SEMARANG – Panggung Gajah Mada Plaza (Eks E Plaza), Simpang Lima, menjadi saksi bisu atas ketangguhan Komunitas Sahabat Difabel (KSD)–Roemah Difabel Semarang. Dalam ajang Kick Off Kinerja Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Kota Semarang 2026, Sabtu (18/7/2026), komunitas ini berhasil meraih penghargaan bergengsi The Best Performance melalui pertunjukan teatrikal “Kami Tidak Meminta Langit Berubah”.
Pertunjukan berdurasi 25 menit itu bukan sekadar tontonan seni, melainkan sebuah manifesto kesetaraan. Mengadaptasi puisi karya Christian Heru Cahyo Saputro, Roemah Difabel memadukan tari tradisional, modern, teater, musik, pembacaan puisi, hingga live painting dalam satu alur dramatik yang memukau. Pesan utamanya tegas: penyandang disabilitas tidak meminta belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara untuk berkarya dan dihormati martabatnya.
Founder Roemah Difabel, Noviana Dibyantari, menyebut penghargaan tersebut sebagai buah dari latihan intensif dan solidaritas anggota. “Ini penyemangat bagi teman-teman difabel untuk terus berkarya. Kami ingin membuktikan bahwa dengan kesempatan yang sama, kami mampu berprestasi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Namun, kemenangan Roemah Difabel tidak berhenti di panggung. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, yang berhalangan hadir saat pementasan, secara khusus menyempatkan diri mengunjungi stan RD Shop. Kunjungan ini menjadi momen penting karena menunjukkan apresiasi nyata terhadap produk kreatif penyandang disabilitas.
Agustina tampak antusias meninjau berbagai karya, termasuk dua lukisan istimewa buatan Rizky Amelia dan Willy. Tak hanya mengapresiasi, Wali Kota juga “memborong” sejumlah produk seperti kaos, mug, dan aneka kerajinan tangan lainnya. Tindakan simbolis ini mengirimkan pesan kuat: dukungan terhadap inklusi bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat pembelian dan penggunaan produk karya difabel.
“Sahabat difabel memiliki kemampuan dan kreativitas yang luar biasa. Potensi ini harus terus dikembangkan agar mereka dapat hidup mandiri, setara, dan menjadi bagian penting dari masyarakat yang inklusif,” kata Agustina.
Bagi Roemah Difabel, kombinasi antara pengakuan artistik (The Best Performance) dan dukungan ekonomi (pembelian produk di RD Shop) adalah paket lengkap pemberdayaan. Ini menegaskan bahwa penyandang disabilitas mampu berprestasi, berkarya, dan berkontribusi secara ekonomi ketika diberi ruang yang adil. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa Semarang bergerak menuju kota yang benar-benar ramah dan inklusif bagi semua warganya. (Christian Saputro)




