JAKARTA – Isu pelestarian satwa langka, konservasi keanekaragaman hayati, hingga pengendalian pencemaran industri menjadi pokok pembahasan dalam pertemuan delegasi Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences, China, dengan pimpinan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia di Kampus UI Salemba, Jakarta.
Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu menjadi langkah awal penjajakan kerja sama akademik antara kedua institusi, termasuk rencana penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di bidang riset lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dan pengendalian pencemaran.
Dalam diskusi, Direktur SPPB UI Prof. Supriatna menyinggung salah satu ikon satwa Tiongkok, yakni panda raksasa, dengan menanyakan bagaimana pemerintah China menjaga habitat alaminya sehingga spesies tersebut tetap lestari.
Namun, Presiden Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences, Cai Junxiong, menjelaskan bahwa Provinsi Hubei tidak memiliki habitat panda. Sebaliknya, wilayah tersebut menjadi rumah bagi salah satu satwa paling langka di China, yakni lumba-lumba air tawar Sungai Yangtze, yang populasinya terus mendapat perhatian serius pemerintah.
“Kami tidak memiliki habitat panda, tetapi kami memiliki habitat lumba-lumba air tawar yang hidup secara endemik di Sungai Yangtze, terutama di wilayah Yichang, Provinsi Hubei. Spesies ini hampir punah sehingga konservasi habitat menjadi prioritas pemerintah,” ujar Cai Junxiong.
Menurutnya, pemerintah Hubei terus memperkuat perlindungan kawasan habitat satwa tersebut melalui program konservasi yang terintegrasi dengan upaya menjaga keanekaragaman hayati di sepanjang aliran Sungai Yangtze.
Selain lumba-lumba air tawar, Hubei juga mengembangkan program perlindungan satwa langka lainnya, termasuk rusa dan monyet berbulu kuning, melalui pengelolaan habitat yang berkelanjutan.
Cai mengungkapkan, saat ini tercatat sekitar 1.024 ekor lumba-lumba air tawar hidup di sepanjang Sungai Yangtze. Sungai yang menjadi salah satu yang terpanjang di dunia itu juga menjadi lokasi Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam), proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia yang beroperasi sejak 2009.
Di luar konservasi satwa, Hubei Provincial Academy of Eco-environmental Sciences memiliki mandat luas dalam penelitian dan penyusunan kebijakan lingkungan. Lembaga tersebut aktif mengembangkan riset mengenai pengendalian polutan baru, pengelolaan limbah padat, pengelolaan bahan kimia berbahaya, serta strategi pembangunan industri hijau dan rendah karbon, khususnya pada sektor logam nonferrous daur ulang.
“Kunjungan kami ke SPPB UI bertujuan mendiskusikan pencegahan dan pengendalian pencemaran industri di kawasan tropis serta berbagai isu lingkungan lainnya. Kami juga sepakat untuk menyiapkan kerja sama melalui penandatanganan MoU dengan Universitas Indonesia,” kata Cai.
Delegasi Hubei yang seluruhnya berlatar belakang ilmu lingkungan terdiri atas Cai Junxiong, Liu Yougang, Zhu Yan, Liao Qi, Yi Chuan, dan Chen Liming.
Sementara dari pihak SPPB UI hadir Direktur Prof. Supriatna, Wakil Direktur Prof. Yon Machmudi, Jelang Ramadhan, S.IP., M.Si., Ph.D. selaku Special Staff GSSD, serta peneliti Leonora F. Waromi.
Dalam kesempatan itu, Cai juga memaparkan perkembangan pendidikan tinggi di Provinsi Hubei yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan dan riset di China. Provinsi tersebut memiliki lebih dari seratus perguruan tinggi, termasuk Wuhan University, dengan jumlah mahasiswa yang mencapai lebih dari satu juta orang secara keseluruhan.
Menurutnya, bidang ilmu lingkungan di Hubei telah berkembang lebih dari lima dekade dan didukung jaringan 21 pusat riset lingkungan yang berada di bawah otoritas Departemen Ekologi dan Lingkungan China.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk kolaborasi Indonesia–China dalam pengembangan ilmu lingkungan, konservasi keanekaragaman hayati, serta penyusunan kebijakan pembangunan berkelanjutan yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan di tingkat global. (Christian Saputro)




