SEMARANG – Sejarah panjang Wayang Orang Ngesti Pandowo tidak hanya dipentaskan di atas panggung, tetapi juga dihadirkan melalui Pameran Linimasa Arsip, Foto, dan Video yang digelar di Gedung Baru Lantai 2, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, pada 17–19 Juli 2026. Pameran tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo.
Mengusung konsep linimasa, pameran menyajikan perjalanan Ngesti Pandowo sejak didirikan oleh Sastro Sabdo pada 1 Juli 1937 di Madiun hingga menjadi kelompok wayang orang legendaris yang bermarkas di Semarang. Puluhan panel foto, arsip, video dokumenter, serta berbagai koleksi bersejarah mengajak pengunjung menelusuri dinamika perjalanan salah satu kelompok wayang orang tertua di Indonesia.
Koordinator Pameran Agus Budi Santoso mengatakan, pameran dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus ruang apresiasi bagi masyarakat untuk memahami perjalanan panjang Ngesti Pandowo.
“Yang kami tampilkan bukan sekadar foto-foto lama, tetapi sebuah linimasa perjalanan sejarah. Ada dokumentasi pertunjukan, arsip organisasi, potret para maestro, hingga transformasi artistik Ngesti Pandowo dari masa ke masa. Kami ingin publik melihat bagaimana kelompok ini mampu bertahan selama hampir sembilan dekade,” ujarnya.
Menurut Agus, dokumentasi yang dipamerkan memperlihatkan perubahan Ngesti Pandowo dari era wayang orang tobong yang berpindah-pindah kota, masa kejayaan pada dekade 1950–1970-an, hingga memasuki era modern dengan pemanfaatan teknologi tata panggung dan layar LED.
Ketua Wayang Orang Ngesti Pandowo Djoko Muljono, didampingi Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa pameran tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para pendiri, maestro, seniman, pengrawit, serta seluruh insan yang telah mengabdikan hidupnya bagi kelestarian wayang orang.
“Pameran ini adalah bentuk penghargaan kepada generasi-generasi yang telah membangun Ngesti Pandowo. Kami ingin generasi muda memahami bahwa kejayaan yang dinikmati hari ini lahir dari kerja keras, dedikasi, dan kecintaan para pendahulu terhadap seni tradisi,” kata Djoko.
Ia menambahkan, setiap arsip yang dipamerkan memiliki nilai sejarah yang penting karena merekam perjalanan perkembangan wayang orang di Indonesia. Karena itu, pelestarian arsip menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian seni pertunjukan.
Agus menambahkan, seluruh materi pameran dipilih secara kuratorial agar mampu menggambarkan perjalanan organisasi secara utuh. Selain dokumentasi pertunjukan dan para maestro, pengunjung juga dapat menyaksikan rekaman video, aktivitas di balik panggung, hingga proses transformasi artistik yang dilakukan Ngesti Pandowo untuk menjawab tantangan zaman.
“Kami berharap pameran ini tidak hanya menghadirkan nostalgia bagi para penikmat wayang orang, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda. Ngesti Pandowo membuktikan bahwa tradisi dapat terus hidup ketika mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.
Pameran Linimasa Arsip, Foto, dan Video ini menjadi pelengkap rangkaian HUT ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo yang juga menghadirkan bursa sanggar seni, bazar UMKM, workshop Tari Dug Dug Der, pentas seni budaya, hingga pagelaran wayang orang “Wanita Tangguh: Wahyu Purbo Sejati” pada Sabtu (18/7) malam.
Melalui pameran ini, Ngesti Pandowo tidak hanya merayakan usia ke-89, tetapi juga merawat memori kolektif tentang perjalanan sebuah kelompok seni yang telah menjadi bagian dari sejarah budaya Indonesia. Di setiap foto, arsip, dan rekaman video, tersimpan kisah tentang ketekunan, kreativitas, dan semangat para seniman yang menjaga nyala wayang orang tetap hidup dari generasi ke generasi.
(Christian Saputro)




