Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis – Penyuka Seni rupa
Di hadapan kanvas berukuran dua meter, warna-warna itu seperti tidak sedang diam. Mereka bergerak. Mengalir. Berdenyut pelan, mirip nadi yang tersembunyi di bawah kulit bumi, menunggu saatnya untuk meletup menjadi kehidupan.
Hani Santana berdiri tidak jauh dari sana. Perempuan kelahiran Cilacap itu tak pernah benar-benar meninggalkan dunia musik; ia hanya memindahkan bunyi ke medium lain. Jika dulu ia mengolah nada, ritme, dan melodi, kini ia mengolah warna, tekstur, dan ruang. Di tangannya, cat akrilik berubah menjadi semacam partitur baru. Kanvas menjelma panggung tempat alam memainkan simfoninya yang tak bertepi.
Karya berjudul Merepih Alam menjadi pintu masuk yang paling jelas untuk memahami semesta kreatif Hani. Berukuran 200 x 150 sentimeter, lukisan itu tampak seperti bentangan lanskap yang sedang mengalami metamorfosis. Tak ada gunung, sungai, atau pohon yang bisa dikenali secara harfiah. Yang tampak adalah energi. Gerak. Lapisan-lapisan warna yang saling bertubrukan, bergesekan, lalu akhirnya berdamai dalam harmoni yang sunyi.
Kata merepih dalam bahasa Jawa mengandung makna mengurai, melepaskan, atau membiarkan sesuatu kembali ke asalnya. Dalam lukisan ini, alam tampak sedang melakukan pekerjaan purbanya: membongkar dan menyusun ulang dirinya sendiri. Di tengah dunia modern yang terus-menerus memburu pertumbuhan dan akumulasi, alam dalam karya Hani justru mengajarkan tentang seni melepas. Bahwa setiap gugurnya daun adalah awal dari kehidupan baru. Bahwa setiap retakan tanah menyimpan kemungkinan tumbuhnya tunas. Bahwa kerusakan tidak selalu berarti akhir, melainkan sering kali merupakan prasyarat bagi kelahiran.
Barangkali karena itulah karya-karya Hani terasa begitu hidup. Ia tidak melukis objek. Ia melukis proses.
Jalan hidup Hani sendiri bergerak seperti aliran sungai yang sulit ditebak arahnya. Ia seorang autodidak. Tidak lahir dari studio akademik yang penuh dengan teori ketat dan disiplin formal seni rupa. Sebaliknya, perjalanan kreatifnya tumbuh subur dari pengalaman spiritual, intuisi tajam, dan kedekatannya yang intim dengan alam.
Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menyebut dirinya sedang “berkolaborasi dengan semesta”.
Kalimat itu mungkin terdengar puitis dan abstrak bagi sebagian orang. Namun di ruang kerjanya, kolaborasi itu benar-benar terjadi secara fisik. Hani kerap membiarkan unsur-unsur alam ikut campur dalam proses penciptaan. Angin yang mengeringkan cat, kelembapan udara yang mengubah tekstur, cahaya yang jatuh pada sudut tertentu, bahkan waktu yang berjalan lambat, semua menjadi bagian dari komposisi yang tak selalu bisa dikendalikan sepenuhnya oleh tangan manusia.
Pendekatan pasif-aktif ini membuat karya-karyanya memiliki kualitas yang nyaris organik. Tekstur tebal yang menonjol dari permukaan kanvas menyerupai kerak tanah, batuan yang tergerus hujan selama ribuan tahun, atau lapisan sedimen yang menyimpan sejarah panjang bumi. Tak mengherankan jika banyak kolektor tertarik pada karyanya. Mereka merasa tidak hanya membeli sebuah lukisan, melainkan membawa pulang jejak energi dan memori bumi yang tertinggal di dalamnya.
Dua karya berjudul High Hope yang dipamerkan berdampingan menghadirkan babak berbeda dalam perjalanan visual Hani. Di sini, alam tidak lagi sekadar berbicara tentang siklus biologis dan regenerasi. Ia berbicara tentang harapan.
Harapan yang tidak hadir sebagai slogan kosong atau optimisme murahan.
Harapan yang lahir dari pengalaman bertahan hidup.
Warna-warna terang muncul seperti cahaya matahari yang berhasil menembus kabut tebal di pagi hari. Bentuk-bentuk abstrak bergerak dinamis menuju ruang yang lebih lapang. Ada kesan perjalanan. Ada rasa bahwa sesuatu sedang dicari, sekaligus sedang ditemukan.
Dalam salah satu versinya, High Hope terasa sangat personal. Seperti catatan harian seorang pengelana yang memilih untuk tetap berjalan meski tidak mengetahui ujung jalan. Pada versi lainnya, harapan berubah menjadi sesuatu yang kolektif. Unsur-unsur visual saling terhubung, membentuk jaringan yang lebih luas dan kompleks. Seolah Hani hendak mengatakan bahwa masa depan tidak dibangun oleh satu orang saja, melainkan oleh banyak tangan yang bekerja bersama, saling menopang.
Di tengah berbagai kecemasan ekologis dan sosial yang mengisi kehidupan modern, karya-karya ini seperti pengingat lembut bahwa optimisme masih mungkin dirawat. Bukan optimisme yang naif dan menutup mata terhadap realitas, melainkan optimisme yang sadar akan luka, namun tetap memilih untuk tumbuh.
Puncak narasi itu bermuara pada karya Mother Earth.
Di sinilah Hani menghadirkan bumi bukan sekadar sebagai lanskap fisik, melainkan sebagai sosok. Sebagai ibu. Sebagai rahim yang tak pernah berhenti memberi kehidupan.
Dalam berbagai kebudayaan kuno, bumi selalu dipersonifikasikan sebagai perempuan. Ia melahirkan, memelihara, menyediakan pangan, air, dan ruang hidup. Namun, manusia modern sering melupakan hubungan purba dan sakral itu. Bumi diperlakukan semata sebagai objek produksi, sumber daya yang harus dieksploitasi, bukan sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati.
Melalui Mother Earth, Hani mencoba mengembalikan percakapan yang telah lama hilang tersebut.
Permukaan kanvas dipenuhi lapisan warna yang kaya dan hangat, membentuk kesan kehangatan sekaligus kekuatan yang kokoh. Ada kelembutan seorang ibu yang menimang anaknya, tetapi juga ada keteguhan yang tak tergoyahkan layaknya batu karang. Lukisan ini tidak menggurui. Ia hanya mengingatkan. Bahwa rumah terbesar manusia sesungguhnya adalah bumi. Dan seperti seorang ibu yang terus memberi tanpa pamrih, bumi pun memiliki batas kesabarannya.
Perjalanan Hani Santana dalam lima tahun terakhir menunjukkan konsistensi yang jarang ditemukan. Dari pameran Segara di Museum Affandi, Nyekar di Yogyakarta, Nothing But Love di Semarang dan Bali, hingga Diannova di Jakarta, tema-tema yang ia usung selalu berputar pada hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, dan energi kehidupan.
Ia seakan sedang menulis satu buku panjang yang setiap halamannya berupa kanvas.
Di ArtMoments 2026, melalui rangkaian karya yang tergabung dalam booth Kidung by RWD, buku itu memperoleh bab baru. Sebuah bab tentang bumi yang sedang berbicara. Tentang harapan yang masih tumbuh di celah-celah keputusasaan. Dan tentang manusia yang, di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang bising, masih perlu belajar untuk berhenti sejenak dan mendengarkan.
Karena mungkin, seperti yang disampaikan Hani lewat lapisan warna dan teksturnya yang rumit, alam tidak pernah berhenti bernyanyi. Kitalah yang terlalu sibuk untuk menyimaknya. (*)




