SEMARANG, SUMATERAPOST — Semangat seni inklusif kembali bergema dari Kota Semarang. Founder Roemah Difabel Indonesia (Roemah D), Noviana Dibyantari, menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan pameran seni rupa “Liberté d’Inclusion” yang digelar melalui kolaborasi bersama Alliance Française Semarang.
Noviana menegaskan, keberhasilan pameran tersebut merupakan buah dari kerja kolektif dan sinergi lintas komunitas. Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty, atas komitmen membuka ruang budaya yang inklusif dan ramah bagi perupa difabel.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa ketika ruang budaya dibuka selebar-lebarnya untuk semua kalangan, karya-karya luar biasa akan lahir. Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang telah diberikan,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan kepada mentor Giovanni yang konsisten mendampingi para seniman sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan pameran. Tak lupa, Christian Heru Cahyo Saputro selaku koordinator pelaksana sekaligus kurator turut mendapat penghargaan atas perannya merancang konsep pameran yang kuat secara visual dan pesan sosial.
Menurut Noviana, kurasi yang matang menjadikan “Liberté d’Inclusion” bukan sekadar pameran seni, tetapi juga ruang refleksi tentang kesetaraan dan akses yang adil dalam dunia kebudayaan.
Asah Keterampilan Lewat Pelatihan Cetak Grafis
Semangat inklusi itu tidak berhenti pada pameran. Di lokasi yang sama, digelar Pelatihan Cetak Grafis Tingkat Tinggi dengan menghadirkan dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Singgih Adhy Prasetyo, S.Sn., M.Pd.
Pelatihan ini diikuti seniman dan peserta dari komunitas difabel. Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan pada teknik cetak grafis tingkat lanjut, mulai dari persiapan media, eksplorasi komposisi, hingga teknik pencetakan presisi. Suasana berlangsung interaktif, dengan diskusi dan praktik langsung yang membangun kepercayaan diri peserta.
Sebelum kegiatan dimulai, panitia dan peserta bersama-sama melakukan penataan ruang kerja (clear area) guna memastikan keamanan dan kenyamanan selama proses berkarya.
Kultum Kebersamaan Warnai Buka Puasa
Rangkaian kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama keluarga besar Roemah D sebagai ungkapan syukur atas suksesnya pameran. Menjelang waktu berbuka, Muhammad Hilal Huda menyampaikan kultum bertema “Indahnya Kebersamaan”.
Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan momentum memperkuat empati dan persaudaraan. Suasana hangat terasa saat doa dipanjatkan dan peserta menikmati hidangan berbuka bersama.
Kegiatan ini menegaskan bahwa seni bukan hanya medium ekspresi, tetapi juga jembatan inklusi yang menyatukan berbagai latar belakang. Dari Semarang, pesan tentang pentingnya kolaborasi dan kesetaraan dalam dunia seni terus mengalir, memberi inspirasi bagi gerakan serupa di berbagai daerah, termasuk Sumatera. (Christian Saputro)




