Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis
Membaca Ulang Petuah Maimun Zubair dalam Masa Kiwari, bersama ingatan Harjanto Halim.
Di masa kiwari, kita hidup dalam arus deras yang memuja kepintaran. Linimasa bergerak cepat. Opini dilahirkan setiap detik. Gelar dipajang, data diperdebatkan, dan kecerdasan diukur dari seberapa sigap seseorang menanggapi isu. Dunia seperti gelanggang tanpa jeda—siapa paling cepat, paling tajam, paling viral, ia yang dianggap unggul.
Namun di tengah riuh itu, petuah sunyi dari Maimun Zubair—Mbah Moen—terasa seperti jeda yang menyentuh ulu hati: hidup ini tidak kekurangan orang pintar, yang kurang adalah orang benar.
Kalimat itu sederhana, tetapi seperti batu kecil yang dijatuhkan ke danau kesadaran. Riaknya panjang. Ia menantang cara kita menilai diri sendiri.
Bagi Mbah Moen, kepintaran bukanlah musuh. Ia mencintai ilmu, mengajarkannya, dan menjaganya sebagai cahaya. Namun ia mengingatkan bahwa ilmu hanyalah alat. Di tangan yang lurus, ia menjadi lentera. Di tangan yang bengkok, ia berubah menjadi bara.
Kita menyaksikan sendiri bagaimana kepintaran dapat menjelma menjadi kepiawaian membenarkan yang salah. Argumen disusun rapi untuk menutupi kepentingan. Logika dipoles untuk menyamarkan ambisi. Orang bisa tampak meyakinkan, tetapi tidak selalu menghadirkan kebenaran.
Di situlah pembedaan Mbah Moen menemukan relevansinya yang paling tajam.
Orang pinter belum tentu bener.
Tetapi orang sing bener, biasanya diparingi kepinteran sing manfaat.
Orang pintar bisa memenangkan debat. Orang benar memenangkan dirinya sendiri. Orang pintar mungkin dielu-elukan. Orang benar sering kali berjalan tanpa tepuk tangan—namun jejaknya tidak melukai.
Refleksi itu pula yang kerap diangkat oleh Harjanto Halim ketika berbicara tentang nilai hidup dan tanggung jawab sosial. Dalam sejumlah kesempatan, ia mengutip Mbah Moen sebagai pengingat bahwa keberhasilan tidak diukur semata oleh kecerdasan strategi atau kelihaian membaca peluang. Ada dimensi batin yang tak boleh tertinggal: kelurusan niat.
Dalam dunia usaha, kepintaran bisa membawa seseorang pada pertumbuhan. Tetapi tanpa kebenaran, pertumbuhan itu rapuh. Ia mungkin menguntungkan, tetapi tidak selalu menenteramkan. Sebaliknya, ketika fondasi dibangun di atas kejujuran dan tanggung jawab, kecerdasan akan menemukan arah pengabdiannya.
Di sinilah petuah pesantren bertemu dengan realitas modern.
Zaman kiwari adalah zaman spesialisasi. Orang berlomba menjadi ahli. Tetapi keahlian tanpa akhlak melahirkan kecanggihan yang dingin. Teknologi berkembang pesat, namun empati bisa menipis. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan justru langka.
Kita mungkin tahu banyak hal, tetapi apakah kita semakin jujur?
Kita mungkin semakin terampil, tetapi apakah kita semakin rendah hati?
Mbah Moen mengajarkan bahwa ukuran hidup bukanlah seberapa tinggi ilmu menjulang, melainkan seberapa dalam ia merunduk menjadi adab. Semakin tahu, seharusnya semakin tawaduk. Semakin paham, semakin hati-hati.
Di era media sosial, orang pintar mudah terlihat. Orang benar sering tidak terdengar. Kepintaran bersuara keras. Kebenaran bekerja diam-diam.
Namun justru dalam diam itulah ia menemukan kemuliaannya.
Orang benar menjaga integritas bukan karena diawasi, melainkan karena sadar bahwa hidup adalah amanah. Ia mungkin tidak menguasai semua teori, tetapi ia tidak tega memanipulasi fakta. Ia mungkin tidak piawai berretorika, tetapi ia tidak tega menyakiti dengan kata-kata.
Petuah Mbah Moen seperti kompas batin: jangan sampai kita lebih sibuk terlihat pintar daripada sungguh-sungguh menjadi benar.
Pada akhirnya, hidup bukan panggung pembuktian kecerdasan. Ia adalah perjalanan pulang. Pulang kepada hati yang bersih, niat yang lurus, dan tanggung jawab yang dijaga.
Masa kiwari mungkin akan terus memproduksi orang-orang pintar. Sekolah akan meluluskan sarjana. Dunia digital akan mencetak pakar instan. Tetapi pertanyaan yang lebih sunyi tetap sama: apakah kita termasuk orang benar?
Karena di ujung usia, mungkin yang tidak lagi relevan adalah berapa banyak debat yang kita menangkan, berapa gelar yang kita sandang, atau seberapa luas pengaruh yang kita bangun.
Yang tersisa adalah satu hal yang tak bisa dipoles retorika:
apakah kita jujur ketika tidak ada yang melihat?
Di situlah orang benar menemukan kemuliaannya.
Bukan pada sorak sorai.
Bukan pada tepuk tangan.
Melainkan pada ketenangan saat sendirian—
ketika hati tahu ia tidak mengkhianati cahaya. (*)




