KUDUS – Ribuan warga memadati jalan-jalan di Dukuh Ngelo, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Minggu (5/7/2026), untuk mengikuti Kirab Budaya Haul Mbah Lo. Sebanyak 20 gunungan berisi aneka hasil bumi diarak sejauh sekitar 3–4 kilometer sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya melestarikan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Kirab budaya yang menjadi agenda tahunan setiap bulan Suro tersebut melibatkan seluruh elemen masyarakat. Masing-masing RT, RW, perangkat desa, hingga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) diwajibkan membuat satu gunungan hasil bumi yang kemudian diarak bersama warga menuju lokasi haul.
Kepala Desa Karangrowo, Heri Darwanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan tradisi rutin masyarakat dalam memperingati Haul Mbah Lo yang menjadi tokoh yang dihormati warga Dukuh Ngelo.
“Haul Mbah Lo diselenggarakan setiap bulan Suro. Seluruh masyarakat kami libatkan, mulai RT, RW, perangkat desa hingga BPD, untuk membuat gunungan hasil bumi sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur,” ujarnya.
Menurut Heri, persiapan kirab telah dilakukan sekitar dua bulan sebelumnya melalui serangkaian rapat desa untuk membentuk panitia dan menyusun seluruh rangkaian kegiatan agar berjalan lancar.
Tahun ini, panitia mengusung tema “Menuju Desa Karangrowo yang Berbudaya, Agamis, dan Berbasis Ekonomi Kerakyatan untuk Kemakmuran serta Kesejahteraan Petani.” Tema tersebut menjadi refleksi tekad pemerintah desa dalam menjaga tradisi sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
Sepanjang perjalanan kirab, warga mengenakan pakaian adat dan membawa gunungan yang dihiasi beragam hasil pertanian seperti padi, jagung, sayuran, buah-buahan, serta hasil bumi lainnya. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, baik sebagai peserta maupun penonton yang memadati rute kirab.
Ketua Panitia Haul Mbah Lo, Darwanto, mengungkapkan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
“Alhamdulillah kegiatan berjalan sukses, aman, tidak ada halangan apa pun. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang bersama-sama menjaga kerukunan dan keguyuban dalam penyelenggaraan Haul Mbah Lo ini,” katanya.
Ia menegaskan seluruh pendanaan kegiatan berasal dari swadaya masyarakat. Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama sehingga tradisi tersebut dapat terus dilestarikan tanpa bergantung pada sumber pendanaan lain.
“Warga bergotong royong sesuai kemampuan masing-masing. Sedikit demi sedikit, akhirnya acara bisa terselenggara dengan baik,” ujarnya.
Selain kirab budaya, rangkaian Haul Mbah Lo juga diisi kegiatan keagamaan yang menjadi inti peringatan. Pemerintah desa berkomitmen menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya, nilai religius, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ke depan, panitia bersama pemerintah desa akan melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan acara. Salah satu rencana yang akan diterapkan adalah memisahkan kegiatan religius dengan hiburan rakyat agar kekhusyukan haul tetap terjaga, sementara hiburan masyarakat tetap dapat berlangsung pada waktu yang berbeda.
Melalui tradisi ini, masyarakat Karangrowo tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, mempererat persaudaraan, sekaligus mengangkat potensi pertanian sebagai identitas desa yang terus diwariskan kepada generasi muda. ( Christian Saputro)




