REMBANG — Perhelatan budaya tahunan Nginguk Githok VIII kembali digelar di Dukuh Sekararum, Desa Sumber, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Memasuki usia sewindu penyelenggaraan, kegiatan yang diinisiasi SKRM Squad bersama Hysteria ini mengusung tema “Seger Kwarasan”, sebuah refleksi tentang pentingnya menjaga kesehatan fisik, mental, dan ketahanan sosial di tengah perubahan zaman yang kian kompleks.
Manager Festival Nginguk Githok VIII, M. Andre Setiawan dari SKRM Squad, menjelaskan bahwa tema Seger Kwarasan dipilih sebagai pengingat pentingnya menjaga kewarasan kolektif di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Seger Kwarasan bukan hanya berbicara tentang kesehatan fisik, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat untuk tetap waras, tangguh, dan saling menguatkan dalam menghadapi perubahan sosial, budaya, maupun lingkungan,” ujarnya.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, Seger Kwarasan dimaknai sebagai kondisi tubuh dan jiwa yang sehat, bugar, tenteram, serta terbebas dari penyakit. Lebih dari sekadar ungkapan, istilah tersebut merupakan doa dan harapan agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan keseimbangan lahir dan batin.
Menurut Andre, tema tersebut sekaligus menjadi penanda perjalanan delapan tahun Nginguk Githok yang sejak pertama kali digelar pada 2018 terus berupaya membangun ruang gotong royong berbasis kebudayaan masyarakat desa.
“Selama delapan tahun kami belajar bahwa kerja bersama dapat menghadirkan manfaat yang luas. Mulai dari menginisiasi kegiatan di tengah warga, melestarikan tradisi lokal, merekontekstualisasi Sedekah Bumi agar tetap relevan dengan kehidupan hari ini, hingga membangun jejaring yang melampaui batas daerah, nasional, bahkan internasional,” katanya.
Dalam naskah kuratorial disebutkan bahwa sewindu Nginguk Githok menjadi momentum penting untuk merefleksikan berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Arus media sosial yang semakin deras, generasi muda yang mulai menjauh dari akar budaya lokal, kebijakan yang kerap tidak berpihak pada kebutuhan masyarakat, hingga perubahan iklim yang membuat musim semakin sulit diprediksi menjadi kenyataan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, Seger Kwarasan dihadirkan sebagai ajakan untuk menjaga kewarasan kolektif agar berbagai upaya pemberdayaan yang telah dibangun bersama warga tetap bertahan, berkelanjutan, dan memiliki ketangguhan menghadapi dinamika masa depan.
Rangkaian kegiatan Nginguk Githok VIII berlangsung sepanjang Juni 2026 dengan melibatkan partisipasi aktif warga. Kegiatan diawali dengan tahlil bersama di Punden Sekararum pada 3 Juni, dilanjutkan arak-arakan gunungan dan kajat di punden pada 4 Juni. Pada hari yang sama, masyarakat juga disuguhi pertunjukan kethoprak Bakti Kuncuro yang digelar dalam dua sesi.
Memasuki pekan berikutnya, kegiatan berlanjut dengan pentas dangdut pada 8 Juni, pengajian warga di Masjid Nur Rohmad pada 9 Juni, serta pertunjukan campursari yang menghadirkan kelompok musik Puspa Laras.
Seluruh rangkaian acara dipusatkan di sejumlah titik penting di Sekararum, mulai dari kawasan punden hingga penggilingan padi milik warga yang selama ini menjadi ruang komunal masyarakat.
Bagi warga Sekararum, Nginguk Githok bukan sekadar perayaan tradisi tahunan. Ia telah tumbuh menjadi ruang perjumpaan antar-generasi, tempat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan budaya terus dirawat. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, perhelatan ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga dimaknai ulang agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.
Memasuki tahun kedelapan penyelenggaraannya, Nginguk Githok menunjukkan bahwa kebudayaan bukan semata upaya merawat masa lalu. Lebih dari itu, kebudayaan menjadi ikhtiar bersama untuk membangun masa depan yang sehat, tangguh, dan berdaya—sebuah cita-cita yang terangkum dalam dua kata sederhana namun penuh makna: Seger Kwarasan. (Christian Saputro)




