Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Pengamat Seni Rupa tinggal di Semarang
Di mata Yoyok Barokallah, sosok Ko Pho—atau yang akrab disapa Ko Poo—bukan sekadar pelukis. Ia adalah sebuah “ruang hidup”, tempat seni, laku batin, dan keseharian melebur tanpa sekat. Bersamanya, melukis tidak pernah berdiri sebagai aktivitas terpisah, melainkan hadir sebagai bagian dari napas itu sendiri—mengalir, sederhana, dan tak dibuat-buat.
Bagi Yoyok, pengalaman menjadi murid Ko Pho bukanlah perjalanan akademik yang dipenuhi teori dan metode. Tidak ada pelajaran tentang komposisi warna yang rumit, tidak pula uraian panjang tentang perspektif atau anatomi. Ko Pho tidak mengajar dalam arti konvensional. Ia tidak berdiri di depan, memberi instruksi, lalu menilai hasil. Ia justru berjalan di samping—atau bahkan di belakang—membiarkan muridnya menemukan sendiri jalannya.
Yang diajarkan Ko Pho, menurut Yoyok, adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara melihat. Namun “melihat” dalam pengertian Ko Pho bukanlah sekadar aktivitas visual. Melihat adalah merasakan, menyerap, dan membiarkan dunia masuk ke dalam diri tanpa prasangka. Dalam proses itu, mata hanyalah pintu; yang bekerja sesungguhnya adalah batin.
“Melihat itu bukan sekadar memandang,” begitu kira-kira yang tertinggal dalam ingatan Yoyok.
“Melihat adalah merasakan.” Dari titik inilah, lukisan-lukisan Ko Pho menemukan bentuknya. Ia tidak lahir dari teknik yang dipaksakan, melainkan dari kepekaan yang tumbuh perlahan—seperti embun yang mengendap tanpa suara.
Kenangan Yoyok tentang gurunya sering kali hadir dalam fragmen-fragmen sederhana: sebuah sudut ruang yang seadanya, sapuan kuas yang nyaris tanpa persiapan, atau selembar media yang bisa apa saja—tak harus kanvas mahal. Ko Pho melukis dalam kesederhanaan yang nyaris asketis. Baginya, medium bukanlah batas, melainkan kemungkinan. Ia bisa melukis di mana saja, dengan apa saja, selama ada kejujuran rasa.
Dalam banyak kesempatan, Ko Pho lebih memilih diam. Ia tidak banyak menjelaskan, tidak pula merasa perlu mengurai makna dari setiap goresan. Namun justru dalam diam itulah Yoyok menemukan pelajaran paling dalam. Ada semacam kebijaksanaan yang tak terucap—bahwa seni tidak selalu membutuhkan bahasa. Ia cukup dijalani, dihidupi, dan dibiarkan berbicara dengan caranya sendiri.
Sebagai murid, Yoyok tidak pernah merasa diarahkan untuk menjadi “versi lain” dari gurunya. Ko Pho tidak pernah mencetak pengikut. Ia justru menolak reproduksi gaya. Dalam pandangannya, meniru adalah bentuk kegagalan paling halus dalam berkesenian. “Kalau lukisanmu mirip saya, berarti kamu gagal,” begitu prinsip yang diyakini Yoyok dari sosok yang ia hormati itu.
Sikap ini, bagi Yoyok, bukan sekadar soal estetika, melainkan soal kebebasan. Ko Pho membuka ruang bagi setiap individu untuk menemukan suaranya sendiri. Ia tidak memberikan jawaban, melainkan memantik pertanyaan. Ia tidak menawarkan bentuk, melainkan membiarkan bentuk itu lahir dari dalam diri masing-masing.
Namun yang paling membekas dalam ingatan Yoyok bukanlah ajaran teknis atau pendekatan artistik, melainkan sikap hidup yang dijalani Ko Pho sehari-hari. Ia adalah teladan tentang kerendahan hati dalam berkesenian. Dalam dunia yang kerap dipenuhi ambisi, pameran, dan pengakuan, Ko Pho memilih jalan yang sepi. Ia melukis bukan untuk pasar, bukan pula untuk legitimasi.
Melukis, bagi Ko Pho, adalah cara hidup. Ia hadir sebagaimana seseorang bernapas—tanpa perlu alasan, tanpa perlu tujuan eksternal. Dalam kesederhanaan itu, Yoyok melihat sesuatu yang melampaui kategori “pelukis”. Ko Pho adalah seorang laku seni: seseorang yang tidak hanya mencipta karya, tetapi juga menjadikan hidupnya sendiri sebagai kanvas.
Di tengah dunia seni yang riuh—dengan galeri, kurator, dan hiruk-pikuk apresiasi—Ko Pho berdiri sebagai penanda sunyi. Ia memilih jalur yang nyaris tak terdengar, tetapi justru di situlah kekuatannya bersemayam. Ia mengajarkan bahwa nilai sebuah karya tidak selalu terletak pada seberapa luas ia dikenal, melainkan pada seberapa jujur ia dilahirkan.
Bagi Yoyok Barokallah, menjadi murid Ko Pho bukanlah tentang mewarisi gaya atau teknik. Itu adalah proses mewarisi cara hidup: setia pada proses, rendah hati pada karya, dan percaya bahwa seni sejati selalu berangkat dari keheningan batin.
Dan mungkin, di situlah warisan paling penting dari Ko Pho—bukan pada lukisan-lukisan yang ia tinggalkan, melainkan pada cara ia mengajarkan bahwa seni, pada akhirnya, adalah perjalanan pulang ke dalam diri. (Christian Saputro)




