Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Angin sore menyusup pelan di lorong-lorong Pecinan Semarang. Ia membawa aroma dupa yang tipis, berkelindan dengan wangi bunga setaman, melayang di antara atap-atap tua dan tembok yang menyimpan usia. Di tengah riuh kota yang terus bergegas, Klenteng TITD Ling Hok Bio berdiri tenang—seperti seseorang yang tak lagi tergesa oleh waktu.
Seratus enam puluh tahun.
Bukan sekadar hitungan kalender, melainkan jejak panjang tentang ketahanan. Tentang doa yang tak pernah putus. Tentang ingatan yang terus dirawat, bahkan ketika zaman berubah arah.
Di tempat ini, waktu tidak bergerak lurus. Ia berlapis. Ia tinggal—dalam denting lonceng, dalam asap hio yang naik perlahan, dalam langkah-langkah yang kembali setiap tahun tanpa pernah benar-benar pergi.
Perayaan HUT ke-160 Klenteng Ling Hok Bio, bersamaan dengan Hari Lahir Yang Mulia Kongco Hok Tek Tjing Sien pada 11–12 April 2026, terasa seperti membuka lembaran lama—lalu menuliskannya kembali dengan bahasa hari ini.
Ketua Yayasan, Liem Lun Tjin—yang dikenal sebagai Liemawan Haryanto—menyebut usia panjang ini sebagai bukti sederhana: nilai luhur tidak pernah benar-benar usang.
“Yang bertahan bukan bangunannya, melainkan maknanya,” ujarnya pelan.
Ketika Doa Menjadi Pemandangan
Di pelataran klenteng, sesuatu yang tak lazim justru terasa wajar.
Gamelan berbunyi. perlahan, mengalun di antara tiang-tiang merah. Janur penjor melengkung anggun, berdiri berdampingan dengan lampion. Tidak ada yang saling meniadakan. Semuanya hadir—saling mengisi.
Di titik itu, doa tidak lagi hanya terdengar. Ia menjelma menjadi pemandangan.
Agung Kurniawan menyebutnya sebagai doa visual—cara berdoa yang tidak hanya diucapkan, tetapi juga ditampilkan melalui bunyi, gerak, dan rupa.
Gunungan hasil bumi berdiri di tengah halaman. Buah, sayur, dan hasil panen disusun menjulang, membentuk gunung kecil—lambang kesuburan, sekaligus pengingat bahwa manusia hidup dari apa yang ia rawat.
Paritta dilantunkan. Gending Jawa mengalun lirih. Bahasa Hokkien, Mandarin, dan Jawa bertemu dalam satu ruang, tanpa merasa perlu saling mendominasi.
Para peserta mengenakan kebaya, jarik, dan blangkon. Sekat asal-usul mencair. Yang tersisa hanya satu kesadaran: tradisi tidak harus berdiri sendiri untuk tetap hidup.
“Ketika gamelan berbunyi di sini,” kata Agung, “kita sedang merawat ingatan bahwa kita satu.”
Kirab: Tubuh yang Bergerak Bersama
Minggu siang, Pecinan berubah wajah.
Jalanan yang sempit dipenuhi manusia. Warna bergerak. Suara bertumpuk.
Langkah-langkah menyatu dalam satu irama yang tak diatur, namun terasa serempak.
Kirab budaya dimulai.
Sebanyak 56 klenteng dari berbagai kota di Jawa Tengah berjalan dalam satu arus panjang. Barongsai melompat, naga meliuk, tandu dewa-dewi diusung dengan langkah terukur. Di belakangnya, rombongan demi rombongan mengalir seperti sungai yang tak putus.
Puluhan klenteng lain hadir sebagai tamu kehormatan. Total, sekitar 110 perwakilan berkumpul—sebuah pertemuan yang jarang terjadi, bahkan dalam perayaan besar sekalipun.
Namun bagi Ketua Panitia, Thio Hwee Lay It, angka bukanlah inti.
“Ini bukan soal ramai,” katanya singkat. “Ini tentang bertemu.”
Di pinggir jalan, warga berdiri berjejal. Anak-anak diangkat ke pundak. Kamera ponsel terangkat tinggi. Pedagang menjajakan dagangan dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya.
Tak ada jarak antara penonton dan peserta. Semua larut dalam satu suasana—pesta yang tidak dibuat-buat, melainkan tumbuh dari akar kebersamaan.
Dari Ritual ke Tindakan
Perayaan ini tidak lahir dalam satu hari. Ia dirajut sejak Maret.
Ritual Liam Keng menjadi pembuka—hening, tertib, penuh khidmat. Di sana, berlangsung tradisi “peminjaman kue”: umat mengambil dengan janji akan mengembalikan di masa depan.
Sebuah simbol sederhana, namun jujur—tentang hidup yang bergerak dalam lingkaran memberi dan menerima.
Memasuki April, makna itu menjelma dalam tindakan. Donor darah digelar. Kegiatan sosial berlangsung. Keterlibatan lintas komunitas menguat.
Di Ling Hok Bio, doa tidak berhenti di altar. Ia berjalan keluar—menjadi perbuatan.
Menjaga yang Tak Terlihat
Di balik kemeriahan, terselip pertanyaan yang tak selalu diucapkan: sampai kapan semua ini bertahan?
Liemawan tidak menepisnya. Ia justru menyerahkannya kepada generasi berikutnya.
“Warisan ini tidak akan hidup jika hanya dikenang,” katanya. “Ia harus dijalani.”
Di tengah dunia yang bergerak cepat, di mana tradisi kerap dianggap usang, Ling Hok Bio memilih jalan sunyi: merawat tanpa gaduh.
Klenteng ini bukan sekadar tempat sembahyang. Ia adalah ruang pertemuan—antara masa lalu dan masa depan, antara identitas dan kemanusiaan.
Seratus enam puluh tahun telah berlalu. Namun di sini, waktu tidak benar-benar pergi. Ia tinggal—dalam doa yang terus diucapkan, dalam langkah yang terus berjalan, dalam kebersamaan yang terus dirawat.
Dan barangkali, di situlah letak maknanya:
bahwa harmoni bukan warisan yang selesai diberikan, melainkan pekerjaan yang harus terus dihidupkan. (*)




