Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Pengamat Budaya tinggal di Semarang
Pagi di Semarang tidak pernah benar-benar dimulai dengan tergesa.
Ia bangun perlahan.
Dari sela genteng tua di kawasan Pecinan, kabut tipis menguap seperti napas panjang kota yang telah berusia ratusan tahun. Lampion-lampion merah masih menggantung tenang, belum sepenuhnya tersentuh cahaya. Asap hio dari altar sembahyang melayang tipis, menyatu dengan udara yang lembap.
Lalu bunyi itu datang.
Dug.
Pelan.
Mengendap.
Dug—dug—dug.
Genderang mulai berbicara. Simbal menyusul, memecah keheningan. Langkah kaki beriring, mula-mula jarang, lalu rapat seperti arus yang menemukan jalannya.
Hari itu bukan hari biasa.
Hari itu, kota kembali membuka satu halaman lama—
tentang seorang pelaut dari abad ke-15,
Zheng He,
yang lebih dikenal sebagai Cheng Ho.
Arak-arakan itu disebut: Kirab Sam Poo Besar.
Sebuah perayaan yang bukan sekadar ritual,
melainkan ingatan yang berjalan.
Dari Laut ke Darat: Sejarah yang Menepi
Segala sesuatu dalam kirab ini bermula dari laut.
Pada awal abad ke-15, di bawah kekuasaan Dinasti Ming, armada besar berlayar menembus samudra. Kapal-kapal raksasa itu membawa bukan hanya komoditas, tetapi juga pesan: diplomasi, persahabatan, dan keterbukaan.
Di pucuk armada itu berdiri Zheng He.
Ia seorang Muslim.
Seorang laksamana.
Seorang perantara dunia.
Dalam salah satu pelayarannya, armada itu singgah di pesisir utara Jawa. Di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai Sam Poo Kong.
Di sanalah, menurut ingatan kolektif, ia berlabuh.
Tidak membangun benteng.
Tidak meninggalkan pasukan.
Tidak menaklukkan.
Ia datang, lalu pergi.
Namun jejaknya tinggal.
Bukan dalam bentuk batu.
Melainkan dalam cerita.
Dan dari cerita itu, tradisi lahir.
Dari Ingatan ke Kirab
Ingatan yang dirawat akan mencari bentuk.
Di Semarang, ingatan tentang Cheng Ho tidak berhenti sebagai legenda. Ia menjelma dalam ritual, lalu berkembang menjadi perayaan yang melibatkan banyak orang.
Kirab Sam Poo Besar adalah puncaknya.
Simbol Laksamana diarak dari klenteng tua di kawasan Pecinan menuju Sam Poo Kong. Jalanan berubah menjadi panggung. Ribuan orang berdiri di tepi jalan—ada yang berdoa, ada yang memotret, ada yang sekadar menyaksikan.
Sejarah keluar dari ruang ibadah.
Ia turun ke jalan.
Ia berjalan.
Pasukan yang Datang Lebih Awal
Namun sebelum semua kemegahan itu bergerak—
sebelum liong meliuk, sebelum barongsai melompat, sebelum tandu suci diusung—
ada satu barisan yang lebih dulu melangkah.
Mereka tidak mencolok.
Tidak dielu-elukan.
Seragam mereka sederhana.
Di tangan mereka—sapu lidi.
Mereka disebut: Pasukan Sapu Jagad.
Langkah mereka pelan.
Gerakannya berulang.
Menyapu.
Adegan itu sering terlewat.
Padahal justru di situlah makna bersemayam.
Sapu Jagad: Menyapu Dunia, Menjernihkan Zaman
Sapu Jagad, secara harfiah berarti “menyapu dunia.”
Namun dunia di sini bukan untuk dikuasai—
melainkan untuk dirawat.
Dalam tafsir budaya, terutama sebagaimana sering dihayati oleh tokoh seperti Harjanto Halim, sapu jagad adalah laku batin.
Menyapu bukan hanya membersihkan jalan.
Ia adalah:
merendahkan diri sebelum perayaan,
menghormati ruang sebelum digunakan,
membersihkan yang kasat mata dan yang tersembunyi.
Jalan yang dilalui kirab bukan milik ritual semata. Ia adalah jalan warga, pedagang, anak sekolah. Maka sebelum simbol suci melintas, jalan itu harus diperlakukan dengan hormat.
Sapu itu mengajarkan sesuatu yang sederhana:
bahwa sebelum kita menambah sesuatu ke dunia,
kita perlu membersihkan apa yang sudah ada.
Kerendahan Hati di Depan Kebesaran
Kirab Sam Poo Besar adalah representasi kebesaran sejarah.
Nama Cheng Ho berdiri sebagai simbol perjumpaan lintas budaya.
Namun kebesaran itu tidak berjalan sendirian.
Ia didahului oleh sapu.
Di situlah paradoks yang indah:
sebelum yang tinggi diangkat,
yang rendah harus lebih dulu menyentuh tanah.
Sapu menjadi metafora kepemimpinan.
Bahwa pemimpin bukan hanya mereka yang diarak.
Tetapi mereka yang membersihkan jalan.
Bhekun: Nazar yang Menjadi Langkah
Di tengah keramaian kirab, ada lapisan lain yang lebih sunyi.
Ia tidak selalu terlihat mencolok.
Namun ia menyimpan inti yang dalam.
Orang menyebutnya: Bhekun.
Bhekun bukan sekadar peserta kirab.
Ia adalah laku.
Menjadi Bhekun berarti membawa sesuatu dari dalam diri—
sebuah niat, sebuah janji, sebuah nazar.
Malam sebelum kirab, di pelataran Tay Kak Sie, wajah-wajah mulai dirias.
Cat merah.
Garis hitam.
Sentuhan emas.
Namun rias itu bukan sekadar estetika.
Ia adalah peralihan.
Dari diri sehari-hari,
menjadi sosok yang membawa tekad.
Peserta duduk diam.
Mata terpejam.
Wajah diserahkan pada tangan seniman.
Mereka tidak hanya dirias.
Mereka dipersiapkan.
Nazar yang Tidak Selalu Diucapkan
Banyak dari mereka datang dengan cerita.
Ada yang pernah berdoa dalam sunyi.
Ada yang berjanji tanpa saksi.
Ada yang kembali karena merasa harus menepati sesuatu.
Nazar tidak selalu diumumkan.
Ia sering disimpan.
Namun dalam langkah kirab, nazar itu menjadi nyata.
Berjalan jauh.
Menahan lelah.
Tidak mengeluh.
Itulah bentuknya.
Mak Ribut: Kesetiaan yang Tidak Berisik
Di antara para Bhekun, ada satu sosok yang sering disebut pelan-pelan:
Mak Ribut.
Ia bukan pusat perhatian.
Ia tidak mencari sorot kamera.
Namun kehadirannya tidak tergantikan.
Tugasnya sederhana—menjaga kuda yang mengiringi tandu Kongco. Namun di tengah dentuman tambur dan letupan petasan, tugas itu menjadi sangat penting.
Kuda bisa gelisah.
Bisa panik.
Bisa kacau.
Mak Ribut ada di sana.
Tangannya lembut.
Suaranya rendah.
Ia tidak memaksa.
Ia menenangkan.
Kesetiaannya berlangsung puluhan tahun.
Sebagai nazar.
Sebagai laku.
Ia tidak banyak bercerita.
Ia hanya hadir.
Tahun demi tahun.
Kota yang Bernapas dalam Dua Waktu
Semarang hidup dalam dua waktu.
Waktu sehari-hari—pasar, toko, kendaraan.
Dan waktu ingatan—ritual, doa, kirab.
Dalam Kirab Sam Poo Besar, dua waktu itu bertemu.
Jalan yang biasa menjadi tempat transaksi, berubah menjadi jalur sejarah.
Orang-orang yang biasanya sibuk, berhenti untuk menyaksikan.
Kota menjadi ruang perjumpaan.
Tradisi yang Pernah Redup
Seperti banyak tradisi lain, kirab ini pernah mengalami masa sulit.
Ada masa ketika ekspresi budaya Tionghoa dibatasi.
Ritual dipersempit.
Identitas dipaksa diam.
Namun tradisi tidak hilang.
Ia bersembunyi.
Menunggu.
Dan ketika ruang terbuka,
ia kembali.
Lebih hidup.
Lebih terbuka.
Lebih luas.
Dari Ritual ke Identitas Kota
Hari ini, Kirab Sam Poo Besar bukan hanya milik satu komunitas.
Ia adalah milik kota.
Ia menjadi bagian dari identitas Semarang—
sebuah kota yang dibangun dari perjumpaan.
Jawa.
Tionghoa.
Arab.
Eropa.
Semua pernah datang.
Sebagian tinggal.
Dan kirab ini menjadi pengingat bahwa perbedaan bisa berjalan bersama.
Lebih dari Sekadar Perayaan
Bagi sebagian orang, kirab adalah tontonan.
Bagi yang lain, ia adalah ibadah.
Namun bagi banyak orang, ia adalah pengingat:
bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hidup dalam langkah.
Dalam sapu yang diayunkan.
Dalam wajah yang dirias.
Dalam nazar yang dijaga.
Yang Tertinggal Setelah Kirab
Ketika arak-arakan selesai, jalan kembali seperti semula.
Kendaraan lewat.
Orang pulang.
Suara mereda.
Namun sesuatu tertinggal.
Bukan hanya jejak kaki.
Melainkan rasa.
Bahwa kebesaran tidak selalu datang dari yang terlihat.
Bahwa yang sunyi justru sering paling bermakna.
Bahwa dunia tidak hanya membutuhkan perayaan—
tetapi juga penyapu.
Bahwa sejarah tidak hanya diingat—
tetapi dijalani.
Penutup: Menyapu, Menjaga, Menghidupkan
Kirab Sam Poo Besar mengajarkan satu hal sederhana:
bahwa hidup bersama membutuhkan lebih dari sekadar hadir.
Ia membutuhkan:
orang-orang yang mau menyapu,
orang-orang yang mau berjalan,
orang-orang yang mau menjaga.
Sapu Jagad membersihkan jalan.
Bhekun menjaga niat.
Kota merawat ingatan.
Dan selama itu semua masih ada,
selama masih ada yang memilih merunduk sebelum berdiri,
selama masih ada yang setia berjalan tanpa sorot lampu—
maka tradisi ini tidak akan pernah benar-benar berakhir.
Ia akan terus hidup.
Di jalanan.
Di hati.
Di antara manusia yang percaya bahwa kebajikan—
seperti jejak seorang laksamana—
tidak pernah benar-benar hilang. (*)




