SEMARANG – Wayang Orang Ngesti Pandowo tidak lagi sekadar merayakan ulang tahun dengan pementasan tunggal. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89, yayasan seni tradisi ikonik Semarang ini menggelar festival budaya tiga hari penuh, 17–19 Juli 2026, di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah. Acara ini mengubah peringatan internal menjadi pesta rakyat yang melibatkan sanggar seni, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), pelajar, hingga komunitas budaya.
Ketua Wayang Orang Ngesti Pandowo, Djoko Muljono, menegaskan bahwa usia hampir sembilan dekade harus dimaknai sebagai momentum untuk memperluas ekosistem budaya. “Wayang orang tidak bisa hidup sendiri. Ia harus bersinergi dengan generasi muda, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif. Kami ingin momen ini menjadi ruang perjumpaan bagi semua elemen masyarakat,” ujarnya.
Ekosistem Budaya dan Ekonomi Kreatif
Festival ini dirancang sebagai paket lengkap pengalaman budaya. Pengunjung tidak hanya disuguhkan pertunjukan wayang, tetapi juga dapat menjelajahi bursa sanggar seni, pameran arsip sejarah sejak berdirinya Ngesti Pandowo pada 1937, serta bazar UMKM yang berlangsung sepanjang acara. Langkah ini diambil untuk menunjukkan bahwa pelestarian budaya juga dapat menggerakkan roda ekonomi lokal.
Salah satu agenda unggulan adalah Workshop Tari Dug Dug Der, tarian khas yang terinspirasi dari tradisi Dugderan, ikon Kota Semarang. Workshop ini menyasar berbagai lapisan, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pelajar, hingga anggota sanggar seni. Panitia berharap kegiatan ini dapat mempercepat regenerasi penari dan memperkuat identitas budaya Semarang di mata publik.
Puncak Acara: Wali Kota Main Wayang
Puncak perayaan berlangsung pada Sabtu malam (18/7/2026) dengan pagelaran lakon “Wanita Tangguh: Wahyu Purbo Sejati”. Pertunjukan yang disutradarai Budi Lee, dengan penata tari Paminto Krisna dan penata karawitan Githunkswara ini, dimulai pukul 19.00 WIB.
Yang membuat malam itu istimewa adalah kehadiran Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, yang memerankan tokoh Sang Hyang Wenang. Peran sebagai penguasa kahyangan yang melambangkan kebijaksanaan dan keadilan ini dipilih secara simbolis untuk menunjukkan dukungan nyata pemerintah terhadap pelestarian seni tradisi. Melalui lakon tersebut, Ngesti Pandowo mengangkat tema ketangguhan perempuan sebagai poros moral di tengah pergulatan kekuasaan, menekankan bahwa kemenangan sejati lahir dari keteguhan hati, bukan kekuatan fisik.
Kolaborasi Lintas Generasi
Rangkaian acara ditutup pada Minggu (19/7) dengan pementasan seni kerakyatan, lanjutan workshop tari, serta kegiatan nonton bareng bersama Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra). Agenda penutup ini menegaskan komitmen Ngesti Pandowo untuk tetap terbuka dan kolaboratif.
Dengan menggabungkan pertunjukan artistik, edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan pelestarian sejarah, HUT ke-89 Ngesti Pandowo berhasil membuktikan bahwa seni tradisi tetap relevan dan memiliki daya hidup yang kuat ketika mampu beradaptasi dan bersinergi dengan seluruh lapisan masyarakat. (Christian Saputro)




