Perjalanan itu dimulai dari Semarang, pagi yang belum sepenuhnya bising. Rombongan bergerak dengan ritme yang tak tergesa—seperti perjalanan yang memahami bahwa tujuan bukan hanya soal tiba, tetapi juga bagaimana setiap persinggahan memberi makna. Jalan panjang menuju Jombang bukan sekadar lintasan geografis, melainkan lorong pengalaman yang disusun dari tempat-tempat, rasa, dan perjumpaan.
Menjelang siang, rombongan singgah di Warung Wader Cak Mat. Di sana, kesederhanaan kembali menemukan bentuknya: ikan wader yang digoreng kering, sambal yang menggigit, dan nasi hangat yang mengikat percakapan. Tak ada seremoni, hanya tawa pendek dan cerita-cerita ringan—seolah perjalanan ini memang dimulai dari hal-hal kecil yang akrab.
Dari rasa, langkah beralih ke jejak sejarah. Rombongan menuju Vihara Maha Wira Mojopahit. Patung Buddha tidur membentang dalam diam yang panjang, seakan menjaga ingatan peradaban yang tak lekang. Di sana, waktu terasa melambat. Orang-orang berdiri, sebagian berdoa, sebagian hanya menatap—menghadapi sunyi yang berbicara lebih dalam dari kata-kata.
Perjalanan berlanjut ke Candi Rimbi. Batu-batu tua itu menyimpan kisah yang tak lagi lengkap, tetapi justru di situlah daya pikatnya. Sejarah hadir sebagai serpihan, mengundang imajinasi untuk merangkainya kembali. Angin yang berembus pelan di antara reruntuhan seperti membawa bisikan masa lalu.
Sore merambat ketika rombongan tiba di Gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno.
Gereja tua itu berdiri tenang, menjadi saksi perjumpaan iman dan budaya Jawa yang tumbuh dari akar agraris. Di halaman yang teduh, langkah-langkah menjadi lebih lirih—seperti ada kesadaran bahwa keberagaman bukan sekadar wacana, melainkan pengalaman yang hidup.
Menjelang petang, rombongan menyambangi Klenteng TITD Hong San Kiong. Senja jatuh pelan di pelatarannya. Lampion-lampion mulai menyala, dan di depan klenteng, panggung sederhana telah hidup oleh gerak boneka-boneka kecil: Wayang Potehi.
Cerita mengalir dari balik tirai kain, diiringi bunyi kayu dan musik yang ritmis. Tokoh-tokoh mungil itu bergerak lincah, seolah menghidupkan kembali kisah-kisah lama yang menyeberangi laut, menetap, lalu berakar di tanah Jawa. Anak-anak menonton dengan mata lekat, orang dewasa tersenyum samar—barangkali mengingat masa kecil, atau sekadar menikmati keajaiban sederhana yang tak lekang oleh zaman.
Malam pun turun perlahan. Setelah pertunjukan usai dan tepuk tangan mereda, rombongan beranjak. Dari panggung kecil penuh cerita, mereka bergerak menuju tujuan berikutnya: makan malam.
Rombongan tiba di warung sederhana di Jalan KH Hasyim Asy’ari—tempat yang dikenal sebagai warung Nasi Kikil Merah kesukaan Abdurrahman Wahid.
Tempatnya tak besar. Bahkan cenderung bersahaja. Tapi di sanalah waktu seperti mengendap. Aroma kuah merah menyergap pelan, menguap dari panci yang terus menyala sejak sore.
Warung itu kini dikenal sebagai tempat “Nasi Kikil Kesukaan Gus Dur”.
Tak ada yang benar-benar berubah, kecuali usia. Generasi berganti, dari Sampurni ke Khoirumlah, lalu ke Siti Munazilah dan Siti Munawaroh. Namun rasa—itulah yang dijaga seperti amanah.
Resep yang tak pernah ditulis, hanya diingat oleh lidah dan diwariskan lewat gerak tangan.
Di meja kayu yang mulai kusam, rombongan duduk. Mereka memesan menu yang sama, hampir seperti ritual: kikil kuah merah, kikil goreng, empal. Beberapa memilih tanpa nasi—mengikuti kebiasaan sang kiai yang dulu lebih memilih menikmati lauknya saja, seolah rasa adalah inti, bukan pelengkap.
Konon, Gus Dur sering datang malam hari. Tanpa protokol berlebihan. Duduk di ruang tamu, bercakap santai, lalu makan dengan lahap. Ia bisa menambah lauk, meminta tulang-tulang, menikmati kikil dengan cara yang nyaris kanak-kanak: jujur, tanpa pretensi.
Di dinding warung, foto-foto itu masih ada. Membekukan momen yang kini hanya bisa diceritakan ulang.
Seorang anggota rombongan berujar pelan, “Di sini, kita seperti diajak mengerti bahwa kebudayaan bukan cuma yang besar-besar.”
Memang. Di warung kecil itu, sejarah tidak hadir dalam pidato. Ia hadir dalam kuah merah yang kental, dalam kikil yang kenyal, dalam sendok yang beradu pelan dengan piring seng.
Hari pertama pun ditutup bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan rasa yang tinggal di lidah dan ingatan. Sebab perjalanan ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang tempat-tempat yang dikunjungi—tetapi tentang bagaimana manusia belajar memahami, melalui apa yang ia lihat, ia sentuh, dan ia cicipi.
Dan di Jombang, malam itu, kenangan terasa hangat. (Christian Saputro)




