Semarang – Gerimis turun tipis di pagi Semarang, Senin (9/2/2026). Hujan kecil yang tak sungguh-sungguh ingin menghentikan langkah. Di bawah langit kelabu itu, puluhan orang berkumpul di Rumah PoHan, Jalan Kepodang No. 64—sebuah rumah tua yang hari itu menjadi pintu masuk menuju masa lalu. Setelah briefing singkat, rombongan bergerak. Tujuan pertama: Klenteng Tay Kak Sie, titik mula perjalanan menyusuri jejak pers yang pernah hidup dan bernapas di Pecinan Semarang.
Dari halaman klenteng, langkah kaki mulai memasuki gang-gang sempit—lorong kota yang kini tampak sunyi, namun dahulu berdenyut oleh aktivitas niaga, percetakan, dan perbincangan ide. Pecinan bukan sekadar ruang perdagangan; ia pernah menjadi ladang subur bagi kelahiran surat kabar, tempat kata-kata dirakit, dicetak, dan disebarkan dengan keberanian. Di antara tembok-tembok tua dan rumah-rumah yang menua bersama waktu, berita, tajuk rencana, dan gagasan perlawanan pernah lahir, membentuk kesadaran sebuah zaman.
Jelajah napak tilas ini menyusuri sejumlah titik penting: bekas percetakan dan kantor redaksi Makmur, Jawa Tengah, dan Soeara Semarang; lalu jejak Koran Sorot, Koran Sinar (Soda), Warna Warta, Nan Sing, hingga kawasan Sidorejo 126. Percetakan Nan Sing, yang semula berdiri di kawasan itu, kemudian berpindah ke Gang Besen—sebuah penanda betapa dinamisnya dunia pers kala itu, bergerak mengikuti denyut ekonomi dan tekanan zaman.
Salah satu perhentian yang paling menyita perhatian adalah jejak Koran Pesat. Media pergerakan ini pernah dikelola oleh pasangan suami istri S.K. Trimurti dan Sayuti Melik. Jauh sebelum nama mereka diabadikan dalam peristiwa Proklamasi—Sayuti Melik sebagai pengetik naskah Proklamasi 17 Agustus 1945 dan S.K. Trimurti sebagai tokoh pers sekaligus pejuang perempuan—Semarang telah menjadi salah satu ruang awal perjuangan mereka. Di kota ini, perlawanan dimulai dari huruf-huruf cetak, dari berita yang menolak tunduk, dari gagasan yang berani disuarakan.
Pemandu tur, Yvonne Sibuea—peneliti sejarah pers lokal—menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari riset bersama Rumah PoHan dan EIN Institute. Baginya, Pecinan Semarang memegang peran strategis dalam sejarah pers modern Indonesia, terutama karena banyak surat kabar dikelola secara mandiri oleh warga Tionghoa Peranakan.
“Di kawasan ini, pers menjadi medium gagasan, identitas, dan perlawanan,” ujar Yvonne. “Kata-kata dicetak bukan semata untuk memberitakan peristiwa, tetapi untuk merawat kesadaran sosial.”
Heritage Walking Tour ini digelar bertepatan dengan Hari Pers Nasional—sebuah momentum untuk mengingat bahwa pers tidak lahir di ruang hampa. Mesin cetak, meja redaksi, dan gang-gang kota menjadi saksi bagaimana berita dan ide diproduksi dengan keberanian, sering kali di bawah bayang-bayang tekanan kolonial.
Bagi Widya Khoirunnisa, penggagas kegiatan, tur ini adalah upaya menghadirkan sejarah secara langsung kepada publik. “Kami ingin sejarah pers tidak hanya dibaca di buku atau arsip,” katanya, “tetapi dialami—melalui langkah kaki dan ruang kota.”
Kegiatan ini sekaligus menjadi pembuka Jelajah Sejarah Semarang #1, hasil kolaborasi Rumah PoHan, Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang, EIN Institute, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kranggan, serta Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang.
Di bawah gerimis pagi Pecinan, para peserta tak sekadar berjalan. Mereka membaca ulang zaman. Menyadari bahwa di gang-gang yang kini sunyi inilah pers pernah tumbuh, bertahan, dan ikut merajut jalan panjang menuju Indonesia merdeka—dari kata, dari cetak, dari keberanian untuk bersuara.
(Christian Saputro)




