Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Siang itu, di tengah sejuknya kawasan pegunungan Ambarawa, udara di Eling Bening Hall terasa berbeda. Dingin yang menusuk tulang berpadu dengan riuh rendah tawa dan sapaan hangat ratusan alumni SEBA Polsuk Angkatan 1988/1989 Nusantara yang diikuti 8 Sekolah Polisi Negera se – Indonesia. Namun keriuhan itu perlahan hening. Tabuhan kendang membuka pertunjukan, disusul alunan gamelan yang pelan-pelan merayap masuk, memenuhi setiap jeda ruang di dalam aula tersebut.
Dari balik layar, dua sosok lelaki berbaju hitam melangkah mantap ke tengah panggung. Ikat kepala tradisional menutup rapat rambut mereka, sorot mata keduanya tajam menembus kabut tipis pagi. Mereka adalah Agus Priyo Hatmoko, mantan Kapolsek Cepu sekaligus Ketua Panitia Reuni, dan seorang rekan senimannya. Siang itu, di hadapan rekan-rekan seangkatannya, Agus tidak sedang memberikan sambutan protokoler. Ia telah menjelma menjadi Warok Suromenggolo, tampil berpasangan dalam sebuah duet kekuatan yang melambangkan keberanian dan laku batin.
Pertunjukan berlangsung tanpa jeda, mengalir seperti air sungai yang deras. Setiap gerak tangan mereka seolah menghidupkan kembali kisah para warok yang memilih berpihak kepada rakyat kecil. Langkah-langkah mereka mantap dan sinkron, menghentak lantai panggung dengan keyakinan penuh. Sesekali mereka berputar cepat, menciptakan pusaran angin kecil, lalu berhenti mendadak dalam sikap kuda-kuda yang kokoh, saling berhadapan dalam diam yang penuh tensi. Penonton pun larut, terseret masuk ke dalam atmosfer mistis yang dibangun oleh gerak dan musik.
Puncak ketegangan hadir ketika suasana mendadak hening. Gamelan berhenti. Hanya ada napas kedua penari yang terdengar berat namun teratur.
Di hadapan ratusan pasang mata yang terpaku, Agus dan rekannya mengangkat sebilah golok. Dengan ketenangan yang mencekam, mereka memperagakan adegan dramatis: menggoreskan bilah besi ke tubuh dan menyentuh lidah dengan silet. Adegan tersebut dibawakan bukan untuk pamer nyali, melainkan dengan penghayatan mendalam, menghadirkan simbol keberanian ekstrem dan penguasaan diri (ngendhalike hawa nepsu) yang menjadi inti dari filosofi warok.
Sejumlah penonton spontan menahan napas. Ada yang saling berpandangan dengan tatapan tak percaya. Ketika adegan berakhir dan keduanya tetap berdiri tegak, tersenyum tipis, tepuk tangan panjang pun pecah, menggema di seluruh penjuru Eling Bening Hall, memantul di antara dinding-dinding kaca yang menghadap langsung ke keindahan Rawa Pening.
Yang disaksikan siang itu bukanlah sensasi murahan. Itu adalah totalitas seorang seniman yang rela menjadikan tubuhnya sebagai medium untuk menyampaikan makna. Dalam tradisi warok, keberanian bukan sekadar soal menghadapi lawan, melainkan keberanian menaklukkan rasa takut di dalam diri.
Mereka yang mengenalnya dekat memahami bahwa seni bukanlah dunia baru bagi Agus. Jauh sebelum siang itu, ia telah dikenal sebagai penyair antologi Tuhan Aku Harus Bagaimana, kreator film independen, hingga pelukis. Di tengah karier panjangnya sebagai anggota Polri, ia tidak pernah meninggalkan dunia yang membesarkan kepekaan batinnya. Baginya, seni adalah cara menjaga agar profesi tetap memiliki nurani.
Teater Tari Warok Suromenggolo akhirnya menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi perjumpaan langka antara disiplin ketat seorang Bhayangkara dan kebebasan ekspresi seorang seniman. Di penghujung pertunjukan, tepuk tangan masih menggema panjang. Bukan hanya untuk mantan polisi yang piawai menari, melainkan untuk manusia yang membuktikan bahwa seragam dan kesenian tidak pernah saling meniadakan.
Sebab di balik seragam cokelat yang pernah dikenakannya, tetap berdenyut hati seorang penyair. Dan di balik sosok warok yang gagah, berdiri seorang seniman yang percaya bahwa keberanian terbesar adalah menjaga kemanusiaan tetap hidup di dalam diri. ( *)




