Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Pada suatu masa yang nyaris tak lagi dapat dihitung oleh ingatan manusia, langit di ufuk barat Nusantara konon berubah menjadi hitam pekat. Matahari lenyap, ditelan debu vulkanik yang mencekik siang menjadi malam abadi. Laut bergolak liar, seolah dipanaskan dari dasar bumi yang murka. Burung-burung kehilangan arah di tengah kegelapan, hutan terbakar oleh hujan batu pijar, dan ombak menjelma menjadi tembok raksasa yang menelan pesisir tanpa ampun.
Di antara dentuman yang mengguncang cakrawala hingga ke ujung dunia, sebuah gunung raksasa roboh. Tubuhnya runtuh ke dalam rahim laut, meninggalkan cekungan raksasa yang kelak dikenal sebagai Selat Sunda.
Bagi ilmu geologi modern, itu adalah kisah tentang letusan supervulkan yang mengubah bentang alam secara permanen. Namun bagi sastra Jawa, peristiwa itu hidup bukan sebagai data, melainkan sebagai ingatan kosmis tentang lahirnya sebuah pulau. Konon, dari kedahsyatan letusan itulah Sumatera menemukan bentuknya yang terpisah dari Jawa.
Kisah tersebut termaktub dalam Serat Pustaka Raja, karya monumental pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Ranggawarsita. Dalam bagian Pustaka Raja Purwa, diceritakan tentang letusan Gunung Batuwara—yang oleh banyak penafsir sejarah dan geolog kemudian dihubungkan dengan Krakatau Purba.
Dalam naskah kuno itu, bumi diguncang oleh banjir besar. Daratan tenggelam. Pulau Jawa yang semula menyatu dengan daratan di sebelah barat akhirnya terputus. Air laut memenuhi celah yang terbuka lebar, membentuk selat yang membelah dua daratan. Di sisi barat, lahirlah sebuah pulau baru yang kemudian dikenal sebagai Sumatera.
Narasi tersebut tentu bukan laporan ilmiah dalam pengertian modern. Ia adalah sastra, sebuah genre yang menyimpan cara masyarakat Jawa kuno memahami bencana alam melalui bahasa mitologi, simbol, dan metafora. Namun, yang menarik adalah adanya gema kebenaran di balik kisah itu—sebuah resonansi yang seolah bersesuaian dengan jejak-jejak geologi yang ditemukan berabad-abad kemudian oleh sains Barat.
Para ahli kebumian meyakini bahwa kawasan Krakatau memang pernah mengalami letusan luar biasa dahsyat, jauh sebelum letusan terkenal tahun 1883 yang menghancurkan peradaban lokal dan menggemparkan dunia.
Beberapa hipotesis mengaitkan letusan raksasa itu dengan peristiwa sekitar tahun 535 Masehi, sementara sumber-sumber lama juga menyebut kemungkinan letusan besar pada 416 Masehi. Hingga kini, penanggalan presisi tersebut masih menjadi bahan kajian ilmiah dan belum mencapai kesepakatan tunggal. Namun, para peneliti sepakat pada satu hal: pernah terjadi erupsi kolosal yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung purba itu.
Volume material yang dimuntahkan diperkirakan mencapai ratusan kilometer kubik. Puncak gunung runtuh ke ruang magma yang kosong di bawahnya, membentuk kaldera raksasa yang tenggelam di bawah permukaan laut.
Kaldera itulah yang kini menjadi jantung dari Selat Sunda.
Di atas sisa-sisa dinding kaldera yang kokoh, kemudian berdiri Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Berabad-abad sesudahnya, aktivitas magma yang tak pernah tidur kembali membangun gunung baru yang muncul dari permukaan laut pada 1927. Dunia mengenalnya sebagai Anak Krakatau, si anak yang lahir dari abu leluhurnya.
Jika dilihat dari udara, Selat Sunda bukan sekadar ruang biru yang memisahkan Jawa dan Sumatera. Ia adalah bekas luka bumi yang belum sepenuhnya kering.
Di bawah permukaan lautnya tersimpan sejarah tentang tekanan magma yang tak tertahankan, retakan kerak bumi yang lebar, dan letusan yang mengubah garis pantai secara permanen. Arus laut berganti arah karena perubahan topografi dasar laut. Endapan vulkanik menumpuk hingga ratusan kilometer, menutupi ekosistem lama. Abu beterbangan melintasi samudra, menyeberangi benua.
Sebagian ilmuwan bahkan menduga letusan besar Krakatau Purba ikut memengaruhi iklim global. Langit yang dipenuhi aerosol vulkanik menyebabkan penurunan suhu rata-rata bumi selama beberapa tahun, memicu gagal panen dan kelaparan di berbagai belahan dunia. Catatan dari berbagai peradaban kuno di Eropa, Timur Tengah, hingga Asia menyebut matahari tampak redup dan musim yang berubah tidak lazim pada pertengahan abad keenam.
Meski hubungan sebab-akibat langsungnya masih terus diperdebatkan, jejak itu menunjukkan bahwa letusan sebuah gunung di Nusantara dapat menggema hingga ke ujung bumi lain. Bencana lokal bisa menjadi tragedi global.
Di sinilah sastra dan ilmu pengetahuan saling menyapa, meski menggunakan bahasa yang berbeda.
Ranggawarsita tidak berbicara tentang tektonik lempeng, kaldera, ataupun kolom erupsi. Ia menuliskan kisah tentang bumi yang berubah karena kehendak semesta. Tentang gunung yang pecah, laut yang masuk ke daratan, dan lahirnya pulau-pulau baru sebagai takdir. Bahasa sastra bekerja dengan simbol. Ia tidak mengukur kedalaman laut ataupun volume magma, tetapi menangkap kenyataan melalui ingatan kolektif masyarakat yang diwariskan turun-temurun.
Sebaliknya, geologi membaca batuan, lapisan abu, mineral, dan usia sedimen untuk merekonstruksi peristiwa yang sama. Keduanya menempuh jalan yang berbeda, namun sama-sama berusaha menjawab satu pertanyaan fundamental: bagaimana wajah Nusantara terbentuk?
Krakatau mengajarkan kita bahwa pulau-pulau bukanlah sesuatu yang abadi dan statis. Mereka lahir, tumbuh, retak, tenggelam, lalu muncul kembali dalam wujud baru. Apa yang hari ini tampak kokoh di peta sesungguhnya merupakan hasil perjalanan geologi yang berlangsung jutaan tahun. Gunung berubah menjadi laut. Laut melahirkan gunung baru. Siklus destruksi dan kreasi ini adalah napas bumi itu sendiri.
Karena itu, mengatakan bahwa Krakatau Purba “menciptakan Pulau Sumatera” sebaiknya dipahami sebagai narasi budaya yang hidup dalam tradisi Pustaka Raja Purwa, bukan sebagai kesimpulan ilmiah bahwa seluruh massa daratan Sumatera terbentuk hanya oleh satu letusan. Yang dapat dikatakan berdasarkan ilmu kebumian adalah bahwa letusan Krakatau Purba berperan besar mengubah morfologi kawasan Selat Sunda, membentuk kaldera raksasa, mengubah garis pantai, serta mempertegas pemisahan daratan di wilayah barat Nusantara. Pemisahan inilah yang mungkin ditangkap oleh intuisi para pujangga sebagai “lahirnya” Sumatera sebagai entitas yang terpisah.
Di antara legenda dan laboratorium, antara manuskrip kuno yang rapuh dan batuan vulkanik yang keras, Krakatau tetap berdiri sebagai salah satu saksi terbesar bahwa bumi Indonesia dibentuk oleh api. Ia adalah reminder bahwa kita hidup di atas tanah yang dinamis, rentan, namun juga subur.
Dan mungkin, setiap kali ombak Selat Sunda memecah sunyi di kaki Rakata, ia sedang mengulang cerita lama—tentang sebuah gunung yang runtuh, laut yang lahir dari reruntuhan, dan manusia yang terus berusaha memahami bagaimana sebuah bencana dahsyat dapat menjadi awal dari sejarah baru. (*)




