SEMARANG — Spanduk bertuliskan Welcome to Terminal Petikemas Semarang menyambut rombongan Perkumpulan Pengusaha Indonesia Tionghoa (PERPIT) Pemuda Jawa Tengah saat memasuki kawasan Terminal Petikemas Semarang di area Pelabuhan Tanjung Emas, Kamis (13/2/2026). Kunjungan ini menjadi ruang dialog terbuka antara pelaku usaha muda Tionghoa dan pengelola pelabuhan terkait kinerja terminal, tantangan dwelling time, serta lonjakan arus industri di Jawa Tengah.
Rombongan diterima manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang diwakili Joko Budianto, membawahi bidang Komersial Sistem Manajemen dan Terminal Petikemas Semarang sebagai bagian dari subholding operasional kepelabuhanan.
Ketua rombongan, Novi Sofyan, mengatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut komunikasi sebelumnya sekaligus menjawab antusiasme anggota yang ingin memahami sistem operasional terminal secara langsung.
“Kami ingin melihat bagaimana sistem di Terminal Petikemas Semarang berjalan. Dari sisi kontrol dan digitalisasinya sudah sangat maju. Ini penting agar pelaku usaha memahami alur logistik dan tantangannya,” ujarnya.
Dalam pemaparan, manajemen menjelaskan seluruh peti kemas yang masuk dan keluar wajib melalui gate system terintegrasi yang dilengkapi CCTV, jembatan timbang, serta sistem digital untuk memastikan transparansi dan efisiensi. Sistem tersebut menjadi tulang punggung pengawasan arus barang, mulai dari kedatangan truk hingga proses bongkar muat di lapangan penumpukan.
Namun demikian, persoalan dwelling time—lamanya kontainer berada di terminal—masih menjadi perhatian. Jika di Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak telah diterapkan pembatasan maksimal tiga hari sejak era Presiden Joko Widodo, rata-rata dwelling time di Tanjung Emas masih berada di kisaran delapan hari.
Manajemen menjelaskan, belum adanya regulasi pembatasan serupa serta keterbatasan Tempat Penimbunan Sementara (TPS) di luar area terminal membuat percepatan arus barang belum optimal.
Penumpukan kontainer berdampak langsung pada produktivitas bongkar muat dan efisiensi rantai pasok.
Sebagai langkah mitigasi, pihak terminal bersama asosiasi telah menyepakati pemindahan kontainer yang berada lebih dari 10 hari ke area lini dua di dalam kawasan pelabuhan untuk mengurangi kepadatan di lapangan utama.
“Semakin cepat kontainer keluar dari pelabuhan, semakin baik bagi kinerja terminal dan dunia usaha. Turnover meningkat, risiko operasional berkurang,” jelas Joko.
Di sisi lain, pertumbuhan arus peti kemas di Semarang menunjukkan tren signifikan. Dalam kurun 2023–2025, kenaikan mencapai sekitar 30 persen, jauh melampaui proyeksi tahunan 3–5 persen. Lonjakan tersebut didorong relokasi industri dan tumbuhnya kawasan industri baru di Jawa Tengah yang sebagian besar telah terisi dan bersiap beroperasi.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Terminal Petikemas dan Terminal Penumpang di kawasan pelabuhan. Para peserta menyaksikan langsung aktivitas bongkar muat, sistem pengawasan lapangan, hingga fasilitas dermaga kapal pesiar yang melayani penumpang.
Kunjungan tersebut memberi gambaran nyata mengenai skala operasional pelabuhan sekaligus memperkuat pemahaman pelaku usaha terhadap tantangan dan peluang pengembangan logistik di Semarang.
Dengan pertumbuhan industri yang terus meningkat, Terminal Petikemas Semarang dinilai berada pada posisi strategis sebagai simpul logistik utama Jawa Tengah. Tantangannya kini terletak pada percepatan regulasi, penguatan infrastruktur lini dua, serta kolaborasi erat antara regulator, operator, dan pelaku usaha agar momentum pertumbuhan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
(Christian Saputro)




