SEMARANG — Pameran seni bertajuk “Liberté d’Inclusion” yang digagas Noviana Dibyantari melalui Roemah D resmi ditutup setelah berlangsung selama sepuluh hari di Alliance Française Semarang. Pameran ini menjadi ruang ekspresi sekaligus pernyataan sikap tentang kebebasan dan inklusi dalam dunia seni.
Sejak dibuka oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, pameran tersebut menarik perhatian publik lintas kalangan. Penutupan acara dilakukan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menandai dukungan pemerintah terhadap gerakan seni inklusif.
Noviana mengatakan, pameran ini bukan sekadar agenda seni rupa, melainkan bentuk komitmen membuka ruang setara bagi sahabat difabel dan kelompok yang kerap berada di pinggir akses berkesenian.
“Liberté berarti kebebasan, inclusion berarti inklusi. Ini bukan hanya tema, tetapi sikap kami dalam berkarya dan berproses,” ujar Noviana saat penutupan.
Ia menegaskan, keberhasilan pameran tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Noviana menyampaikan apresiasi kepada Alliance Française Semarang yang dimotori Direkturnya, Kiki Martaty.
“Beliau tidak hanya menyediakan ruang pamer, tetapi juga membantu mencarikan pembeli karya. Ini dukungan nyata, bukan sekadar seremoni,” katanya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada mentor Roemah D, Giovanni Susanto, atas pendampingan berkelanjutan, serta kepada kurator yang menata gelar karya secara terencana dan konseptual.
Apresiasi khusus diberikan kepada Christian Heru Cahyo Saputro selaku penulis dan pemantik kegiatan pameran. Selain itu, Singgih Adhy Prasetyo dari UPGRIS turut diapresiasi atas kontribusinya berbagi keterampilan grafis cetak tinggi kepada peserta.
Tak ketinggalan, Yoyok Barokallah mendapat penghargaan atas karya sketsanya yang mengabadikan Sekda Jateng Sumarno dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, dalam bingkai lukisan.
Menurut Noviana, pameran ini menjadi bukti bahwa seni mampu menjembatani batas sosial dan fisik. “Kesuksesan ini tidak lahir sendirian. Ia tumbuh karena kerja sama dan tekad yang sama untuk memberikan ruang bagi sahabat difabel agar bisa berkarya, didengar, dan dihargai,” tegasnya.
Pameran Liberté d’Inclusion menjadi penanda bahwa gerakan seni inklusif di Semarang terus berkembang. Lebih dari sekadar pajangan karya, kegiatan ini menegaskan bahwa inklusi adalah praktik nyata—dalam kolaborasi, akses ekonomi, dan kesempatan yang setara bagi semua. (Christian Saputro)




