YOGYAKARTA — Di tengah ritme hidup yang kian dipercepat oleh banjir informasi dan tuntutan produktivitas tanpa jeda, seniman kontemporer R. Wisnu D menghadirkan pameran tunggal bertajuk “Salire” sebagai ruang jeda dan refleksi. Pameran ini akan digelar di Jogja Gallery, Jl. Pekapalan No. 7, Alun-Alun Utara, Yogyakarta, mulai 9 Februari hingga 5 Maret 2026, dan dibuka untuk umum setiap hari pukul 11.00–18.00 WIB.
“Salire” hadir sebagai respons artistik atas apa yang disebut sebagai krisis refleksi, yakni kondisi ketika manusia terus bergerak maju tanpa sempat menengok, memahami, dan merawat ingatan yang terfragmentasi. Dalam pameran ini, Wisnu tidak hanya menampilkan karya lukis, tetapi juga merangkainya dengan teks prosa dan eksperimen audio menjadi satu kesatuan instalasi multimedia.
Kurator pameran, Sudjud Dartanto, menilai “Salire” sebagai format pameran tunggal yang tidak lazim. Menurutnya, Wisnu membangun pameran sebagai sebuah peristiwa artistik, bukan sekadar pajangan visual.
“Ini adalah Expansionist Concept-Driven Solo Exhibition. Satu nukleus ide diekspansi secara padat ke dalam lukisan, audio, dan teks. Wisnu tidak menyuguhkan karya untuk dilihat, tetapi menciptakan pengalaman sensorik yang mengajak audiens berhenti dan merefleksikan kehisingan informasi,” ujar Sudjud.
Sudjud menambahkan, pendekatan Wisnu merepresentasikan generasi seniman yang lahir dari budaya silang media (inter-crossing media culture), sehingga presentasi karyanya menawarkan kejutan sekaligus kedalaman konseptual.
Dalam proses kreatifnya, R. Wisnu D menggunakan metode yang ia sebut “Undo & Redo”, sebuah pendekatan yang merepresentasikan cara manusia terus merevisi masa lalu sebelum melangkah ke masa depan. Judul “Salire” — yang berasal dari bahasa Latin berarti melompat — menjadi metafora bagi ingatan yang tidak pernah hadir secara linier.
“Ingatan tidak pernah utuh. Ia hadir dalam potongan-potongan, melompat, diulang, dan direvisi. Karya-karya saya mencoba menyediakan ruang visual bagi memori yang terus mengalami undo dan redo, hingga menemukan keseimbangannya sendiri,” ungkap Wisnu.
Perupa Dwipo Hadi menyoroti posisi Wisnu sebagai seniman independen dengan daya kritis yang kuat. Ia menilai, di balik visual karya yang tampak tenang, tersimpan kritik dan satire yang tajam.
“Bahasa artistik R. Wisnu D tidak gampangan. Ia menghadirkan keanggunan sekaligus kritik. Suguhannya terasa seperlunya, namun audiens perlu bersiap—apakah akan menikmati hidangan visual yang nikmat atau justru ‘terbakar’ oleh logika yang disodorkan,” tulis Dwipo.
Sementara itu, mewakili manajemen, eRno Nyaman menegaskan bahwa “Salire” menjadi momentum penting bagi penguatan ekosistem seni lintas disiplin di Yogyakarta.
“Ini bukan sekadar pameran, melainkan investasi pengalaman estetika. Kami mengundang publik dan media untuk menyaksikan bagaimana R. Wisnu D menerjemahkan kompleksitas memori manusia ke dalam bahasa visual yang relevan dengan konteks global dan lokal,” ujarnya.
R. Wisnu D dikenal sebagai seniman Impressionist–Concept Driven yang menempuh jalur kreatif mandiri melalui riset literatur serta observasi museum di Asia, Amerika, dan Eropa. Karyanya memadukan teknik klasik Barat dengan sensibilitas Nusantara, dengan fokus pada tema psikologi dan memori manusia.
Pameran “Salire” terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi selama periode pameran di Jogja Gallery. (Christian Saputro)




