang karena ritual tetap berlangsung; dan media sosial mendapat konten visual yang unik dan fotogenik. Ini adalah bentuk diplomasi budaya tingkat akar rumput: adaptasi tanpa asimilasi.
Festival “Sobo Roworejo 5: Nalika Semono” akhirnya meninggalkan lebih dari sekadar kenangan indah. Ia meninggalkan jejak bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan di museum yang dingin atau dalam buku teks yang berdebu. Ia bisa terjadi di tengah sawah, di bawah langit terbuka, dengan iringan tari anak-anak dan deburan kaki kuda lumping.
Di Wonolopo, budaya sedang diregenerasi bukan dengan paksaan, melainkan dengan cinta. Dan selama masih ada Dea yang menari, Maulana yang menunggangi kuda imajiner, serta Mulyono yang meracik gunungan dengan kreatif, maka “Nalika Semono” akan terus hidup, bukan sebagai masa lalu yang hilang, melainkan sebagai masa kini yang bermartabat. (Christian Saputro)




