Presidensi G20 Indonesia Tekankan Langkah Konkret Rehabilitasi Lahan Gambut

Mahasiswa peduli lingkungan bekerjasama dengan Forum Pintar Untuk Lingkungan Sekitar (RUMPUT LIAR) menanam bibit mangrove di Desa Lambadek, kabupaten Aceh Besar, Aceh, Minggu (7/8/2022). Badan Restorasi Gambut dan Manggrove (BRGM) akan segera memulai rehabilitasi mangrove tahun 2022 setelah pemerintah menyetujui anggaran belanja tambahan (ABT) untuk lahan seluas 3.548 hektare. (ANTARA FOTO)

Jakarta – Keberhasilan Indonesia dalam melakukan rehabilitasi mangrove menarik banyak negara anggota G20 membantu percepatannya.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dyah Murtiningsih, saat ditemui di sela-sela workshop G20 Environment Deputy Meeting Climate Sustainibility Working Group (EDM-CSWG), Rabu (10/8/2022).

“Dengan komitmen Indonesia yang besar, banyak negara yang mulai berkomitmen untuk membantu Indonesia dari negara-negara, komunitas internasional. mereka tidak ragu lagi untuk memberikan bantuan. Tinggal Indonesia yang menyiapkannya,” kata Dyah.
Ia mengungkapkan, sejumlah negara yang sudah memiliki komitmen untuk membantu Indonesia dalam merehabilitasi mangrove ialah Wolrd Bank, Jepang, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kore dan Jerman.

Baca Juga :  Bertekad Wujudkan Ketahanan Pangan, Kementan Gandeng Petani Milenial

Bantuan itu, dikatakan Dyah, akan diberikan kepada Indonesia dalam bentuk sumbangan dana. Namun, prospek kerja sama itu masih perlu dibicarakan lebih lanjut.
Ia memastikan, Indonesia sebagai negara kepulauan terbsesar yang memiliki luas ekosistem mangrove terbesar dengan total 3,36 juta hektare atau sekitar 22% dunia memiliki komitmen untuk melakukan konservasi, perlindungan dan rehabilitasi mangrove.

Deputi Perencanaan dan Evaluasi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Satyawan Pudyatmoko menyatakan, presidensi G20 Indonesia menekankan langkah-langkah konkret anggota G20 untuk mendukung inisiatif global tentang reducing land degradation and enhancing conservation of terrestrial habitats dengan secara aktif berkontribusi pada pencegahan dan pengurangan lahan degradasi hingga 50% pada 2040.
“Indonesia ingin menunjukan bahwa apa yang sudah disampaikan Presiden di COP-26 di Glasgow tidak sekadar ucapan atau janji kosong belaka. Kita ingin menunjukan komitmen itu yang pertama dengan tadi komitmen untuk merehabilitasi 600 ribu hektare.

Baca Juga :  Bertekad Wujudkan Ketahanan Pangan, Kementan Gandeng Petani Milenial

Ini tentu bukan suatu perkara kecil tapi menunjukan kepada dunia segini besarnya komitmen Indonesia,” kata Satyawan.
Indonesia akan memamerkan keberhasilan rehabilitasi mangrove di Taman Hutan Rakyat Ngurah Rai Bali kepada negara-negara anggota G20. “Itu tadinya bekas tambak yang bisa direhabilitasi lagi menjadi mangrove yang sangat bagus.

Artinya Indonesia ingin memberikan lesson learn bahwa tambak pun bisa diperbaiki lagi asal ada komitmen,” ucap Satyawan.
“Indonesia ingin menggalang komitmen dari berbagai negara, mari kita bersama memperbaiki mangrove, tidak hanya di Indonesia tapi juga di negara lain yang memang perlu direhabilitasi,” pungkas dia. (*)

Baca Juga :  Tragedi Kanjuruhan, PSSI dan PT LIB Harus Bertanggung Jawab

***