SEMARANG – Angin pagi di Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, tidak membawa hawa dingin biasa. Ia membawa aroma khas yang hanya muncul setahun sekali, perpaduan antara dupa kemenyan, bunga setaman, dan wangi tanah basah setelah disiram embun. Namun, di tengah kirab budaya Sesaji Rewanda yang megah, ada satu aroma lain yang paling menggugah selera dan menyentuh memori kolektif warga: aroma daun jati yang membungkus nasi hangat.
Ini bukan sekadar festival wisata. Ini adalah napas panjang masyarakat Talun Kacang, Kelurahan Kandri, untuk menghormati leluhur dan menjaga harmoni dengan alam, khususnya dengan penghuni setia Hutan Larangan Goa Kreo: ribuan kera ekor panjang (Macaca fascicularis).
Dan di jantung ritual sakral ini, terdapat satu bintang utama yang dinanti-nanti, namun dengan resep yang jauh lebih purba dan sederhana daripada versi kuliner modern: Sego Kethek Asli Rewanda.
Kirab yang Menghidupkan Sejarah
Ritual dimulai sejak fajar menyingsing. Dari Masjid Al-Mabrur, sebuah kirab budaya bergerak perlahan menuju kompleks Goa Kreo. Di barisan terdepan, para sesepuh desa memimpin doa, diikuti oleh rombongan pembawa tujuh gunungan raksasa. Gunungan-gunungan ini bukan hiasan semata; mereka adalah simbol hasil bumi yang melimpah. Namun, mata para peserta kirab tertuju pada ratusan bungkusan kecil yang diselipkan di sisi gunungan atau dibawa dalam bakul bambu.
Berbeda dengan Sego Kethek versi pedagang kaki lima yang sering menggunakan daun pisang dan nasi kuning santan, Sego Kethek dalam inti Sesaji Rewanda yang paling otentik memiliki ciri khas tersendiri. Ia dibungkus dengan daun jati muda yang masih lentur. Nasinya adalah nasi putih polos, tanpa campuran santan atau kunyit. Lauknya pun sangat sederhana: urap sayuran (kelapa parut berbumbu dengan bayam, kacang panjang, dan tauge) serta ikan gereh (ikan teri kering) yang digoreng garing atau dicampur sambal.
“Ngalap Sego Kethek” atau mengambil nasi kethek dalam konteks Sesaji Rewanda memiliki makna ganda. Bagi manusia, ini adalah momen berebut berkah. Bagi kera-kera liar yang turun dari pohon, ini adalah pesta tahunan yang disediakan oleh manusia sebagai tanda persaudaraan abadi.
“Sesaji Rewanda artinya persembahan untuk yang gaib atau leluhur, tapi juga wujud syukur kita kepada Tuhan karena masih diberi kehidupan dan keamanan bersama satwa liar di sini,” ujar Mbah Suro, salah satu sesepuh penjaga tradisi Kandri, sambil menatap bungkusan daun jati yang dipegangnya erat. “Kenapa daun jati? Karena daun jati itu kuat, tahan lama, dan melambangkan keteguhan hati. Kenapa nasi putih dan gereh? Karena itu adalah makanan paling sederhana, makanan rakyat jelata. Kita ingin mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan dan alam, kita semua sama sederhananya.”
Daun Jati dan Rasa yang Membawa Pulang
Di tengah-tengah gunungan buah, terselip ratusan bungkusan kecil berwarna cokelat kehijauan khas daun jati. Itulah Sego Kethek Rewanda. Proses pembuatannya pun dilakukan secara gotong royong oleh ibu-ibu desa sejak malam sebelumnya. Nasi putih dikukus hingga pulen, urap sayuran dimasak dengan bumbu kelapa yang gurih namun tidak berlebihan, dan ikan gereh disiapkan sebagai sumber protein yang awet.
Pembungkusannya pun unik. Daun jati dilayukan sebentar di atas api agar tidak robek saat dilipat, kemudian diisi nasi, urap, dan gereh, lalu dijepit dengan lidi atau ditatan sedemikian rupa hingga membentuk bungkusan pipih yang pas digenggam. Ukuran inilah yang konon menyerupai kantung pipi monyet, sehingga dinamakan “Kethek”.
Isinya sangat sederhana: nasi putih yang manis alami, urap yang segar, dan gereh yang asin-gurih. Tidak ada kemewahan. Tidak ada santan yang membebani. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatannya. Ia mengingatkan manusia bahwa esensi kehidupan bukanlah pada seberapa mewah makanan yang disantap, tetapi pada kebersamaan, rasa cukup, dan kemampuan bersyukur atas apa yang ada.
Saat kirab tiba di pelataran Goa Kreo, suasana berubah menjadi magis. Para pawang memberikan isyarat. Gunungan-gunungan dibuka. Buah-buahan disebar ke atas pohon-pohon tempat kera-kera berkumpul. Sementara itu, bungkusan Sego Kethek daun jati yang diperuntukkan bagi manusia mulai diperebutkan.
Rebutan Berkah, Bukan Rebutan Makan
Momen “ngalap” atau mengambil Sego Kethek ini sering disalahartikan sebagai sekadar keributan berebut makanan. Padahal, di balik teriakan seru dan dorongan bahu yang terjadi, tersimpan filosofi mendalam tentang egalitarianisme. Dalam detik-detik pembagian Sego Kethek Rewanda, tidak ada jabatan, tidak ada status sosial. Pejabat daerah, pedagang pasar, mahasiswa, hingga anak-anak kecil, semua melebur menjadi satu massa yang sama-sama ingin mendapatkan “berkah”.
“Banyak yang percaya, siapa yang berhasil mendapatkan Sego Kethek dari Sesaji Rewanda akan membawa pulang keberuntungan, kesehatan, dan kelancaran rezeki sepanjang tahun,” cerita seorang warga yang baru saja berhasil meraih sebungkus nasi berbalut daun jati tersebut, napasnya terengah namun wajahnya berseri. “Bungkusnya mungkin sobek, nasinya mungkin sedikit tercecer, tapi rasanya? Itu rasa berkah yang tidak bisa dibeli di restoran mana pun. Ada rasa ‘ndeso’ yang rindu, rasa kembali ke masa lalu.”
Bagi sebagian orang, memakan Sego Kethek ini di tempat, di bawah rindangnya pohon jati dekat gua, sambil dikelilingi kera-kera yang juga sedang makan buah-buahan, adalah pengalaman spiritual yang menyentuh hati. Membuka lipatan daun jati, mencium aroma khas daun yang bercampur dengan nasi hangat, lalu menyantapnya dengan lahap menggunakan tangan, menciptakan koneksi langsung dengan alam. Ada perasaan terhubung dengan tanah, menyadari bahwa manusia hanyalah satu bagian dari ekosistem besar yang harus saling menghargai.
Rasa asin dari ikan gereh yang berpadu dengan gurihnya urap dan manisnya nasi putih menciptakan simfoni rasa yang jujur. Tidak ada bumbu penyedap buatan, hanya rempah-rempah alami dan ketulusan hati yang memasaknya.
Harmoni yang Langka
Tradisi Sesaji Rewanda dan Sego Kethek di dalamnya adalah bukti langka bagaimana masyarakat lokal di Indonesia mampu hidup berdampingan secara damai dengan satwa liar. Di banyak tempat lain, konflik antara manusia dan monyet liar sering berakhir dengan kekerasan. Namun di Kandri, kera dianggap sebagai mitra, bahkan “tamu kehormatan” yang dilayani dengan sajian terbaik.
Hubungan simbiosis mutualisme ini telah terjalin selama ratusan tahun. Kera mendapat makanan dan perlindungan hutan, sementara warga Kandri merasa dijaga oleh kehadiran kera-kera tersebut, yang secara tradisional dipercaya sebagai prajurit setia Pangeran Diponegoro atau penjaga gawang goa. Sego Kethek bungkus daun jati adalah jembatan emosional yang memperkuat ikatan tak kasatmata ini. Ia adalah simbol bahwa manusia rela berbagi makanan pokok mereka, sesederhana apa pun, dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Warisan yang Harus Dijaga
Di era modern di mana tradisi sering kali tergerus zaman dan kuliner semakin terkontaminasi bahan instan, Sesaji Rewanda di Kandri berdiri tegak sebagai benteng kebudayaan. Pemerintah Kota Semarang kini memang telah mengemas acara ini sebagai agenda pariwisata unggulan, mendatangkan ribuan wisatawan dari luar kota. Namun, inti sakralnya tidak pernah hilang. Warga Kandri tetap menjadi aktor utama, dan resep asli Sego Kethek (nasi putih, urap, gereh, daun jati) tetap dipertahankan sebagai simbol persaudaraan, bukan komoditas belaka.
Melihat anak-anak muda Kandri yang sekarang turut serta dalam kirab, membawa gunungan, dan berebut Sego Kethek dengan antusias, ada harapan besar bahwa api tradisi ini akan terus menyala. Mereka memahami bahwa “ngalap Sego Kethek” bukan sekadar soal mendapatkan makanan gratis, melainkan tentang mewarisi nilai luhur nenek moyang: berbagi, menghormati alam, dan menjaga harmoni dalam perbedaan.
Ketika matahari mulai condong ke barat dan ritual usai, sisa-sisa daun jati berserakan di tanah, mudah terurai kembali menjadi pupuk alam. Kera-kera kembali ke puncak pohon, dan warga pulang membawa bungkus Sego Kethek yang mungkin sudah dingin, namun tetap menyimpan kehangatan makna.
Sesaji Rewanda mengajarkan kita bahwa di dunia yang semakin individualis dan serba instan ini, masih ada ruang untuk berbagi bahkan dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan yang paling liur sekalipun. Dan semuanya bermula dari sebungkus sederhana: nasi putih, urap, dan ikan gereh dalam balutan daun jati. Sebuah paket kecil yang menyatukan manusia, alam, dan sejarah dalam satu genggaman erat di Desa Wisata Kandri, Semarang. (*)




