SEMARANG – Pagelaran wayang orang kembali menjadi pusat perhatian budaya di Jawa Tengah. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89, Wayang Orang Ngesti Pandowo menggelar pertunjukan istimewa bertajuk “Wanita Tangguh: Wahyu Purba Sejati” pada Sabtu malam, 18 Juli 2026, di Teater Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Jawa Tengah, Semarang.
Yang membuat pementasan ini kian spesial adalah keterlibatan langsung Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, yang memerankan tokoh sentral Sang Hyang Wenang. Kehadiran kepala daerah di atas panggung seni tradisi ini dinilai sebagai simbol kuat komitmen pemerintah dalam merawat warisan budaya bangsa, sekaligus bentuk sinergi nyata antara birokrasi, seniman, dan masyarakat.
Perempuan sebagai Poros Moral
Lakon “Wanita Tangguh: Wahyu Purba Sejati” digarap oleh sutradara Budi Lee dengan penata tari Paminto Krisna dan penata karawitan Githunkswara. Berbeda dengan lakon-lakon klasik yang sering berpusat pada kejantanan para ksatria, kali ini Ngesti Pandowo menempatkan perempuan sebagai poros utama narasi.
Sutradara Budi Lee menjelaskan bahwa lakon ini merupakan tafsir artistik tentang makna “wahyu”. Menurutnya, wahyu sejati bukan sekadar legitimasi kekuasaan bagi mereka yang perkasa, melainkan cahaya kebijaksanaan yang hanya bersemayam pada jiwa yang tulus, rendah hati, dan berani menjaga kemanusiaan.
“Kami ingin mengajak penonton melihat kembali bahwa kekuatan terbesar tidak selalu lahir dari senjata, melainkan dari keteguhan hati. Perempuan dalam lakon ini digambarkan sebagai penyangga peradaban yang menghidupkan nilai kasih, kesetiaan, dan pengorbanan di tengah pergolakan ambisi kekuasaan,” ujar Budi Lee dalam keterangan persnya.
Melalui perpaduan tari, dialog, tembang, dan gamelan, pertunjukan ini menghadirkan perjalanan batin tokoh-tokoh perempuan yang tetap tegak menghadapi fitnah dan godaan duniawi. Ketangguhan mereka menjadi penyeimbang dunia, membimbing para ksatria kembali ke jalan dharma, serta menegaskan bahwa kemenangan sejati adalah menaklukkan hawa nafsu diri sendiri.
Sinergi Pemerintah dan Seniman
Ketua Wayang Orang Ngesti Pandowo, Djoko Muljono, menyatakan bahwa usia 89 tahun bukanlah sekadar angka, melainkan bukti ketahanan institusi seni dalam melewati berbagai tantangan zaman. Ia mengapresiasi dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah.
“Kehadiran Ibu Wali Kota sebagai Sang Hyang Wenang bukan sekadar penampilan simbolik. Ini adalah wujud nyata bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Ketika pemerintah hadir di tengah seniman, pesan bahwa tradisi harus hidup dan berkembang akan tersampaikan dengan lebih kuat kepada masyarakat,” kata Djoko.
Tokoh Sang Hyang Wenang yang diperankan Wali Kota Agustina digambarkan sebagai penguasa tertinggi kahyangan yang menjadi sumber kebijaksanaan dan penuntun jalan kebenaran. Peran ini dipilih secara strategis untuk merepresentasikan kepemimpinan yang adil dan berwibawa.
Harmoni Tradisi dan Kreativitas
Dari sisi artistik, penata tari Paminto Krisna berupaya merangkai koreografi yang tetap berpijak pada pakem wayang orang, namun terbuka terhadap pengembangan estetika agar relevan dengan penonton masa kini. Setiap gerak dirancang untuk menggambarkan karakter keteguhan dan kelembutan para tokoh wanita.
Hal serupa disampaikan penata karawitan Githunkswara. Ia menyusun komposisi gamelan yang tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi sebagai “bahasa rasa” yang membangun emosi penonton. “Setiap gending dipilih untuk mengiringi perubahan suasana, mulai dari kelembutan hingga ketegangan pergulatan batin, sehingga musik menyatu dengan jiwa pertunjukan,” jelasnya.
Akses Terbuka untuk Masyarakat
Pagelaran ini dibuka secara gratis untuk umum, meskipun dengan kuota kursi terbatas (limited seat). Bagi masyarakat yang tidak kebagian tempat duduk di dalam gedung, panitia menyediakan fasilitas live streaming di area luar teater agar seluruh lapisan masyarakat tetap dapat menikmati pertunjukan.
Ngesti Pandowo, yang telah berdiri sejak 1937, terus membuktikan dirinya sebagai ikon seni pertunjukan Semarang. Melalui perayaan HUT ke-89 ini, mereka berharap dapat memperkuat kecintaan lintas generasi terhadap wayang orang, sekaligus menegaskan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang beku, melainkan warisan hidup yang terus bertumbuh seiring dinamika zaman.
Pertunjukan dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, mengundang publik untuk tidak hanya menonton, tetapi juga meresapi tuntunan nilai-nilai luhur kebangsaan yang terkandung di dalamnya. (Christian Saputro)




