Di lereng Gunung Anjasmoro,
angin tidak hanya membawa hawa sejuk dari hutan Wonosalam,
tetapi juga membisikkan narasi lama yang terpendam
di sela-sela puing andesit.
Candi Rimbi bukan sekadar cungkup kematian bagi seorang ratu;
ia adalah manifesto batu tentang perempuan yang menolak dilupakan.
Di sini, feminisme tidak dibaca dari teori-teori Barat yang rumit,
melainkan dari relief Arjunawiwaha dan Sri Tanjung yang terukir abadi.
Di mana tokoh perempuan digambarkan bukan sebagai objek pelengkap,
melainkan subjek yang utuh: cerdas, berani, dan penuh daya cipta.
Lihatlah Sri Tanjung, yang kesuciannya dibuktikan
dengan keberanian menghadapi air sungai,
bukan dengan diam menunggu takdir,
melainkan dengan tindakan yang mengubah nasib.
Candi ini adalah pendharmaan Sri Tribhuwana Tunggadewi,
seorang mahapatih wanita yang kemudian naik takhta menjadi Raja Majapahit.
Sejarah sering lupa mencatat, bahwa sebelum menjadi raja,
ia telah membuktikan bahwa kepemimpinan tidak memiliki jenis kelamin.
Ia memimpin armada laut, menata kerajaan, dan menjaga kedaulatan,
tanpa perlu meninggalkan kodratnya sebagai ibu dan perempuan.
Di Rimbi, batu-batu itu seolah berteriak lantang dalam diam:
“Kekuasaan bukanlah domain laki-laki,
keadilan adalah hak setiap jiwa yang mampu memikul tanggung jawab.”
Kami berjalan mengelilingi batur candi,
menyentuh permukaan kasar yang telah dimakan waktu.
Jari-jari menyusuri lekukan relief, mencoba membaca pesan tersirat:
bahwa tubuh perempuan bukanlah tanah jajahan,
melainkan benteng peradaban yang kokoh.
Ratu Tribhuwana tidak butuh mahkota emas untuk sah sebagai pemimpin;
ia sah karena karyanya, karena pikirannya,
karena keberaniannya membela rakyat kecil.
Feminisme di Candi Rimbi adalah tentang pengakuan.
Pengakuan bahwa perempuan telah ada di garis depan sejarah,
bahkan ketika catatan resmi berusaha mengaburkan peran mereka.
Candi ini berdiri sebagai saksi bisu,
bahwa ribuan tahun lalu Nusantara sudah mengenal kesetaraan;
di mana seorang wanita bisa menjadi panglima, hakim, dan raja,
tanpa harus berubah menjadi laki-laki.
Matahari sore menyinari reruntuhan,
menciptakan bayangan panjang yang dramatis.
Dalam cahaya keemasan itu, wajah Durga—yang sering ditafsirkan seram—
tiba-tiba tampak berbeda.
Ia bukan dewi penghancur yang menakutkan,
melainkan simbol kekuatan feminin yang protektif dan mengayomi.
Kekuatan yang tidak lahir dari dominasi,
tetapi dari kasih sayang yang tegas.
Membaca feminisme di Candi Rimbi adalah proses sadar diri.
Bahwa perjuangan emansipasi bukan hal baru yang diimpor,
melainkan akar yang pernah tumbuh subur di tanah ini,
dan kini tertimbun debu, menunggu untuk digali kembali.
Di antara retakan batu dan lumut hijau,
terdapat janji purba:
bahwa selama perempuan berani berdiri tegak seperti candi ini,
peradaban akan terus berlanjut, adil, dan bermartabat.
Candi Rimbi, Jombang
Di mana batu mengajarkan kita bahwa perempuan adalah sejarah itu sendiri.
Lereng Arjuno 18 April 2026




