Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Lampu sorot di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), malam itu (18/7/2026) tidak hanya menyinari kostum emas yang berkilau. Ia juga menyoroti sebuah paradoks yang indah: seorang kepala daerah, Agustina Wilujeng Pramestuti, Wali Kota Semarang, berdiri tegak di atas panggung wayang orang. Ia bukan sedang membuka acara dengan pidato formal di podium kayu. Ia sedang menjadi Sang Hyang Wenang, penguasa kahyangan, sumber segala kebijaksanaan dalam jagat pewayangan.
Ini adalah momen langka. Di usia ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo, batas antara birokrasi dan seni tradisi seolah runtuh. Agustina tidak datang sebagai pejabat yang memberi restu dari jauh, melainkan sebagai bagian integral dari ekosistem budaya itu sendiri. Kehadirannya memerankan tokoh tertinggi dalam hierarki dewa-dewa bukanlah sekadar gimmick politik atau pencitraan semata. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa merawat warisan leluhur membutuhkan keterlibatan total, bukan hanya anggaran, tetapi juga jiwa.
Pertunjukan bertajuk “Wanita Tangguh: Wahyu Purbo Sejati” itu dibuka dengan alunan gamelan yang dipimpin Githunkswara. Bunyi-bunyian itu tidak sekadar pengiring; ia adalah napas yang membangun ketegangan dramatik. Setiap tabuhan kendang dan petikan siter seolah menggerus kesabaran penonton, mengajak mereka masuk ke dalam dunia di mana ambisi manusia berbenturan dengan hukum karma.
Sutradara Budi Lee memilih lakon ini dengan presisi. Di tengah era di mana kekuasaan sering kali disalahartikan sebagai dominasi fisik atau otoritas mutlak, Ngesti Pandowo menawarkan tafsir ulang. “Wahyu” dalam lakon ini bukan lagi hak prerogatif raja-raja yang gagah perkasa. Wahyu digambarkan sebagai cahaya halus yang hanya bisa diterima oleh hati yang tulus, rendah hati, dan berani menjaga kemanusiaan.
Dan siapa pembawa pesan itu? Perempuan.
Selama berabad-abad, narasi pewayangan kerap menempatkan perempuan sebagai objek perebutan atau pelengkap kisah para ksatria. Namun, malam itu, perempuan ditempatkan sebagai poros moral. Mereka adalah penjaga keseimbangan. Ketika dunia di ambang kehancuran akibat keserakahan, justru keteguhan hati perempuanlah yang memulihkan tatanan. Melalui koreografi yang diracik Paminto Krisna—yang tetap setia pada pakem namun luwes berkomunikasi dengan estetika modern—para penari wanita bergerak bukan dengan lemah gemulai pasif, melainkan dengan kekuatan batin yang memancar. Gerak mereka adalah bahasa diam yang lebih keras daripada teriakan perang.
“Waktu itu kami ingin menunjukkan bahwa kekuatan terbesar lahir dari keteguhan hati,” ujar Budi Lee, menjelaskan filosofi di balik setiap adegan. Kemenangan sejati, menurutnya, bukanlah ketika musuh tunduk di bawah telapak kaki, melainkan ketika hawa nafsu dalam diri berhasil ditaklukkan.
Puncak pertunjukan terjadi ketika Agustina, dalam balutan kostum Sang Hyang Wenang yang megah, membacakan Wahyu Purbo Sejati. Suaranya tenang namun berwibawa, melantunkan doa “Hong Wilaheng Sekaring Bawana Langgeng, Oum Awigenam Astu Namo Sidham”, sebuah permohonan agar rahmat Tuhan menaungi semesta. Dalam titah itu, ia menegaskan bahwa wahyu sejati turun kepada mereka yang berbudi luhur, yang mengabdikan diri untuk menjaga keluhuran budaya. Doa itu bukan hanya untuk Ngesti Pandowo, tetapi untuk seluruh masyarakat Semarang agar senantiasa menjunjung tinggi kejujuran, persatuan, dan gotong royong.
Di barisan depan, Djoko Muljono, Ketua Wayang Orang Ngesti Pandowo, menyaksikan dengan mata berbinar. Bagi lembaga seni yang telah bertahan hampir sembilan dekade ini, usia 89 tahun adalah bukti ketahanan luar biasa. Ngesti Pandowo telah melewati masa kolonial, revolusi, Orde Baru, hingga era digital. Mereka selamat karena kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar.
“Dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan para pecinta seni menjadi energi bagi kami untuk terus berkarya,” kata Djoko. Ia melihat kehadiran Agustina dan jajaran Forkopimda lainnya di atas panggung sebagai simbol sinergi yang selama ini sering hanya menjadi wacana. Pelestarian budaya, baginya, tidak akan jalan jika hanya diserahkan pada seniman yang berjuang sendirian. Ia butuh ekosistem. Dan malam itu, ekosistem itu terlihat utuh: seniman mencipta, pemerintah terlibat aktif, dan masyarakat antusias menonton.
Komitmen itu dibuktikan secara nyata. Seusai pertunjukan, Wali Kota menyerahkan satu set busana wayang lengkap kepada Ngesti Pandowo, serta memberikan penghargaan kepada para pewaris keluarga pendiri. Simbolisme berlanjut dengan prosesi pemotongan tumpeng, di mana Agustina menyerahkan potongan puncak kepada Djoko Muljono. Tindakan sederhana itu mengandung makna mendalam: rasa syukur atas perjalanan panjang, sekaligus harapan agar organisasi ini terus berkembang menjawab tantangan zaman.
Memang, tiket pertunjukan gratis. Namun, nilai yang ditawarkan jauh melampaui harga nol rupiah. Karena kapasitas kursi terbatas, ratusan warga lain rela berdiri di area luar teater, menikmati pertunjukan melalui layar live streaming. Tidak ada keluhan. Wajah-wajah mereka tertuju pada layar, terpukau oleh cerita yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Dalam lakon “Wanita Tangguh”, mereka mungkin menemukan refleksi tentang ibu, istri, atau diri mereka sendiri yang harus tetap kuat di tengah badai kehidupan.
Malam itu, di Semarang, wayang orang bukan sekadar tontonan masa lalu. Ia hidup. Ia bernapas. Ia berbicara tentang isu kontemporer—peran perempuan, integritas kepemimpinan, dan makna kekuasaan—melalui medium tradisi yang agung.
Ketika tirai turun dan tepuk tangan membahana, pesan yang tersisa bukan hanya tentang betapa indahnya kostum Sang Hyang Wenang. Pesan yang lebih dalam adalah bahwa budaya adalah tanggung jawab bersama. Bahwa seorang pemimpin bisa menjadi seniman, dan seorang seniman bisa menjadi penjaga moral bangsa. Dan bahwa di tengah hiruk-pikuk modernitas, kita masih butuh “wahyu purba”: kebijaksanaan kuno yang mengingatkan kita bahwa ketangguhan sejati terletak pada kelembutan hati yang tak pernah padam.
Ngesti Pandowo telah berusia 89 tahun. Ia mungkin sudah tua secara kalender, tetapi malam itu, ia terasa sangat muda, sangat relevan, dan sangat dibutuhkan. (*)




