REMBANG — Kekayaan kuliner Nusantara akan dirayakan melalui medium seni rupa dalam ajang Open Call Sketch Pameran Hari Gastronomi 2026. Mengusung tema “Makanan Tradisional Nusantara” dan slogan “Menggambar Rasa, Merawat Tradisi”, kegiatan ini mengundang para perupa, ilustrator, pegiat sketsa, hingga masyarakat umum untuk menerjemahkan pengalaman kuliner ke dalam karya visual.
Penyelenggara membuka kesempatan bagi peserta dari berbagai daerah untuk mengirimkan karya sketsa yang terinspirasi dari ragam makanan tradisional Indonesia. Melalui pameran ini, makanan tidak hanya dipandang sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai sumber cerita, ingatan, dan identitas yang hidup di tengah masyarakat.
“Kami ingin mengajak publik melihat bahwa makanan tradisional bukan sekadar santapan, melainkan warisan budaya yang menyimpan sejarah, nilai, dan memori kolektif. Melalui sketsa, kisah-kisah itu dapat dihadirkan kembali dalam bentuk yang artistik,” demikian semangat yang diusung dalam penyelenggaraan pameran.
Karya terpilih nantinya akan dipamerkan di Museum Batik Tiga Negeri, salah satu ruang budaya penting di kawasan pesisir utara Jawa yang dikenal sebagai pusat pertemuan tradisi batik, sejarah maritim, dan warisan multikultural. Pameran ini juga akan berkolaborasi dengan Museum Batik Indonesia, sehingga karya-karya peserta berpeluang tampil di dua lokasi berbeda.
Sejumlah institusi budaya turut mendukung kegiatan ini, antara lain Rumah Merah Heritage, Museum Batik Tiga Negeri, dan Rumah Nyonya Gho Giok Beng. Dukungan media juga datang dari [National Geographic Indonesia](https://nationalgeographic.grid.id?utm_source=chatgpt.com) dan [Intisari](https://intisari.grid.id?utm_source=chatgpt.com).
Peserta diminta mengirimkan hasil scan karya dalam format PDF disertai data diri berupa nama dan judul karya melalui WhatsApp ke nomor 0896-0332-7187. Batas akhir pengiriman karya ditetapkan pada 14 Juni 2026, sementara pembukaan pameran dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni 2026.
Melalui pertemuan antara seni dan gastronomi, pameran ini diharapkan menjadi ruang apresiasi terhadap kekayaan kuliner Nusantara sekaligus upaya merawat tradisi di tengah perubahan zaman. Dari semangkuk soto, sepotong lontong, hingga secangkir kopi tradisional, setiap rasa menyimpan cerita yang layak diabadikan dalam goresan sketsa. (Christian Saputro)




