Pameran Bersama “Back Home”, Penanda Jejak Kembalinya Punggawa Komunitas Sayap ke Rumah

Ketua DPC Ikadin Kota Semarang Lukman Muhajir menggoreskan cat pada kanvas sebagai prasasti penanda dibukanya pameran lukisan "Back Home" Komunitas Sayap di TAN Artspace,Semarang, Sabtu (14/01/2023) (Christian Saputro)

Semarang – Komunitas Sayap menggelar pameran lukisan menusung tema : “Back Home” di TAN Artspace, Jalan Papandayan 11 Semarang dari 14 – 27 Januari 2023.

Pameran karya enam orang punggawa Komunitas Sayap yaitu; Lully Tutus, Arif Fiyanto, Biyan Subiyanto, Abdul Mufid,  Sabariman Sinung Rubianto dan Tiyok Black ini dibuka Ketua DPC Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Kota Semarang Lukman Muhajir, SH, MH, Sabtu (14/01/2023) ditandai dengan menggoreskan cat pada sebidang kanvas.

Pembukaan pameran berlangsung semarak dihadiri para perupa dari berbagai kota antara lain Semarang, Ungaran, Jakarta, Yogyakarta, Boyolali, Solo,, Purworejo, Brebes, dan Magelang,

Lukman Muhajir sedang me’nilmati dan mengapresiasi lukisan seusai membuka pameran Komu’itas Sayap di TAN Artspace, Semarang ( Christian Saputro)

Lukman Muhajir dalam sambutannya berharap pameran lukisan “Back Home” yang menaja 23 karya lukisan karya punggawa Komunitas Sayap ini membuat makin semarak dunia seni di Semarang khususnya dunia seni rupa.

“Mudah-mudahan Komunitas Sayap ini ke depan bisa berkepak go internasional dengan karya-karyanya, ” ujar Lukman Muhajir yang mengaku senang dilibatkan dalam helat seni ini.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Untuk itu, lanjutnya, DPC Ikadin Kota Semarang yang dipimpinnya siap mendampingi para seniman kalau ada persoalan dengan pelanggaran undang-undang Hak Cipta.

“Kalau sampai terjadi pelanggaran hak cipta dan tidak sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014, pihak kami siap membantu memback up seniman. Ini merupakan bentuk keberpihakan kami dari Ikadin,” tandas Lukman Muhajir.

Back Home Kembali ke “Rumah”

Muhammad Rahman Athian, dalam pengantar kuratorialnya mengatakan, dalam gelaran pameran “Back Home” ini rumah mnjadi hal yang sangat penting bagi manusia. Rumah bukanlah hanya sebagi bentuk bangunan namun rumah lebih tepatnya adalah sebuah konsep filosofis. Univeritas Negeri Semarang (Unnes) sebagai institusi yang menyatukan semua seniman “Sayap” menjadi sebuah konsepsual “rumah” bagi mereka ikatan rumah inilah yang kemudian membentuk ikatan social, karena bersifat konseptual menariknya rumah ini bisa berbentuk sebagai memori komunal,

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

“Jadi ketika manusia menarik kembali ingatan-ingatan social-komunal seolah ada sebuah bangunan yang dikonstruksi secara konseptual,” terang Athian

Dosen Seni Rupa Univeritas Negeri Semarang ini menambahkan “Back Home” secara filosofis menegaskan bagaimana manusia kembali dari rutinitas kehidupan. Dari kacamata Arif kembali diartikan sebagai memikirkan tempat kita kembali,yaitu; bumi. Sedangkan menurut Tutut melihat kembali persona mimpi yang ia gunakan untuk kembali ke rumah. Sudut pandang Mufid melihat kembali ke rumah indentitas dan personafikasi diri.

Sedangkan Biyan mengantarkan kembali diri melalui harmoni dengan apapun, melalui alam, sesame manusia bahkan social. Sementara Sinung memilih pulang dengan imaji “kartunal”nya. Ia menganggap bahwa apaun yang dilukisnya sebenarnya adalah caranya untuk pulang. Dan Tiyok mengungkapkan apapun kembalinya ke rumah dengan kartun personafikasinya.

Sementara Pengamat Seni Rupa Aryo Sunaryo menilai pameran lukisan “Back Home” ini semarak. Karya-karya anggota Komunitas Sayap ini membuat perbendaharaan pameran lukisan di Semarang jadi lebih semarak.

Baca Juga :  Sastrawan Lampung Zabidi Yakub Raih Hadiah Sastra Rancage 2023

Lebih lanjut, dibeberkannya, karya Sinung yang napaknya berangkat dari karya anak-anak tapi dengan nafas yang berbeda dengan Erica Hestu, mislanya, ada unsur humor dan ritmis dengan pola lorek bagai zebra. Lalu, kita tengok karya Lully yang imajinatif bagai kenyataan yang ditemukan dalam jagad mimpi. Juga karya Tiyok Black yang cara berpikir anak-anak.

Demikian karya Arief —satu-satunya peserta pameran yang bukan alumni IKIP Semarang, tetapi kini juga berumah (mengajar) di Unnes yang juga bergerak dari dunia fantasi. Sementara karya Subiyanto alias Biyan mengeksplor gerak yang dinamis dengan mendistorsi figurnya.

”Sayang karya yang dipamerkan cuma satu biasanya karya-karyanya ada unsur naif alias kekanak-kanakan,” ujar Aryo Sunaryo pensiunan dosen seni rupa Unnes yang kini giat menulis dan juga dikenal sebagai maestro sketsa. (Christian Saputro)