Perluas Kedaulatan Teknologi, KOPITU Bawa UMKM Masuk ke Metaverse

SumateraPost – Teknologi Augmented Reality, Virtual Reality dan Artificial Intelligence yang dikombinasikan menjadi sebuah tatanan dunia virtual yang baru telah menjadi sebuah bom waktu yang akan segera meledak dan meluas, memaksa masyarakat untuk dapat segera beradaptasi dan menerima perubahan yang kemungkinan terjadi. Salah satu efek yang akan sangat terasa adalah perubahan kembali pola ekosistem bisnis dan perdagangan digital menuju sebuah dunia yang dipadukan antara dunia nyata dan dunia maya. Metaverse khususnya, telah menjadi media perdagangan digital bersifat virtual yang banyak digunakan oleh berbagai pelaku bisnis di seluruh penjuru dunia.

“Di sana terdapat pasar yang luar biasa besar, sangat eksklusif, dan juga sangat bisa kita masuki. Para big guns seperti Meta, Microsoft, Google dan sejenisnya sudah menciptakan keniscayaan yang harus kita semua ikuti. Kita harus inisiatif melakukan persiapan lebih awal, khususnya para UKM agar dapat memperoleh manfaat pasar segera”, ungkap Yoyok Pitoyo dalam webinar KOPITU, pada Selasa (25/1).

Baca Juga :  Halal Bi Halal Karyawan Marifood Berlangsung Meriah

Turut hadir dalam webinar tersebut diantaranya Deny Wachyudi Kurnia selaku Konjen RI Shanghai mewakili Dubes Djauhari Oratmangun, Ibu Ina dari Dinas Koperasi dan UKM Perindustrian mewakili Gibran Rakabuming Raka selaku Walikota Solo, Dwi Andriani Sulistyowati selaku Asisten Deputi Pengembangan SDM UKM Kementerian Koperasi dan UKM, Christine Gunadi selaku CEO PT Global Digital Indonesia, Michael Budi selaku CEO WIR Group dan Ketua Umum KOPITU Yoyok Pitoyo.

Menurut Deny Wachyudi, Indonesia perlu “ngebut” dalam mempersiapkan segala sisi dalam perkembangan suatu peradaban yang baru. Berkaca dari Tiongkok, setiap negara yang tertinggal pasti akan cenderung meniru hal-hal yang dilakukan oleh negara-negara yang lebih terdepan. “Salah satu aspek penting Metaverse yang sangat berkembang di Tiongkok adalah gaming industry, dan menjadi nomor satu di dunia”, ungkap Deny.

“Saya mengakui adanya Platform Metaverse sebagai sebuah media dalam mempromosikan produk UKM. Dalam momentum KTT G20, Metaverse bisa menghilangkan batasan geografis sehingga dapat menampung banyak pengguna dari negara-negara G20. Peluang ini perlu ditangkap cepat, mengingat Indonesia merupakan tuan rumah dalam G20 tahun ini”, ungkap Ina.

Baca Juga :  Ekonomi Semakin Membaik, Sektor Ekonomi Terdampak Covid-19 Mulai Bangkit Menyerap Kredit

“Saya mengapresiasi kepada KOPITU yang menyelenggarakan webinar ini untuk terus mendukung transformasi digital UMKM. Perlu ada ragam strategi yang disiapkan agar bisa tetap exist dalam perubahan. Salah satu keuntungan terbesarnya adalah kita bisa menyasar konsumen secara lebih spesifik”, ungkap Andriani.

“Kita sangat sadar perlunya UKM Indonesia untuk segera masuk ke dalam dunia digital virtual. Dengan adanya urgensi itu, maka perkembangan infrastruktur yang lebih cepat akan sangat mendukung percepatan penyerapan teknologi. Khususnya, bagaimana menyediakan akses ke teknologi yang murah, mudah dan meluas”, ungkap Christine. “Kita sangat mendukung dan oleh karena itu, bersama KOPITU kita menyediakan sebanyak 50 spot virtual kepada binaan KOPITU agar para UKM akan punya gambaran mengenai dunia virtual ini”. tambahnya.

Menurut Michael Budi, perkembangan AR, VR dan AI sebenarnya sudah berjalan sejak tahun 2013. Hanya saja masih perlu banyak tahap-tahap yang dilewati agar teknologi tersebut benar-benar bisa diimplementasikan secara nyata. “Sebagai salah satu garis depan pengembang teknologi di Indonesia, kami sangat banyak menerima permintaan untuk menciptakan sebuah Marketplace di dalam Metaverse. Dari sini, kita sama-sama bisa lihat arah perkembangan teknologi yang akan datang. Untuk itu kita semua harus siap”, tutur Michael.

Baca Juga :  Halal Bi Halal Karyawan Marifood Berlangsung Meriah

“Kami menyelenggarakan Outreach Group SMEs20 dan ada beberapa side event yang terkait. Untuk itu kami juga mengharapkan akan ada dukungan dari berbagai stake holder terkait”, tambah Yoyok.

“Siap pak, kita siap support. Nanti akan bisa kita bicarakan bagaimana strategi pengembangan ke depan yang sesuai untuk UMKM”, ungkap Michael.

Christine menambahkan bahwa pengembangan teknologi ke depan harus memperhatikan aspek aksesbilitas yang meluas. Contohnya harga perangkat tambahan yang terjangkau, dapat diakses dengan perangkat yang sudah ada dan seadanya, tanpa memerlukan spesifikasi yang teramat tinggi dan rumit.