Semarang — Komunitas wayang orang legendaris Ngesti Pandowo kembali menegaskan daya hidup seni tradisi dengan mementaskan lakon Dewa Ruci utawa Sang Bima di Gedung Baru Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (24/1/2026). Pementasan ini menjadi salah satu agenda utama peringatan Hari Ulang Tahun Yayasan Brata Bhakti Daerah (YBB D) Jawa Tengah ke-74 Tahun 2026, hasil kerja sama YBB D Jawa Tengah dengan Pemerintah Kota Semarang.
Sejumlah pejabat dan undangan tampak hadir dalam pagelaran tersebut, di antaranya Kepala Satpol PP Kota Semarang Kusnandir, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang Sarosa, pengurus Yayasan Bhakti Brata Daerah Jawa Tengah, serta tamu undangan lainnya.
Pagelaran yang disutradarai Budi Lee, dengan Githung Swara sebagai penata musik dan Paminto Krisna sebagai koreografer, menghadirkan tafsir segar atas kisah ksatria Bima—tokoh Pandawa yang dikenal jujur, kokoh, dan teguh membela kebenaran. Sentuhan artistik kontemporer memberi energi baru pada pementasan, tanpa mencabutnya dari akar tradisi wayang orang yang telah menghidupi Ngesti Pandowo selama puluhan tahun.
Pertunjukan dibuka dengan narasi puitis, “Yang Terpilih dan Terkasih, kokoh bagai tonggak di tengah samudra… Dialah Sang Bima,” yang segera membangun suasana dramatik. Gerak para pemain yang tegas, balutan kostum yang ekspresif, serta tata panggung yang dinamis menghadirkan pengalaman visual yang kuat, mempertemukan estetika modern dengan nilai-nilai tradisi Jawa.
Di tengah ketegangan kisah, kehadiran empat Punokawan dalam adegan goro-goro memberi ruang jeda yang menghibur. Humor yang disuguhkan tidak sekadar banyolan, melainkan sarat tuntunan—menggelitik sekaligus menyentil kesadaran penonton melalui kritik sosial yang cerdas dan membumi.
Fragmen Dewa Ruci utawa Sang Bima mengisahkan perjalanan Bima dalam melaksanakan titah gurunya, Resi Durna. Ia harus menghadapi tipu daya Kurawa dan menempuh misi mencari Kayu Gung Susuhing Angin serta Air Perwita Sari. Perjalanan fisik tersebut sekaligus menjadi laku batin yang penuh ujian, hingga mencapai puncak dramatik saat Bima berjumpa dengan Dewa Ruci—peristiwa simbolik yang menandai pencerahan spiritual dan pemahaman hakikat hidup, Sangkan Paraning Dumadi.
Melalui dialog, musik, dan koreografi yang berpadu harmonis, penonton diajak menyelami perjalanan batin seorang ksatria dalam pencarian kebenaran sejati di tengah godaan duniawi. Pesan moral pementasan ditegaskan pada bagian akhir melalui petuah klasik, “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti,” bahwa keperkasaan dan kekuatan duniawi pada akhirnya hanya dapat ditundukkan oleh welas asih.
Melalui pementasan Dewa Ruci, Ngesti Pandowo kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga sekaligus memperbarui seni wayang orang. Di panggung baru TBRS Semarang, kisah Sang Bima menegaskan bahwa kesenian tradisi tetap hidup dan relevan, selama terus dirawat, dibaca ulang, dan dihadirkan secara dialogis dengan zaman.
(Christian Saputro)




