SEMARANG — Sore itu, cahaya matahari masuk perlahan dari jendela-jendela tinggi Ruang Pamer Tan ArtSpace, jatuh lembut di permukaan kanvas. Sebagian memantul pada kelopak-kelopak bunga berwarna cerah, sebagian lagi mengendap tenang di lanskap yang digambar dengan sabar. Di tengah ruangan, orang-orang berjalan pelan, langkah mereka tertahan, seolah khawatir mengganggu percakapan yang sedang berlangsung.
Padahal, tak ada suara.
Tak ada pidato panjang yang menggema.
Tak ada musik yang mengalun mengiringi.
Yang ada hanya warna.
Dan warna-warna itu sedang berbicara.
Di dinding galeri, dua puluh tiga lukisan karya Muhammad Haidar Abdullah dipajang dalam pameran tunggal bertajuk Blessings Around Me. Selama 6–15 Juni 2026, karya-karya seorang remaja autistik berusia 19 tahun itu mengubah ruang pamer menjadi ruang perjumpaan: antara dunia yang selama ini dilihat Haidar, dan dunia yang selama ini berusaha memahami dirinya.
Haidar lahir di Semarang pada 20 Agustus 2006. Sejak usia tiga tahun, ia sudah akrab dengan gambar. Saat anak-anak lain sibuk mengejar bola atau berlarian di halaman rumah, Haidar sering tenggelam dalam garis-garis yang ia buat sendiri. Mula-mula hanya coretan sederhana. Bentuk-bentuk abstrak yang bagi orang awam mungkin tampak biasa, bahkan tak bermakna.
Namun, orang tuanya memilih untuk memperhatikan.
Mereka tidak buru-buru menyimpulkan.
Tidak tergesa-gesa mengarahkan.
Mereka menunggu.
Dan ternyata, dari kesabaran itulah sesuatu tumbuh.
Empat tahun lalu, Haidar mulai diperkenalkan pada kuas dan cat akrilik. Sejak saat itu, seolah ada pintu yang terbuka lebar. Dunia yang sebelumnya sulit diterjemahkan melalui percakapan verbal, perlahan menemukan jalannya sendiri.
Melalui warna.
Melalui bentuk.
Melalui sapuan kuas yang tekun, berulang, dan penuh kesadaran.
“Dan sesuatu terjadi. Sesuatu yang tidak kami duga,” tulis M. Zuhdi Setiadi, ayah Haidar, dalam pengantar pameran berjudul Blessing in Disguise.
Kalimat itu sederhana. Namun, di baliknya tersimpan perjalanan panjang sebuah keluarga. Perjalanan yang dipenuhi pertanyaan, kecemasan, harapan, dan akhirnya, penerimaan tulus.
“Tangan yang sama yang kadang kesulitan menggenggam percakapan sosial, ternyata mampu menggenggam keindahan dan menuangkannya di atas kanvas,” tulis Zuhdi.
Di situlah, barangkali, inti pameran ini berada.
Bukan pada teknik melukis yang sempurna secara akademis.
Bukan pula pada ukuran karya yang megah.
Melainkan pada keberanian untuk melihat bahwa karunia sering datang dalam rupa yang tidak kita rencanakan. Bahwa apa yang mula-mula dianggap keterbatasan, bisa menjelma menjadi jalan alternatif yang memperlihatkan keindahan dengan cara yang unik.
Di antara karya-karya yang dipamerkan, sebuah lukisan berjudul A Thousand Petals menarik perhatian banyak pengunjung. Hamparan bunga memenuhi bidang kanvas berukuran 50 x 40 sentimeter. Warna merah, kuning, jingga, ungu, dan biru bertemu tanpa saling meniadakan. Setiap kelopak mendapat perhatian yang sama. Tidak ada yang tergesa-gesa. Tidak ada yang diabaikan.
Seolah Haidar ingin mengatakan bahwa setiap bunga memiliki hak untuk mekar.
Setiap warna memiliki ruang untuk hadir.
Setiap kehidupan memiliki tempat untuk dihargai.
Di depan karya itu, beberapa pengunjung berdiri lebih lama dibandingkan di karya lain. Mereka mengamati detail-detail kecil yang nyaris tak terlihat dari kejauhan. Sebagian tersenyum tipis. Sebagian lainnya terdiam, larut dalam kontemplasi.
Barangkali karena mereka sedang melihat sesuatu yang lebih dari sekadar bunga.
Mereka sedang melihat ketekunan.
Melihat kesabaran.
Melihat cara seorang anak muda memahami dunia dengan caranya sendiri.
Karya-karya Haidar memang lahir dari hal-hal yang dekat dengannya: bunga, pepohonan, lanskap, kereta api, langit, dan alam yang tumbuh di sekitar kesehariannya. Namun, justru dari kesederhanaan itulah muncul kekuatan yang menggetarkan. Ia tidak sedang berusaha mengubah dunia dengan grandiose. Ia hanya sedang memperhatikan dunia. Dan perhatian yang sungguh-sungguh, pada akhirnya, sering kali melahirkan keindahan.
Saat pembukaan pameran, Haidar maju ke depan hadirin. Tubuhnya tampak tenang. Ia menggenggam mikrofon, lalu mengucapkan beberapa kalimat yang telah dipersiapkan.
Terima kasih kepada ayah dan ibunya.
Terima kasih kepada para mentor yang mendampinginya.
Terima kasih kepada para tamu yang datang.
Kalimat-kalimat pendek itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi keluarganya, momen itu adalah sebuah perjalanan panjang yang mencapai titik penting. Sebab, setiap kata yang keluar bukan sekadar ucapan. Ia adalah keberanian. Ia adalah langkah. Ia adalah bukti bahwa perjalanan yang tidak mudah itu terus bergerak maju.
Di sudut ruangan, mata beberapa orang tampak berkaca-kaca. Mungkin mereka melihat Haidar. Mungkin mereka melihat anak-anak mereka sendiri. Atau mungkin, mereka sedang melihat harapan.
Dr. Syakir, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (UNNES), yang membuka pameran tersebut, menyebut karya-karya Haidar sebagai “perjalanan hidup yang diterjemahkan melalui warna, garis, dan bentuk.”
Sebuah pernyataan yang terasa tepat.
Karena seni dalam pameran ini bukan sekadar hasil belajar teknik melukis. Seni menjadi cara untuk hadir. Cara untuk berkata, “Aku melihat.” Cara untuk berkata, “Aku merasakan.” Cara untuk berkata, “Aku ada.”
Dan dunia, akhirnya, mendengarkannya.
Di penghujung sore, para pengunjung mulai meninggalkan galeri. Langkah mereka kembali ke jalanan Semarang yang ramai dan bising. Namun, sebagian dari mereka membawa pulang sesuatu yang tak kasatmata. Barangkali sebuah kesadaran.
Bahwa setiap manusia memiliki bahasa yang berbeda untuk menyampaikan dirinya.
Ada yang menggunakan kata-kata.
Ada yang menggunakan musik.
Ada yang menggunakan gerak tubuh.
Dan Haidar, dengan segala ketenangannya, memilih warna.
Dua puluh tiga lukisan yang memenuhi dinding Tan ArtSpace bukan sekadar karya seni. Mereka adalah surat-surat yang ditulis tanpa huruf. Doa-doa yang disampaikan tanpa suara. Jembatan yang dibangun antara satu jiwa dengan jiwa lainnya.
Melalui Blessings Around Me, Haidar mengajarkan satu hal yang sering dilupakan orang dewasa: bahwa keindahan tidak selalu lahir dari kesempurnaan standar. Kadang-kadang, ia tumbuh dari cara seseorang menerima dirinya sendiri, apa adanya.
Dan seperti ribuan kelopak bunga dalam A Thousand Petals, kehidupan menemukan caranya sendiri untuk mekar.
Pelan.
Sunyi.
Namun, penuh cahaya. (Christian Saputro)




