Pameran Lukisan “Langkah Kecil” Giovanni Susanto Digelar

Pelukis sènior Atie Krixna Sarutomo membuka pameran tunggal "Langkah Kecil" Giovanni secara simbolis dengan menggoreskan cat Pada kanvas di Los Coffe, Semarang, Kamis (01/09/2022) (Foto : Agus Budi Santoso)

Semarang – Dua puluh lukisan bergaya surialisme berukuran besar dan kecil karya Giovanni Susanto ditaja di Los Kopi, Barber & Coffeshop , Pekunden Utara 556, Semarang, Pameran bertauk : “Langkah Kecil’ di buka pelukis senior Semarang Atie Krisna Sarutomo., Kamis (01/09/2022) dan akan berlangsung hingga 14 September 2022.

Dalam sambutannya, Atie Krisna mengatakan sangat bangga dan mengapresiasi pameran tunggal yang digelar Giovanni. Menurut Atie ini merupakan sebuah langkah positif tanda penanda jejak sekaligus bukti eksis tensi seorang seniman .

Pengamat Seni Rupa Christian Heru Saputro menyampaikan pengantar apresiasi pada pembukaan Pameran “Langkah Kecil”, di Los Coffe, Semarang, Kamis, (01/09/2022). (Agus Budi Santoso)

“Saya sangat salut dengan Giovanni dan kawan-kawan yang tergabung dalam Kelompok 5 Rupa yang terus bergerak menggelar berpameran baik bersama dan tunggal. Diakuinya gerakan Gio dan Kelompok 5 Rupa memberi energi positif dan memantik semangat perupa lainnya untuk berkarya dan berpameran tak hanya di Kota Semarang, tetapi juga daerah-daerah lainnya,” ujar Atie mengapresiasi.
Manager Los Kopi Isme menyambut baik gelaran pameran “Langkah Kecil”. Dikatakannya kolaborasi ini merupakan sebuah langkah bersama untuk kemajuan dunia seni rupa Semarang. ” Saya dari Los Kopi senang bisa kolaborasi dengan mas Giovanni.Semoga nan tinya bisa berlanjut dengan yang lainnya,” pungkas Ismi.
Giovanni mengatakan, pameran tunggal ini merupakan sebuah “Langkah Kecil” penanda etape perjalanannya di jagad seni rupa. Gio mengaku melukis secara serius sejak tahun 2015. Dalam pameran ini Gio menaja 20 karya bertitimangsa 2021 – 2022 yaitu; Dream on, Suka sama suka, Sedang ingin bercinta, Tegar, Dalam sunyi, Menanti Jawaban, Diperkuda, I wanna go home, Engkau masih kekasihku, Kesetiaan Cinta, .Hapines. .I believe i can fly, .Sandiwara Cinta, .House for Sale, Cinta & Kesetiaan, Jauh dari buah hati, .Masih Tersisa Cinta, Free. Dalam Sunyi#2 danNaga Mencari Cinta.

Baca Juga :  Mozaik Perang Kembang, Kecamuk Perang Batin di Panggung Kehidupan

Gio mengaku yang terpantik kembali semangat melukisnya ketika bergabung dengan Kelompok 5 Rupa ini menuangkan imajinasinya kebanyakan ke media acriyc on canvas (AOC

“Aku hanya ingin menerima ketidaksempurnaanku. Karena aku sendiri ditolak karena ketidaksempurnaanku. Aku tidak berpikir untuk mengubah dunia.Aku hanya ingin mengubah diriku sendiri dengan langkah kecilku.” tandas Gio..

Baca Juga :  Goenarso Siap Taja Pameran Tunggal : “Satoe” di TAN Artspace Semarang

Gio membabarkan, melukis baginya sebagai keseimbangan. Karena obyek kebanyakan alam nyata nan indah. Gio hanya ingin memilih jalan beda. Pasalnya, tidak adil jika semua orang hanya menyukai keindahan. Sementara yang dianggap “tidak indah” jarang dilihat.

Begitu juga dalam kehidupan, manusia cenderung hanya mendekat, melihat, mengapresiasi yang bagus, indah, megah, kaya, ganteng dan cantik –yang tidak sempurna — cenderung dijauhi.

“Lewat dunia lukis aku bisa bisa menyampaikan pemikiran-pemikirannya tentang berbagai sendi kehidupan seperti; politik, lingkungan, perekonomian , kemanusian dan cinta,” imbuh Gio.

Padahal dari sisi lain ketidaksempurnaan bisa menjadi keindahan tersendiri. Jika kita dapat menerima dari sudut pandang yang berbeda. Maka Gio menerima ketidaksempurnaan sebagai langkah kecilku.

Baca Juga :  DAAL Siap Gelar Workshop Penciptaan Tari & Musik Bertajuk LAPAH

“Aku hanya ingin menerima ketidaksempurnaanku. Karena aku sendiri ditolak karena ketidaksempurnaanku. Aku tidak berpikir untuk mengubah dunia. Aku hanya ingin mengubah diriku sendiri dengan langkah kecilku.” tandas Gio yakin..

Sementara, pengamat seni rupa Christian Heru Cahyo Saputro, dalam pengantarnya mengatakan, Gio pelukis yang memiliki bahasa visual alam fantasi ini mengugemi surealisme. Gio melukis dalam langgam surealisme, tetapi aliran yang diusungnya agak beda dari pelukis penekun aliran yang sama.

Idiom surealisme Gio cenderung “gelap”, “mistis” dan “kelam”, tetapi surealisme. Gio menawarkan bahasa visual yang lain. Orang juga banyak yang menyebut ragam karyanya dekoratif. Gio sendiri tak pernah mempersoalkannya, karena baginya dunia lukis merupakan jalan dan media tempatnya mengekspresikan diri.

Gelaran pameran tunggal “Langkah Kecil” Gio ini sebagai penanda kiprahnya jejaknya di dunia seni rupa sekaligus penanda “keseriusannya’ juga bukti komitmennya untuk intens serta konsisten menjalani langkahnya.

(Christian Saputro)